Holla Fiola

Holla Fiola Balarea

Senin, 03 Oktober 2011

Keluarga Cangor


Keluarga C.A.N.G.O.R (part 1)
by Yuli Nurhati on Friday, July 22, 2011 at 6:46pm
Memiliki anak asuh yang sudah remaja bukan perkara gampang. Satu saja sulit apalagi enam. Meski demikian Umi tak pantang menyerah. Setiap masalah dihadapinya dengan berpikir jernih dan memikirkan kebaikan untuk semua. Umi selalu menekankan pada anak-anak asuhnya agar tidak sombong dan bertenggang rasa. Motto hidupnya-- "jika kau tak bisa melawan arus maka ikutilah kemana arus mengalir sambil berpegangan pada pohon yang kokoh"-- selalu ia camkan pada anak-anaknya. Sekalipun hidupnya tak mudah dan kisah cintanya berakhir menyedihkan Umi selalu terhibur dengan cerita-cerita konyol anak-anak asuhnya.
Namun ada beberapa hal yang memngganggu pikiran umi beberapa hari terakhir ini,  anaknya yang bernama Caesar--sang atlet-- terjebak urusan pelik dengan pacarnya. Umi sudah memberikan berbagai saran tapi Caesar tampak belum memiliki keberanian untuk memutuskan. Hal ini membuat Umi tak bisa tidur nyenyak. Dalam tidurnya Umi sering memimpikan Caesar menangis. Seandainya Umi tak memikirkan perasaan Caesar mungkin sudah sejak lama ia meminta Caesar untuk memutuskan pacarnya.
Hati Umi tersayat-sayat melihat kesedihan yang menaungi wajah Caesar. Dari luar mungkin Caesar terlihat bahagia tapi jauh di lubuk hatinya tersimpan luka yang dalam. Caesar selalu menyembunyikan kesedihannya. Hal itulah yang membuat Umi tak bisa tegas padanya untuk urusan cinta. Umi takut membuat Caesar frustasi. Umi ingin Caesar sendiri yang memilih jalan terbaik untuk masalah percintaannya, agar dikemudian hari Caesar tak menyesal. Umi bukanlah orang yang egois sehingga dengan seenaknya menghalang-halangi atau menyuruh-nyuruh anaknya untuk melakukan sesuatu.
Tak beda jauh dengan Caesar, Ragil--anak asuh Umi yang kedua, sang vokalis-- memiliki masalah yang sama. Terjerat keputusannya sendiri membuat Ragil yang biasanya super heboh berubah drastis. Dia lebih banyak merenung, memandangi handphone atau bengong. Ah benar-benar menyedihkan. Padanya Umi bersikap sedikit lebih tegas. Perasaan Ragil belum terlibat cukup jauh dengan pacarnya, sehingga dia akan lebih mudah untuk memutuskan. Namun tetap saja tak semudah membalikkan tangan. Dia terjebak di antara keinginan untuk memiliki dan tak ingin menyakiti hati.
Heum,,, sepertinya keluarga C.A.N.G.O.R memang tengah dirundung masalah. Omesh--sang Musisi dalam keluarga--sedang bergulat dengan perasaannya. Dia membutuhkan seseorang untuk memberinya motivasi. Dia berharap GirlY lah yang menjadi motivator untuknya. Sayangnya sekalipun GirlY akan sangat senang untuk mewujudkan keinginan Omesh, GirlY sendiri sudah terikat janji pada seseorang. Mereka akhirnya hanya bisa saling menatap dalam diam.
Umi bisa bernafas sedikit lega bila memikirkan Atra--sang aktivis-- karena dia jauh lebih tangguh dari audara-saudara perempuannya. Atra menghabiskan lebih banyak waktu untuk berorganisasi daripada mengurusi masalah cinta. Meski begitu Atra memiliki dilema tersendiri. Dia jatuh cinta pada pria yang tak memahami perasaannya sendiri.
Kalau saudara-saudaranya terjebak perasaan mereka sendiri, Nunna--reflika sifat umi-- justru sedang menimbang-nimbang antara punya pacar dan tidak. Mungkin dia lelah melihat kelima saudaranya yang terjebak perasaan mereka.
"Umi mau menghilang untuk sejenak, jangan cari Umi. Jangan lupa belajar, sebentar lagi ujian. Caesar jangan tidur malam-malam nanti mengantuk di sekolah. Ragil  jangan lupa sholat. Omesh, selama Umi masih ada jangan takut kehilangan motivator. Atra, tarik nafas sejenak jangan sampai tumbeng karena kecapean. GirlY, tiitip saudara-saudara lelakimu, mereka memang cukup merepotkan kalau sudah bercanda. Nunna, jangan beritahu dulu saudara-saudara tentang pembicaraan kita mengenai  'piano di etalase toko anak-anak' ... ssstttt... nanti mereka nanti mereka sibuk menerka-nerka."   Umi mengirim sms pada anak-anaknya. Dia memasukkan beberapa baju ke dalam tasnya lalu pergi ke suatu tempat.

Keluarga C.A.N.G.O.R (part 2)
by Yuli Nurhati on Wednesday, July 27, 2011 at 9:03pm
Heum... ceritanya mau menghilang ternyata tetap menerima sms. Umi tersenyum-senyum sendiri. Sekesal apapun umi tak bisa melepas anak-anaknya begitu saja. Saat di bus dia malah sms-an dengan Caesar. Dia juga mengirim sms pada Nunna dan Atra. Umi benar-benar payah, pantas saja kalau anak-anaknya juga begitu.
Sepanjang perjalanan menuju Bandung, kenangan-kenangan masa lalu memenuhi benak umi. Pertama masuk kuliah, mengenal internet, dkecewakan pria, bertemu pria yang mencintai sepenuh hati. Yang bermunculan bukan hanya kenangan tapi juga emosi yang dulu pernah dirasakan. Rasa marah, kesal, sakit hati, terabaikan dan teraniaya.
Sekarang umi memang lebih tegar, lebih dewasa dan lebih bertenggang rasa. Namun tetap saja masih bisa merasa sakit dan kesal. Seandainya godaan untuk membeli novel baru tidak datang maka dengan senang hati umi akan kembali naik bus ke kampung halaman. Umi memang lebih nyaman berada di kamarnya yang kecil, menonton atau membaca sambil menunggu sms dari anak-anaknya.
Kehadiran enam orang anak asuh merupakan karunia tak terindah untuknya. Umi menyadari takdir hidupnya adalah untuk memahami orang lain dan menjadi motivator. Umi merasa hidupnya jauh lebih berarti karena kehadiran mereka. Kehadiran mereka membuat Umi merasa dibutuhkan. Mereka membuat umi tertawa lepas dan melupakan masalahnya meski hanya sekejap.
Umi ingin anak-anaknya tidak mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalu yang memengaruhi hidupnya sampai sekarang. Umi mendapatkan sahabat, teman curhat, motivator dan pelipur lara. Umi tahu tidak mungkin selamanya ada di sisi mereka. Suatu hari nanti mereka akan pergi menuju jalan takdir masing-masing. Meski demikian umi berdo'a pada Tuhan agar selamanya hati mereka terikat. Umi tahu membentuk ikatan memang mudah tapi menjaganya hal yang paling berat.
Minggu ini beban hati umi sedikit berkurang. Caesar sudah dapat menyelesaikan masalah peliknya. Dalam hati umi bersyukur melihat Caesar tampak lebih lepas dan bahagia. Umi tahu, Caesar pasti akan mengalami masa transisi yang membuatnya kesulitan. Selama ini selalu ada "dia" dan kini "dia" sudah pergi, keputusan terberat yang harus diambil oleh Caesar. Umi berharap ini semua membawa kebaikan untuk Caesar. Umi tak ingin Caesar menyesal di kemudian hari. Maka dari itu umi selalu berkata, "kalau kau masih sanggup bertahanlah, kalau sudah lelah maka segera akhiri. cinta tidak membuatmu sakit. kau harus bisa membedakan antara mencintai seseorang atau obsesi untuk memiliki orang itu". Umi tak ingin membuat Caesar melepaskan cintanya hanya karena sikap protektif Umi. Ternyata Caesar jauh lebih tangguh dari yang umi pikirkan.Sekarang Caesar bisa lebih konsentrasi pada pelajarannya.
"Semoga, keputusan ini membawa kebaikan untukmu.  Percayalah bahwa Tuhan akan mengirimkan penggantinya. Mungkin tidak sehebat atau secantk dia. Tapi orang yang dikirimkan Tuhan akan membuatmu bahagia,bahkan lebih bahagia" bisik hati umi saat menonton Caesar bermain voli.
Umi menarik nafas lega kemudian menoleh ke samping. Di sampingnya Ragil tengah duduk merenung. Umi tahu apa yang mengganggunya.
"Konsistenlah dengan pilihan yang sudah kau buat. Kau yang memilihnya jadi jangan kecewakan dia. Pria sejati adalah pria yang konsisten dengan pilihannya, yang ucapannya bukan hanya sebatas kalimat tapi nyata dalam tindakan."
"Iya mi, Ragil akan konsisten. Mulai sekarang hanya dia yang ada di pandangan Ragil."
"Itu baru anak umi,"  Umi tersenyum bangga. Ragil dan Caesar mulai menemukan jalan keluar. "Bagaimana dengan Omesh? Mi, lihat dia marah-marah saja? Bukankah dia baru punya pacar? Apa lagi yang dirisaukannya? "
"Pacarnya marah, mi."
"Lagi-lagi masalah pacar. Dasar remaja!"  Umi tersenyum. Sekalipun aktif, mereka tidak pernah melupakan pelajaran. Mereka adalah anak-anak yang rajin dan tak banyak masalah. Pelajaran bukan masalah pelik bagi mereka. Sesulit apapun mereka pasti berusaha untuk menyelesaikannya tanpa umi harus turun tangan. Kecerdasan kan bukan hanya di bidang eksak--meskipun banyak orang di dunia menilai kecerdasan dari bidang eksak saja.  Segala sesuatu di dunia berjalan beriringan dan saling berhubungan.
Umi tak berani bicara banyak tentang Omesh. Dia satu-satunya anak yang agak susah berbagi. Omesh masih sering merasa sungkan untuk bercerita pada Umi. Omesh belum selincha teman-temannya yang lain untuk terbuka mengenai masalah yang dihadapinya. Umi tak akan memaksanya untuk bercerita. Umi akan menunggu Omesh datang dan membagi kerumitan hatinya.
Kalau dipikirkan para wanita keluarga C.A.N.G.O.R jauh lebih tangguh. GirlY masih akan konsisten dengan hubungan jarak jauhnya. Dia mulai mengerti dan menyadari pentingnya saling memahami. Atra pun sudah mulai konsisten dengan perasaannya. Atra akan bertahan dengan perasaannya meski pria itu tak yakin akan perasaannya sendiri. Dan Nunna, sekalipun sedang bermasalah dengan seseorang dia jauh lebih tenang. Nunna berkaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya dan lebih selektif untuk urusan perasaan.
Umi memandangi mereka satu persatu dari kejauhan kemudian mengirim sms... "Caesar, tetap semangat nak, ada umi dan saudara-saudaramu di sini, duniamu tidak berhenti berputar hanya karena kau tak memiliki "dia". Atra, kalau kau masih sanggup bertahanlah, kalau tidak segera lepaskan, tidak bijaksana mencintai dan menunggu orang yang tidak mempedulikan perasaan kita. Nunna, biarlah semua yang telah terjadi menjadi kenangan yang akan memperkaya batinmu, jangan menaruh benci yang mendalam karena hanya akan mengotori hati dan membuat hatimu terluka lebih dalam, relakanlah apa yang tidak Tuhan perkenankan untuk kita miliki. Girly, tetap konsisten dengan apa yang sudah kau bina-- pahami lebih jauh lagi tentang dia-- jangan biarkan orang-orang melihat celah untuk menggoyahkan tekadmu. Omesh, berbicara lebih terbuka akan membuat bebanmu sedikit berkurang. Ragil, kau yang memilih dia, jadi konsistenlah, berjuanglah untuknya, ingatlah umi saat kau tak sengaja menyakiti hati dia, apa yang akan kamu lakukan kalau orang lain memperlakukan umi seperti itu. Dan untuk semuanya, sekali lagi ingat, pacaran hanya hiburan-- sampingan-- tugas pokok kalian adalah belajar jadi jangan biarkan pelajaranmu terganggu hanya karena kau bermasalah dengan teman atau pacarmu. Berjuang lebih keras lagi, mudah-mudahan Tuhan memberikan kelancaran dan keberkahan dalam setiap tindakan kita, Amin. Maafkan kesalahan-kesalahan umi ya. Yuk, kita papasakan!"  Umi tersenyum saat mengakhiri smsnya, mata umi sudah berkunang-kunang dan minta segera diistirahatkan....

Keluarga C.A.N.G.O.R (part 3)

by Yuli Nurhati on Sunday, July 31, 2011 at 9:44pm
"Cinta tidak membuatmu sakit ataupun terluka tapi cinta justru menyembuhkan, baik bagi orang yang memberi maupun untuk orang yang menerima."
Heum... Umi memandangi foto anak-anaknya sambil menghela nafas berat. Masing-masing memiliki karakter yang unik. Umi merasa beruntung memiliki mereka di sisinya. Persahabatan dan kasih sayang yang mereka berikan membuat hari-hari umi lebih berwarna. Tak satu hari pun yang umi lewatkan tanpa mendapat kabar dari anak-anaknya. Umi tidak bermaksud pilih kasih, ikatan ini terbentuk begitu saja. Ada benang tak kasat mata yang terulur yang mengikat hati umi dan mereka. Bukan masalah pintar, ganteng, kaya atau miskin, ini tentang ikatan yang dibentuk oleh hati.
Umi tahu tak mudah memberikan saran bijaksana untuk keenam anaknya. Umi bahkan sering berfikir keras sebelum berbicara. Umi tak mau pengalaman-pengalaman pahit yang pernah dialaminya terulang kembali pada anak-anaknya. Umi berharap anak-anaknya mengerti dengan kebawelan dan sifat protektifnya.
Seandainya tak bertenggang rasa ingin rasanya umi berkata dengan tegas pada Caesar. Hidup Caesar masih panjang, umi tak ingin dia menyerah hanya karena cinta. Umi ingin Caesar bangkit dengan usahanya sendiri. Umi ingin Caesar jadi pria tangguh yang tak sembarangan menyakiti hati wanita dan juga tak gampang dipermainkan wanita. Caesar harus bisa tegar tanpa "dia". Umi tahu tak mudah melupakan orang yang pernah dekat dengan kita dalam waktu yang singkat. Perlu waktu yang tak sebentar untuk menyembuhkan luka-luka di hati. Bukan tak mungkin banyak hal yang membuat teringat pada "dia". Namun bila Caesar mau, umi dan saudara-saudaranya akan bahu-membahu untuk membantunya bangkit kembali.
"Umi tak ridho anak umi dipermainkan seperti itu. Sekarang umi angkat tangan. Silahkan pilih, kalau sudah merasa lelah akhiri saja. Kalau masih sanggup silahkan lanjut tapi jangan mengeluh kalau keadaannya tetap seperti itu atau lebih buruk. Bagaimana bisa kau melepaskannya bila hatimu masih merindukan "dia". Duniamu bukan hanya berputar di sekeliling dia. Masih banyak hal yang harus kau lakukan selain menanggapi semua tingkahnya."  Umi menatap Caesar lekat-lekat. Genangan airmata membuat tatapannya kabur. Dia bertahan sekuat tenaga untuk tak meneteskan air mata di depan Caesar. Umi menghela nafas berat lalu meinggalkan Caesar yang tertegun menatap hpnya.
Saat hendak masuk ke rumah umi melihat Atra tengah asyik berbicara di telepon. Pasti dia sedang mengobrol dengan "pria yang tak tahu perasaannya sendiri". Semoga saja berakhir bahagia, bisik hati umi. Umi sudah wanti-wanti pada Atra. Selama Atra masih sanggup maka umi akan mendukungnya untuk bertahan. Umi ingin anak-anaknya memperjuangkan apa yang pantas diperjuangkan. Umi tahu Atra memang tangguh tapi tetap saja dia merasa khawatir dan resah. Umi tak ingin Atra berjuang untuk sesuatu yang tak berujung.
"Mi, doain Omesh ya." Omesh tiba-tiba berdiri di sampingnya.
"Kamu kenapa lagi mesh?"  Umi menatap Omesh lekat-lekat. Ada kesedihan terpendam menaungi wajahnya. Omesh yang biasanya begitu humoris hanya tertegun menatap Umi. Ia mengajak umi duduk kemudian menceritakan masalahnya.
"Sudahlah, mesh. Bila seseorang sudah tak ingin bersamamu lagi lepaskan dia. Umi dan saudara-saudaramu bisa jadi motivator paling hebat jauh dibandingkan "dia". Jangan merasa sedih karena tak memiliki kekasih. Kekasih mungkin meninggalkanmu tapi kami bertahan di sisimu selama-lamanya."
"Siap mi, makasih ya!"
"Sama-sama nak!" Umi menepuk pundak Omesh dengan bangga.
"Dunia tidak berhenti berputar karena tak ada dia!" Ragil datang bersama GirlY lalu duduk mengelilingi Umi. Ragil dan GirlY sudah memilih untuk tetap bertahan dengan apa yang telah mereka putuskan. Umi bangga pada mereka. Mudah-mudahan mereka bisa tetap konsisten. Amin, umi berdo'a pada Tuhan.
"Mana Nunna?" Umi mencari-carinya.
"Aku datang."  Nunna muncul dari rumah. Sepertinya dia baru selesai bicara di telefon dengan mantannya yang kembali pedekate. Dia kemudian masuk ke lingkaran.
"Deuh, yang lagi pedekate?"  GirlY menggoda Nunna. Yang digoda hanya senyum-senyum saja.
"Na, bagi umi yang penting dia baik dan soleh."
"Ah umi, masih pedekate kok, belum jadian?"
"Iya, umi tahu. Jangan sampai mengganggu belajar ya."
"Pasti mi. Belajar kan nomor satu."
Umi tersenyum bangga melihat anak-anaknya satu persatu. Caesar dan Atra perlahan mendekat dan mereka kembali berbagi cerita. Dentingan gitar mulai terdengar dan lirik-lirik pelipur lara mulai dilantunkan. Lirik lagu yang mereka bawakan membuat umi teringat masa lalunya bersama Mamoru. Citra Mamoru sangat buruk di depan keluarga umi tapi Mamoru adalah satu-satunya pria yang sangat menyayangi umi. Dia lebih banyak memberikan perhatian lewat tindakan daripada kata-kata. Kisah Caesar dan kisah pedekate Nunna memperjelas kenangan tentang Mamoru.
Mamoru dan umi awalnya hanya teman bermain kemudian lama kelamaan keduanya saling menyimpan rasa. Sayang hubungan mereka tak mendapat restu dari keluarga umi. Umi memutuskan Mamoru karena keluarga umi memandang Mamoru bukanlah anak yang baik. Meski sudah putus hubungan umi dan Mamoru tetap dekat. Orang-orang malah menyangka mereka masih jadian. Umi tahu itu, dia bahkan merasa hubungan mereka jauh lebih dekat. Umi makin jadi susah melepaskannya. Mamoru selalu ada setiap kali umi membutuhkan bantuan. Hanya Mamoru yang paham tentang keluarganya. Bersama Mamoru, umi tidak merasa canggung ataupun jaim. Sayangnya Tuhan tidak mengirimkan Mamoru untuk menjadi jodoh umi.
Mamoru lama kelamaan merasa lelah dengan umi. Dia pergi dan menikahi perempuan yang umi kenal baik. Umi sedih dan sakit hati. Namun umi ingat bahwa Tuhanlah yang mengatur segalanya. Tidak bisa menyalahkan siapapun karena Tuhan Maha Kuasa atas segalanya. Umi berharap cerita pedih ini tidak terjadi pada anak-anaknya.
"Jika kau menyayangi seseorang, berjuanglah untuk mendapatkannya. Jika dia tetap ingin pergi maka biarkan dia pergi. Tidak bijak memaksakan cinta pada orang yang tak mau menerima, akhirnya kau hanya akan terluka dan dia merasa tersiksa. Duniamu akan terus berputar meski pusatnya bukan "dia" lagi. Ingatlah tugas utama kalian sebagai pelajar. Waktu terus berjalan, sebentar lagi ujian dan kehidupan sesungguhnya tengah menanti. Jangan terlena dan  terpuruk karena cinta. Karena cinta yang sehat mendatangkan bahagia bukan derita... Chayo3x... Tarawih, tadarusnya jangan sampai ketinggalan... Umi sayang kalian: Caesar, Atra, Nunna, GirlY, Omesh, Ragil... Dan bila nanti dunia tak mengerti berpalinglah padaku tempat teraman untuk dirimu..."

Keluarga C. A. N.G. O. R (Part 4)

by Yuli Nurhati on Tuesday, August 2, 2011 at 11:50am
"Sekali kau berbohong maka kau akan terus menerus membuat kebohongan untuk menutupi kebohonganmu yang lain."
        Sejak awal umi sudah berkata bahwa umi tidak akan menghalangi atau memaksa anak-anaknya untuk menyukai atau tidak menyukai seseorang. Namun pesan tersebut tampaknya kurang tercerna dengan jelas. Umi mungkin tidak melahirkan mereka tapi hati umi dapat merasakan apa yang sedang terjadi. Darah lebih kental dari air tapi ikatan yang dibentuk oleh hati dapat lebih kuat dari hubungan darah. Membentuk hubungan memang mudah tapi menjaganya sangat sulit. Mungkin jalan pikiran umi memang terkesan idealis dan sadis. Namun umi hanya ingin kebahagian untuk anak-anaknya.
       Kehidupan yang umi lalui membuatnya menjadi seperti sekarang. Deraian airmata, luka-luka yang tertoreh, perlakuan-perlakuan dan kata-kata menyakitkan tak pernah putus menyapa hidup umi. Umi hanya ingin anak-anaknya punya tempat berbagi sehingga beban mereka tidak terlalu berat. Umi tidak bermaksud memaksa tapi hanya ingin menyediakan fasilitas untuk berbagi rasa hati, keluh kesah dan gelisah diri. Namun rupanya semua ini jadi terkesan memaksa. Heum, sudahlah, tak semua orang mudah dan mau berbagi.
       "Caesar, hati umi tidak terbuat dari batu dan juga tidak terbuat dari tahu. Sekalipun kau tidak bicara umi tahu apa yang terjadi. Meski bibirmu berkata tidak, umi tahu apa yang sebenarnya. Maaf karena umi juga kamu berbohong. Sekarang kamu sudah membuat keputusan jadi laksanakan saja apa yang telah kau pilih."
       " Atra, rasa sakit ini akan membuatmu semakin tegar dan kuat. Menangislah saat air matamu tak terbendung. Tidak perlu membohongi diri. Ingatlah bahwa duniamu akan tetap berotasi sekalipun bukan mengelilingi dia. Kamu harus lebih tegar karena bukan tak mungkin orang lain sengaja menambah luka di atas luka yang sudah tertoreh."
       " Nunna, pikirkan kembali apa yang membuatmu meninggalkannya dahulu. Jangan menerima atau menolak seseorang karena merasa terpaksa atau tertekan karena hanya akan meninggalkan rasa sakit."
        "GirlY, kalau kau yakin dan masih sanggup bertahan dengan apa yang tengah kau jalani maka teruslah bertahan. Jika sudah lelah segera putar haluan. Dengarkan apa yang hatimu bisikan, jangan membuat celah bagi orang lain untuk memprrovokasi keputusanmu."
       "Omesh, jangan putus asa karena cinta pertama. Kelak akan ada cerita-cerita manis lainnya yang mengganti cerita-cerita sedih. Kamu adalah pria tangguh dan tegar, jadi tetaplah jadi dirimu sendiri. Jangan merasa sendiri dan sedih. Dunia ini lebih indah bila dipandang denga cara yang tepat."
       "Ragil, fokus nak. Jangan karena tak ada pekerjaan sehingga mencari masalah. Umi yakin kau bisa konsisten dengan apa yang kau pilih."

Keluarga C.A.N.G.O.R (part 5)

by Yuli Nurhati on Friday, August 5, 2011 at 7:52pm
       "Dari atasnya sih udah eror."  Ujar Caesar sambil terkekeh. Dia langsung mingkem seribu bahasa saat umi memberikan lirikan juteknya. Dia dan yang lainnya memang selalu menggoda umi untuk segera punya pacar. "Biar kebahagiaan kita komplit, mi." Lanjutnya dengan wajah tak berdosa. Umi tak menjawab. Dia malah asyik membaca novel. Karena tak ditanggapi dia mengambil bola basket lalu mengajak Omesh ke halaman belakang.
       Sebenarnya umi bukan tak ingin menjalin hubungan dengan lawan jenis. Umi cuma belum menemukan orang yang tepat saja. Kisah cinta terdahulu yang selalu berakhir menyedihkan membuat umi lebih berhati-hati. Tidak mudah untuk menyukai atau melupakan seseorang. Umi yakin seseorang akan muncul kalau waktunya sudah tepat.
       Seperti halnya siang dan malam masalah pun silih berganti. Minggu ini giliran NUnna, Girly dan Ragil yang bersedih.
       Nunna menghadapi dilema dengan si manta yang kembali pedekate. Ada wanita yang mengaku mantannya dan marah-marah pada Nunna. Nunna yang bingung cuma bisa menangis dan memendam kesal. Bertahan atau menyerah, keduanya memiliki konsekuensi masing-masing.
        Umi menutup novel lalu berbicara dengan Nunna yang sedang asyik mengerjakan soal kimia.
       "Umi, tidak akan memaksamu untuk melakukan apapun. Semua kembali padamu. Saudara-saudara laki-lakimu sudah mengingatkan kalau dia tidak baik. Setiap orang memang berhak mendapat kesempatan kedua tapi coba pikir kembali mana yang lebih baik tetap bertahan atau menyerah. Apapun keputusanmu, umi akan mendukungnya."  Umi memberikan pendapatnya mengenai masalah yang dihadapi NUnna. Umi tidak ingin Nunna menyerah atau memilih bertahan hanya karena pendapat umi atau saudara-saudaranya. Nunna yang menjalani semuanya dan dia yang akan merasakannya. Selama ini Nunna cukup berhatai-hati dalam urusan hati. Umi yakin apapun keputusannya tidak akan membuat Nunna jadi lemah.
       Selesai bicara dengan Nunna, Umi pergi ke teras menemui GirlY dan Ragil yang sedang bermain gitar. Mereka berdua bernyanyi lagu patah hati.
       "Engkau yang sedang patah hati ..." suara GirlY terdengar menyayat hati.
       Heum, baru saja umi menarik nafas lega saat GirlY berkata dia akan bertahan dalam hubungan jarak jauhnya. Namun beberapa hari kemudian, Girly berkata mereka putuz. Keduanya berurai airmata dan memendam sakit hati. Umi belum dapat berkata banyak karena belum mendengar kronologis lengkapnya. Umi hanya ingin GirlY tabah dan berpikir jernih.
       "Jika keputusan ini memang yang terbaik maka bersabarlah. Pelan-pelan saja melupakannya. Rasa sayangmu padanya tumbuh dengan perlahan maka untuk mengakhirinya pun harus perlahan-lahan. Menata hati tak semudah membalikkan telapak tangan. Jangankan sudah berbulan-bulan baru satu atau dua minggu saja tetap sakit hati. Tidak mudah membuang kenangan yang kita bangun dengan orang yang kita sayangi. Akan banyak hal yang mengingatkan kita padanya. Tak menutup kemungkinan air mata ikut menyemarakkan kesedihan kita. Yakinlah nak semua akan jauh lebih baik. Dengan berlalunya waktu luka-luka ini akan sembuh--meski tidak sepenuhnya sembuh-- dan rasanya tidak akan sesakit sekarang."  Umi menatap GirlY lekat-lekat. Dalam hati dia berdo'a semoga GirlY diberi kekuatan oleh sang Pemberi cinta dan hidup.
       Umi mengalihkan pandang pada Ragil yang tampak sangat murung, dia memandangi gitar dipelukannya. Umi merenung sebelum berbicara padanya. Umi mengkaji ulang nasihatnya pada Ragil. Umi terus menerus meminta Ragil untuk konsisten dengan perempuan yang sudah dipilihnya. Ragil menurut tapi kenyataannya perempuan itu malah menyia-nyiakan Ragil. SEandainya saja umi kenal wanita itu lebih dekat pasti umi akan bicara langsung padanya.
       "Cinta tulusku hanya dijadikan permainan."   keluh Ragil.
       "Bersabarlah nak. Jangan menyesal karena telah menyayangi seseorang dengan tulus. Jangan biarkan kejadian ini membuatmu berpikir bahwa kasih sayang tulus itu hanya isapan jempol. Suatu hari akan ada perempuan yang mengharagai ketulusanmu. Ingatlah, meski dia pergi kamu masih memiliki kami. Mungkin kadarnya tak sama tapi kami bertahan di sisimu selamanya. Kami tidak akan pergi hanya karena kau mendua atau memaksakan kehendak meski kami tak mendukung."  Umi menepuk pundak Ragil dan tersenyum padanya. Umi tahu Ragil anak yang tangguh.
       Umi masuk ke rumah lalu menengok Atra yang sedang tiduran sambil membaca novel.
       Rupanya minggu ini keluarga C.A.N.G.O.R memang sedang dirundung musibah. Atra jatuh dari motor saat berangkat latihan paskibra. Namun gadis tangguh itu tetap memaksa pergi ke sekolah. Heum,,, you're my wonder girl, bisik hati umi. " Semoga Tuhan sellau menjagamu, cepat sembuh nak. Jangan melamun terus, apalagi memikirkan orang yang tak peduli padamu. Hal itu hanya menyita waktu saja. Chayo3X."  Umi merapikan novel dan buku-buku yang tergeletak di samping Atra lalu bangkit menuju dapur.
       "Caesar! OMesh! Kemari sekarang waktunya kalian yang masak!"  Umi berteriak dari pintu dapur memanggil Omesh dan Caesar yang sedang asyik bermain basket. Setidaknya kedua anak itu tidak sesedih saudara-saudara mereka, bisik hati umi. Umi masih ingin membuat perhitungan dengan Caesar karena sudah menggodanya dengan masalah pacar. Caesar juga sudah mengawali bulan Ramadhan ini dengan membuat umi kesal. Meski begitu umi tak bisa berlama-lama marah padanya, umi terlalu sayang pada anak-anaknya. Dan umi memang bukan orang yang suka berlama-lama memendam amarah.
       " Sayur bayam ala popeye, mi?"  tanya Omesh sambil membantu Umi menyiangi bayam.
       "Yupz... biar sehat, kan mau jadi jendral."
       "Ah, umi aku masih bingung mau masuk tentara atau tidak. Aku tak ingin meninggalkan kalian."
       "Meskipun kita tidak berada dalam daerah dan tempat yang sama tapi kita masih akan bernafas dengan udara yang sama dan hati kita selamanya terhubung. Seorang laki-laki memang harus mau pergi jauh untuk mencapai cita-citanya."
       "Siap mi, laksanakan." Jawab Omesh mantap.
       "Nah gitu dong, jangan seperti Caesar."
       "Aduh umi kalau masih kesal jangan menyindir begitu. Aku kan sudah minta maaf. Bener deh mi, enggak lagi-lagi buat umi kesal. Aku sayang sama umi."
       "Baguslah kalau begitu. daripada bengong begitu mending kamu pel lantai, ajak Ragil sekalian. Biar dia tidak murung lagi. Terus minta Nunna dan GirlY pergi ke warung untuk membeli tahu dan kentang."
       "Terus apa lagi mi, dari tadi teus, terus, terus kaya tukang parkir." Caesar kembali menggoda umi.
       "Anak ini!" Umi mendelik marah.
       "Ampun ah, mending aku ngepel saja dari pada ditatap seperti itu." Caesar melarikan diri ke ruang tengah.
       "Perkedel ala umi dan sayur bayam ala popeye. Hidangan mantap untuk berbuka."
       "Yupz, Atra perlu makanan yang mengandung zat besi setelah mengalami kecelakaan kecil."
       "Kasian ya mi, wonder girl kita. Padahal hari ini giliran dia yang masak."
       "Ah kamu ini kasihan ya kasihan tapi jangan terpaksa begitu." Umi memukul pundak Omesh dengan tangkai bayam. Keduanya kemudian tersenyum.

Keluarga C.A.N.G.O.R (part 6)

by Yuli Nurhati on Monday, August 8, 2011 at 11:17pm
       Heum minggu yang tenang. Minggu ini tidak ada masalah baru di keluarga C. A. N. G. O.R. Meski begitu hati umi tetap saja khawatir. Caesar yang tetap kekeuh mencintai "dia", Atra yang belum sembuh dari patah hati, Nunna yang masih bingung dengan perasaannya, GirLy yang masih merindukan mantan dan sedang menjaga jarak dengan Omesh, Omesh yang masih bingung dengan perasaannya pada GirLy dan Ragil yang kesepian karena baru putus. Semunya putus kecuali Caesar.
       Keteguhan hati Caesar membuat umi bangga sekaligus sedih. Caesar membut umi percaya bahwa ada orang yang bisa mencintai dengan tulus meskipun hati sering tersakiti. Caesar berjanji bahwa keputusan yang diambilnya adalah yang terbaik untuk semua. Caesar berjanji semuanya akan lebih baik, tidak ada acara bertengkar atau saling memaki. Heum benar-benar damai. Mudah-mudahan saja demikian. Kalau tidak Umi pasti sangat sedih.
       "Umi belum tau saja sifat dia. Kalau sudah tau pasti umi suka padanya."
       "Selama ini umi cuma dapat kesan buruk dari dia."
       "Iya mi. Caesar sayang banget ma umi makanya enggak mau buat umi sedih lagi dengan pertengkaran kami."
       "Umi pegang janjimu. "
       " Oh ya mi, umi lihat enggak tingkah GirlY dan Omesh yang aneh?"
       "Iya, sepertinya GirlY berusaha menjauhi Omesh." Omesh juga pernah tanya harus bagaimana menghadapi GirLy."
       "Ah dasar cangor. Dari atasnya sih udah eror."
       "Dasar susiz."
       Umi dan Caesar saling meledek. Umi tak pernah bisa benar-benar marah padanya. Dia sangat menyayangi Caesar, makanya dia tak tega memaksa Caesar untuk putus.
       " Mi, yang lain pada ke mana?"
       " Omesh sedang jalan-jalan dengan Ragil, katanya sih mau cari ketenangan . NUnna sedang mengerjakan PR, GirlY dan Atra sedang latihan paskibra."
       "Orang-orang patah hati."
       "Setidaknya mereka berani mengambil sikap meski harus patah hati."
       " Ehm, umi masih kesal padaku."
       " Ya iyalah, maaf sih gampang tapi menghilangkan rasa kesal yang sulit."
       Caesar hanya diam saja mendengar jawaban Umi. Dia tak berani mendebat kalau umi sudah bicara seperti itu. Heum marahan dengan umi bisa berabe.
       "Marahi saja mi!" Nunna muncul dari dalam rumah. Dia duduk di samping umi.
       "Na, Azam mau ke sini. Tadi dia sms." Ujar Caesar yang langsung ditanggapi dengan muka masam oleh NUnna. Mungkin dia sebal karena semua anggota keluarganya selalu menjodoh-jodohkannya dengan Azam.
      "Kalau umi boleh bicara, umi lebih senang kalau dia yang jadi pacar kamu. Kalian bisa belajar bareng karena sama-sama kelas IPA. Dia juga cukup sopan dan sudah umi kenal."
       "Iya ya mi daripada pacarmu yang sekarang itu. Dia..."
       "Dia apa? pacarmu juga tak lebih baik." Nunna manyun. Umi tersenyum melihat Caesar dan Nunna saling meledek pacar masing-masing.
       "Sudah, jangan bertengkar. Daripada bertengkar mending kamu selesaikan catatan sejarahmu. Kau ini sejak dulu malas sekali mencatat. "
       "Mulai deh umi, Nunna pinjam catatanmu." Caesar buru-buru masuk ke rumah. Dia tahu kalau tetap berada di luar umi akan mengomel lebih panjang.
       "Na, kita masak buat buka." Umi mengajak Nunna masuk ke rumah. Hari itu giliran Nunna dan Atra yang memasak. Atra masih belum pulang, jadi Nunna masak di temani umi. Hari itu mereka memasak cah kangkung dan telur asam manis.
       "Na, coba kamu lihat Caesar. Apa benar dia nulis? Atau dia malah tiduran sambil smsan!"
       Nunna berdiri lalu pergi melihat Caesar. Yang dilihat ternyata sedang tidur memeluk guling.
       "Mi, Caesar malah tidur." UJar Nunna saat kembali masuk dapur.
       "Anak itu." Umi menyimpan kangkung yang sedang disianginya lalu pergi melihat Caesar. "Bangun, bangun, bangun ..."  Umi mengguncang-guncang tubuh Caesar tapi dia masih asyik tidur.
       "Guyur pake air mi!" Seru Ragil dan Omesh yang baru datang.
       "Kalian harus membuat dia bangun. Umi mau ke dapur."
       Umi kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaannya. GirlY dan Atra, pulang lima menit sebelum adzan.
       Malam itu setelah selesai sholat tarawih, umi menemani anak-anaknya mengerjakan PR. Umi mengawasi Caesar dan Omesh yang sedang menyalin catatan sejarah milik Nunna. Umi juga membantu Ragil, Atra dan Nunna mengerjakan PR kimia. Sementara itu GirLy sedang sibuk mengerjakan soal ekonomi. Dia duduk sejauh mungkin dari Omesh dan Caesar. Mereka berdua selalu mengganggunya.
       "Makanya Caesar kalau disuruh mencatat itu dilaksanakan bukannya tidur. Kamu juga mesh, jangan bengong terus. Ingat kalian sudah kelas 3, bukan waktunya untuk main-main lagi. Simpan dulu semua urusan yang kurang penting, lamunan-lamunan tentang sakit hati, dan rasa ngantuk. Ragil, kamu juga harus rajin jangan karena tak punya pacar jadi kehilangan semangat. Atra, jangan terlalu cape nanti jatuh lagi, kan malu kalau diledek anak kecil lagi. Nunna, ingat ya harapan umi. GirLy, jangan menjaga jarak dengan kami. Umi tidak mau kehilangan satupun dari anak-anak Umi. "