Holla Fiola

Holla Fiola Balarea

Selasa, 11 September 2012

Sunrise untuk Aya


Aku tahu sekalipun Aya berkata dia merasa cukup dengan memiliki seorang ibu saja, sebenarnya dia merindukan kehadiran seorang ayah. Dia perlu sosok yang bisa dijadikan sebagai pelindung. Ada satu ruang yang tak bisa kupenuhi. Alasan itulah yang membuatku setuju untuk kembali pada Zaki.
Aya memang tak pernah meminta banyak. Dia tahu keadaan kami. Namun aku ingin dia bisa mendapatkan pendidikan yang bagus. Aku tak ingin menghambat kecerdasannya. Aku ingin bisa menyekolahkannya sampai perguruan tinggi.
Kasih sayangku yang begitu besar padanya membuatku rela menggadaikan kebahagianku untuk kenyamanan hidupnya. Aku mungkin akan menyesal karena melepas orang yang kucintai. Namun cintaku pada Aya jauh lebih besar.
“Pulang honeymoon aku dapat adik ya?” seru Aya saat Zaki dan aku akan pergi bulan madu.
“Kamu harus meyakinkan mom untuk mewujudkannya.” Zaki menudingku dengan ekor matanya.
Aku hanya menanggapinya dengan senyuman.
“Kamu jangan merepotkan oma dan opa ya?” Aku memeluk Aya kemudian berbisik, “kau tahu sendiri Papa menyita handphone mom.”
Airmataku tak berhenti mengalir meskipun mobil yang dikendarai Zaki sudah melaju jauh dari rumah. Ini akan jadi perpisahan terlama dengan Aya. Kami tak pernah berpisah selama 13 tahun. Dan sekarang Zaki akan membawaku ke suatu tempat selama satu minggu.
Zaki tidak menyebutkan tempatnya dengan jelas. Dia seolah-olah sengaja ingin memilikiku selama satu minggu. Dia melarangku membawa novel dan notebook. Dia bahkan menyita handphoneku. Dia takut aku akan menghubungi Zidan dan memintanya menyelamatkanku.
Kami sampai di tempat honeymoon menjelang magrib. Selesai menunaikan kewajiban sebagai umat beragama Zaki mengajakku makan malam. Dia menyiapkan makan malam istimewa di halaman depan villa yang kami tempati. Selesai makan dia mengajakku berjalan-jalan di pantai, menikmati cahaya bulan yang agak redup.
“Aku akan melakukan semua hal yang seharusnya sejak dulu kulakukan.” Zaki menggenggam tanganku lalu membawaku duduk di pasir.
Kata-kata Zaki seolah jadi mantra yang mengembalikan ingatanku pada peristiwa 14 tahun yang lalu.

Hari itu aku baru saja pulang KKN. Ibu memintaku segera berdandan. Aku sendiri bingung tapi ibu menyeretku ke kamar kemudian memaksaku memakai kebaya. Rupanya hari itu keluarga Zaki datang melamar.
Sebelumnya ibu memang sudah bercerita bahwa  aku ayah sudah mencarikan calon untukku. Ayah akan menjodohkan aku dengan anak sepupu jauhnya. Sebenarnya dulu ayah dijodohkan dengan ibu Zaki tapi ayah malah memilih ibu. Hal itulah yang membuat nenek mengucilkan keluarga kami.
Makanya saat nenek mengatakan ingin menjodohkan aku dengan Zaki, ibu langsung setuju. Dia ingin memenangkan hati nenek. Sebenarnya aku ingin menolak tapi kata-kata ayah menahanku.
“Selama ini ibumu merasa tidak nyaman. Dia tidak pernah menjadi menantu seutuhnya. Kalau kali ini kita mengecewakan nenek maka ibumu akan semakin tertekan.”
Bagai kerbau dicocok hidungnya, aku pun menuruti permintaan ayah dan ibu. Tanpa banyak bicara aku mengkuti semua hal yang diminta mereka. Aku bahkan hampir tidak berpikir lagi.
Ternyata Zaki pun merasa terpaksa memenuhi permintaan neneknya. Zaki lebih sering menghabiskan waktu dengan laptopnya daripada bicara denganku. Hingga aku mengandung Aya pun sikapnya tak banyak berubah. 
"Dokter bilang bulan depan bayi kita lahir. Masa kau masih mau pergi melanjutkan S3 ke Swedia?"
"Kesempatan ini tak akan datang dua kali."
"Begitu pun dengan bayi ini." Aku menghempaskan pakaian Zaki yang sedang kulipat lalu pergi ke dapur.
"Juni!" Zaki menyusulku ke dapur.
"Terserah kau saja. Kalau pergi sekarang, jangan harap kau bisa melihat kami lagi."
"Juni mana bisa begitu."
"Kau sendiri yang bilang bulan depan baru pergi."
"Iya, tapi sekarang aku harus mengantar putri bos yang akan kuliah di sana."
Aku tidak menghiraukannya. Aku kembali ke kamar lalu mengemasi barang-barangku. Aku menelpon adikku untuk menjemput.
Hari itu adalah hari terakhirku melihat Zaki. Setelah tiba di Swedia Zaki malah menghamili putri bosnya. Gadis itu memaksa Zaki menikahinya.
Kejadian ini hampir membuatku kehilangan Aya. Aya harus lahir satu minggu lebih cepat karena aku mengalami pendarahan. Dia bahkan harus masuk ruang perawatan khusus.
Setelah kondisiku pulih dan Aya dinyatakan sehat. Aku meninggalkan rumah. Aku memutuskan semua komunikasi dengan keluargaku. Aku tak ingin terus menerus dikasihani oleh mereka. Aku ingin mengobati luka hatiku.

"Kau begitu asyik dengan lamunanmu." Zaki menarik tubuhku mendekat. Dengan gerak refleks aku menjauh, menghindari dekapannya. "Kau masih merindukan dia?" Zaki menuduhku. Tatapan matanya penuh kekecewaan. "Juni aku suamimu. Akulah yang seharusnya ada dalam benakmu sekarang."
"Aku tahu. Maaf aku hanya masih belum terbiasa."
"Ini bulan madu kita tapi kau seolah sedang menikmati masa berkabung. Aku tahu aku yang meninggalkanmu. Tapi Juni aku sudah menyesali semuanya selama 13 tahun ini."  Zaki menatapku penuh rasa getir dan sesal. "Aku tahu Zidan sangat berarti bagimu. Tapi percayalah cintaku tak kalah besar bila dibandingkan dengan cintanya. Kesalahanku hanya satu, aku tidak mendengarkanmu saat kau bilang jangan pergi."
"Bukan hanya itu, kau juga sudah membuatku kesepian dengan menjadi istrimu." Aku mulai kesal. "Pekerjaanmu jauh lebih berharga dibanding aku. Jangan melibatkan Zidan dalam masalah kita. Seharusnya kau minta maaf padanya, untuk kedua kalinya Zidan harus merelakanku bersanding denganmu."
"Apa?"
"Dulu demi memenuhi permintaan orang tua, aku terpaksa memutuskannya padahal saat itu kami sudah berencana untuk menikah. Dan sekarang demi Aya, aku harus kembali memutuskannya."
"Jadi kau kembali padaku hanya demi Aya?" Zaki tampak tidak menerima ucapanku. Harga dirinya terhempas.
"Iya, demi Aya. Supaya Aya memiliki keluarga lengkap. Supaya Aya dapat menjadi sarjana. Supaya Aya dapat hidup berkecukupan."
"Ternyata begitu. Wanita tak pernah memandangku layak untuk dicintai. Kau menikahiku demi memenuhi permintaan orang tuamu dan Aya, putri bosku memaksaku menikahinya untuk menutupi aib."
Zaki berjalan menjauhiku. Dia mengambil mobil lalu mengendarainya entah ke mana. Sementara itu aku kembali ke kamar hotel lalu merenungkan semuanya. 
Pagi harinya pelayan menelpon ke kamar dan memberitahukan bahwa mertuaku menelpon. Aku segera menelponnya kembali. Ternyata Aya masuk RS karena sakit Asmanya kambuh.
Selesai menelpon aku segera mengemasi pakaian dan mencari kendaraan untuk kembali ke Bandung. Aku langsung menuju RS tempat Aya di rawat. Dokter bilang Aya kecapean tapi kondisinya sudah stabil sekarang. 
Zaki datang menjelang malam. Dia terlihat sangat lelah dan menderita. 
Aya di rawat selama tiga hari. Begitu dokter mengizinkannya pulang, Aya memaksa ingin pergi ke pantai. Ingin melihat matahari terbit bersama Mom dan Pap, katanya.
Setelah berkonsultasi dengan dokter kami pun pergi ke pantai. Aya terlihat sangat bahagia melihat ayah dan ibunya bersama-sama. Malam harinya dia minta tidur ditemani aku dan Zaki.  
Menjelang subuh aku terbangun dan melihat Zaki tak ada di kamar. Aku pun pergi ke ruang duduk untuk mencarinya. Ternyata dia sedang berdo'a pada Yang Maha Kuasa. Dia menyadari kehadiranku lalu mengajakku sholat berjamaah. Aku mengiyakan dan segera bersiap-siap.
"Maafkan aku sudah menyakiti hatimu."
"Aku juga minta maaf. Mari kita buka lembaran baru, demi Aya dan demi hati kita."
"Demi Aya dan demi hati kita." Zaki menggenggam erat tanganku. 
Aku mendekat lalu merebahkan kepalaku di dada dan memeluknya. Lama kami terdiam dan membiarkan getaran-getaran hati kami yang bicara.
"Katanya mau lihat sunrise?" Aya berjalan mendekati kami.
Zaki tersenyum lalu merengkuhnya ke pangkuan.
"Bidadari kecilku, segera setelah kau sholat kita lihat Sunrise." Ujar Zaki sambil mengecup puncak kepala Aya.
"I Love U mom and Pap." sahutnya sambil memeluk kami berdua.
Leles, 18 Mei 2012

Bakmi Rica-Rica, Jus Stroberi dan Sebuah Jaket


Kalau saja lambungku tidak berteriak minta jatah, aku tak akan duduk dan makan sendirian di sini. Ada rasa nyaman yang tiba-tiba saja merasuk saat aku duduk sendirian di tengah restoran. Aku lebih memilih kelaparan daripada harus duduk sendirian.
Namun hari itu dengan berat hati aku masuk ke restoran di sebelah kanan Gramedia. Restoran ini terkenal dengan baksonya. Begitu masuk aku langsung duduk di kursi yang dekat dengan jendela. Itu satu-satunya kursi kosong yang tersedia.
Sementara menunggu makanan dihidangkan, iseng-iseng aku membuka novel yang baru kubeli.
“Tenggelam dalam karya Jane Austen!” tegur seseorang,
Aku mengangkat wajah dari novel lalu mencari si pemilik suara.
"Ini satu-satunya kursi yang kosong.” Ujarnya sambil tersenyum. “Selesai makan saya akan langsung pergi.” Lanjutnya saat melihatku ketakutan.
“Jus Stroberi dan Bakmi Rica-Rica.” Seru pelayan sambil menghidangkan makanan di meja. “Selamat menikmati.” Lanjutnya sambil berlalu pergi.
“Panas panas begini memang enak yang pedas dan asam.” Ujar si pria sambil menyeruput jus stroberinya.  
Aku mengangguk lalu mulai makan.
“Anda pulang kerja?”
“Iya, Anda sendiri”
“Sebenarnya saya masih dalam jam kerja. Saya janji bertemu dengan seseorang tapi dia tidak datang.”
Sepertinya dia mau kencan buta. Heum kami senasib. Janji bertemu dengan seseorang tapi yang ditunggu tidak datang.
“Penggemar jane Austen?”
“Begitulah.”
Setelah mendengar jawabanku mengalirlah cerita mengenai Jane Austen dan beralih ke kehidupan sehari-hari. Saking asyiknya bercerita tentang pekerjaannya sebagai ahli komputer dia sampai menumpahkan jus stroberinya. Tetesannya mengenai bajuku.
“Maaf!”
“Tidak apa-apa.”
“Pakai saja jaket saya.”
Dia terus-terusan memaksa hingga aku terpaksa menurut.
“Tulislah nomor Anda di sini. Nanti saya akan menghubungi Anda untuk mengambil jaket.” Pria itu memintaku menulis di struk pembayaran.
“Saya harus kembali bekerja! Pria itu berdiri kemudian memasukan struk pembayaran ke saku mejanya. Senang bertemu dengan Anda.” Ujarnya sebelum pergi
Aku menjawabnya dengan senyuman kemudian merapikan belanjaanku. Dari jendela kulihat dia melambaikan tangansambil tersenyum kemudian menjalankan motor besarnya.
       Satu minggu berlalu dan “si pemilik jaket” masih belum menghubungiku. Aku tak banyak ambil pusing. Ku cuci jaket itu lalu kumasukan ke dalam kotak dan kusimpan dalam lemari pakaian. Aku punya banyak pekerjaan selain menunggu telpon darinya.
“Masih ingat dengan janjimu pada ibu?” Kak Terry memandangku yang sedang asyik membaca buku cerita bersama Terry.
“Tentang dijodohkan kalau sampai usia 27 aku masih belum menikah?”
“Untunglah kalau kau masih ingat. Ayah dan ibu sudah menitipkanmu padaku. Jadi sebagai walimu aku akan menunaikan janjiku pada mereka.”
“Aku menurut saja.”
       Sebelum ibu meninggal aku pernah berjanji, kalau sampai usia 27 aku masih sendiri maka aku rela dijodohkan dengan lelaki yang dipilih kakakku. Aku tidak ingin mengingkari janjiku. Maka aku akan menurut saja dengan keputusan yang dibuat kakak. Aku mengenal Kak Terry dengan baik. Dia tak mungkin menjerumuskanku dalam kegetiran.
      Seandainya saja “si pemilik jaket” menelpon, mungkin aku masih punya harapan. Meski baru pertama bertemu aku sudah sangat terkesan. Kehadirannya menerbitkan harapan dalam hati. Harapan untuk kembali bisa mencintai seseorang.
      Terus terang aku merasa tidak nyaman dengan kesendirianku. Teman-teman di sekolah terus menggodaku agar kembali pada sang mantan. Mereka juga sering mengoyak ketenangan batin dengan mengungkit status single-ku.

            “Tara, orangnya sudah datang.” Kak Mia-istri kakakku- masuk ke kamar dan mengecek kesiapanku.
            Aku merapikan riasan lalu mengikuti Mbak Mia ke ruang tamu.
            “Lho Bakmi Rica-Rica?”
            “Jus Stroberi?”
Kak Terry menatap kami bergantian, wajahnya terlihat bingung.
Aku pun menceritakan kejadiannya.
  "Jadi dia si pemilik jaket yang telponnya selalu ditunggu?" Kak Mia menggodaku.
  "Kertasnya ikut tercuci jadi nomornya hilang." Dia menyerahkan struk pembayaran yang sudah kusam dan keriting.
"Ibu pikir itu kertas apa. Taura sampai marah-marah saat tahu kertasnya ikut tercuci."
Ibunya ikut bicara dan dia jadi malu.
"Kita mulai lagi dari awal saja ya, nama saya Taufik Rahman."
  "Tara Rosalia." sahutku sambil menerima uluran tangannya.
"Aku sudah tahu," sahut Taufik sambil tersenyum jail. "Aku salah satu penggemar tulisan-tulisanmu."
"O ya?" aku sama sekali tak menyangka.
"T.R. Kom nama akun facebookku."
"Owh iya, nama itu selalu ngasih koment ke tulisanku."
"Jadi mau dilanjut atau gimana nih?" Kak Terry memandang kami bergantian.
"Tentu saja lanjut. Kalau bisa secepatnya menentukan hari baik." Ibu Taufik ikut bicara.
Aku jadi malu. Aku hanya diam saja saat acara lamaran digelar. Taufik terus-menerus menatapku. Dia sampai ditegur oleh ibunya. 
"Eh tunggu, aku ambil dulu jaket!" Seruku saat Taufik dan keluarganya akan pulang.
"Simpan saja, dah Bakmi Rica-Rica."
"Taura, masa kau memanggil tunanganmu begitu!" Ibu Taura menjewernya. 
Aku tertawa senang.
"Tara, Taura ini memang agak jail, kamu harus banyak bersabar."
"Iya bu saya akan berusaha, hati-hati di jalan bu!" sahutku sambil menyalami ibunya Taufik.
"Sampai jumpa!" Taufik mengecup pipiku lalu kabur ke mobil karena ibunya sudah siap-siap menjewer.
Aku tetap berdiri di teras sampai mobil yang membawa keluarga Taufik menghilang dari pandangan. 
Saat menutup pintu mataku tertegun menatap cincin di jari manis. Sejak kecil aku kurang suka memakai cincin tapi sekarang aku sangat menyukainya.
Pepatah bilang kalau jodoh tak akan kemana. Tuhan sudah menakdirkan kami untuk bertemu maka kami pun bertemu dengan cara yang paling indah dan tak terduga.

Leles, 8 Mei 2012

Surat Cinta


Yang Pertama
Harus kumulai dari mana? Aku sendiri lupa tepatnya kapan. Yang jelas aku sudah mengenalmu sejak masa SMP. Memang saat itu aku hanya tahu namamu saja. Masuk ke SMA cerita tentangmu mulai kudengar. Bahkan bukan hanya itu aku dapat berjumpa denganmu setiap hari kecuali hari minggu. 
Selama tahun pertama kita berada dalam satu kelas, aku hanya menganggapmu sebagai teman. Tidak pernah lebih dari itu. Mungkin karena saat itu aku sedang dekat dengan kakak kelas. Kamu juga pasti tahu jatuh bangunnya aku saat itu. 
Menginjak ke kelas dua barulah ada perasaan berbeda saat melihatmu. Aku lupa kenapa bisa begitu. Yang jelas saat itu aku sedih kalau kau marah-marah dan bersikap tidak ramah. Jujur saja kamu memang bukan yang terganteng di kelas tapi bukan itu yang membuatku suka. Aku lebih tertarik dengan kepribadianmu, juga pada kepiawaianmu di bidang olahraga.
Sejak dulu aku memang lebih sering tertarik pada orang yang berkepribadian menarik dan  piawai di bidang olahraga. Kurasa wajar saja, mnegingat aku paling senang mengamati karakter orang dan tidak piawai dalam bidang olahraga. Dari semua cabang olahraga, hanya olahraga renang yang membuatku merasa kembali memiliki harga diri. Semua orang lebih sering menyepelekan dan under estimate saat aku mengikuti pelajaran olahraga.
Punya badan yang gendut membuat orang senang menertawaimu kalau kau mencoba untuk andil dalam kegiatan olahraga. Semua kegiatan olahraga yang kau lakukan pasti dihubungkan dengan kata "ingin langsing". Sudah jadi kebiasaan manusia untuk mengolok-olok manusia lain yang berbeda dengannya. Benar-benar pembunuhan semangat. Dan sayangku kaupun sesekali suka mengomentari kemalasanku untuk berolahraga.
Haha, sayangku. Aku sendiri akan mengamuk kalau kau memanggilku begitu. Namun, aku malah asyik memanggilmu begitu. Mari kita kembali lagi ke awal sayangku. Pada pembicaraan mengenai aku, hatiku dan kita. 
Rasa-rasanya aku tahu sekarang, kenapa aku bisa suka pada teman sekelasku waktu kelas 3 SMA. Jawabannya adalah karena secara fisik dia mengingatkan aku padamu. Mungkin dia lebih ganteng (itu katamu lho) tapi sikapnya jauh lebih menyebalkan. Seandainya dia tidak sering mengomentari tingkah lakuku dan teman-teman tidak sering menggoda kami, mungkin tak akan muncul perasaan suka padanya. 
Heum, masih jelas dalam ingatan bagaimana sakitnya hati saat melihat kau punya pacar. Melihat kalian berdua itu terasa menyakitkan. Padahal bukan salahmu kalau kau punya pacar. Aku saja tak pernah mengungkapkan perasaanku padamu. Bagaimana bisa kamu tahu perasaanku. Rasa sakit itu lama-lama membuatku melupakan perasaanku.
Pria lain muncul dan membuatku berpaling darimu. Serangkaian kisah memendam cinta, jadian dan putus cinta silih berganti dan berusaha menghapus jejakmu dihatiku. Hingga akhirnya dengan tidakterduga kecanggihan teknologi membuat kita berjumpa lagi. Berawal dari sms yang timbul tenggelam sampai akhirnya pada acara telpon-telponan yang membangkitkan kenangan masa lalu.
Awalnya memang terprovokasi pendapat orang-orang yang peduli dengan kesendirianku. Namun lama kelamaan cinta SMA itu muncul kembali bahkan jauh lebih nyata. 
Sayangku, aku akui terkadang muncul godaan untuk dekat dengan pria lain selama kau jauh. Namun aku kembali ingat pada kata-kata yang kukatakan padamu, 
"Aku tidak cari pacar tapi aku cari calon suami, calon ayah buat anak-anakku. Aku sudah bukan gadis remaja lagi yang dengan mudahnya menjungkirbalikkan hati dengan pria-pria yang kutemui. Aku sudah terlalu lelah untuk terus belajar memahami pria yang silih berganti. Aku ingin memahami satu pria saja sekarang."
Sayangku, sebenarnya kekhawatiran-kekhawatiran yang sering kau ungkapkan adalah kekhawatiranku juga. Membina sebuah keluarga bukan hal yang mudah. Penuh rintangan dan cobaan. Namun ingatlah kita menjalaninya bersama-sama. Bukan hanya kau atau aku saja. Bukan juga tentang tetangga atau saudara-saudara yang selalu jadi kritikus kehidupan yang kelak akan kita jalani. 
Semuanya kembali pada kita. 
Aku mungkin terlalu banyak membaca novel dan menonton film romantis, tapi aku masih realistis. Masalah ekonomi adalah masalah paling menggelora bagi yang membina rumah tangga. Namun sebagai umat beragama kita tidak boleh menyerah dan putus asa. Selama kita mau berusaha dan berdo'a Sang Pencipta pasti memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya. 
Sayangku, awalnya aku agak risau saat harus bercerita pada orang tuaku tentang dirimu. Ternyata di luar dugaan  mereka begitu welcome. Maka dari itu sayangku, aku ingin mereka lebih mengenalmu supaya mereka menyayangimu dan semakin yakin untuk melepasku bersanding denganmu.
Sayangku, kangen adalah kesibukanku selain mengajar. Setelah bertemu rasa kangennya bukan berkurang tapi malah bertambah.  Rasa-rasanya terdengar gombal ya, tapi itulah yang terjadi.
Jadi sayangku bertahanlah sampai perjuangan kita membuahkan hasil. Aku akan menunggu sampai hari itu tiba. hari di mana perasaan ini menjadi sesuatu yang halal di mata dunia dan di hadapan Sang Pencipta.
"Saranghae Mang Toyib, dulu, sekarang dan selamanya." 

Leles, 8 Juni 2012

Yang Kedua
Luka itu tertoreh lagi, sayang. Tidak bertambah lebar hanya semakin dalam. Inilah dampak negatif dari memiliki ingatan yang kuat. Sekali luka tergores akan bertahan jauh lebih lama bahkan lebih menyayat saat luka baru muncul di atas luka itu.
Ketika kau diam mereka beranggapan kau mengakui semua perkataan mereka. Sebaliknya ketika kau bersuara mereka beranggapan kau tidak sopan. Sampai kapanpun tidak akan menang. Perisai yang mereka persiapkan selalu dinaungi makhluk bernama "etika".
Kesetaraan antara hak dan kewajiban itu hanya bergaung indah dalam teori. Kemanusiaan itu terbelit rasa aman dan kepentingan. Keadilan pun lebih sering dimaknai beragam. Inilah dunia manusia, sayang.
Pride and Prejudice, kebanggaan dan prasangka, begitu judul novel Jane Austen. Rasa bangga kadang dikompori prasangka yang berbahaya. Prasangka sendiri kadang dibayang-bayangi rasa bangga.
Kau pun tidak jarang bertingkah seperti itu sayangku. Berkali-kali kau mengatakan, "aku tidak suka kalau kau berprasangka?" Padahal sayangku, selama ini kau sendiri terlalu berprasangka padaku. Kau menduga aku hanyalah gadis manja-si anak manis ayah- yang hidup tanpa derita. Yah, begitulah kira-kira yang tampak dari luar.
Luka itu terlalu banyak hingga tanpa terasa mengendap dalam hati. Luka itu terkondensasi dalam urat nadi.  Luka itu ditorehkan dengan judul mengasihi. Luka itu terbumbui status diri.
Sayangku, bukan hanya kau yang tumbuh disirami lara hati. Hidupku sendiri sarat dengan emosi.
Kita tidak pernah memilih dilahirkan atau dibesarkan siapa. Namun orang-orang-yang katanya mengenal dan menyayangi kita-sering kali mengklasifikasikan kita. Mereka entah sengaja atau tidak membentuk karakter kita menjadi pribadi yang penuh torehan luka yang sekilas tak terbaca tapi benar-benar nyata.

Leles, 21 Juni 2012

Yang Ketiga

Aku tidak tahu apa kau pernah membacanya atau tidak, Sayangku.
"Tidak ada orang yang akan dapat mengerti orang lain dengan benar." Kata-kata itu sering aku dengar saat aku mengeluh tentang "kenapa orang tidak mengerti diriku". Dan dirimu pun sama saja. Maksudku untuk memahamimu malah kau tanggapi dengan ketidaksukaan. Kau bilang aku terobsesi dengan kebiasaanku untuk menebak-nebak keadaan seseorang. Asal tahu saja ini namanya "feeling".
Sayangku, aku akui feeling ini tidak selalu tepat. Namun semakin diasah feeling ini bisa semakin kuat.
Semua orang bicara dan semua orang mengeluh, aku dengan sabar mendengarkan. Lalu saat aku mengeluh dan berbicara, hanya nasihat menjatuhkan semangat atau berpura-pura pedul yang kuterima.
Kali ini pun kau akan bicara, "aku terlalu berprasangka". Sayangku, aku cukup mampu untuk membedakan sikap tulus atau pura-pura. Aku bukan gadis kecil lagi yang dapat berhenti menangis hanya dengan diberi sebuah balon atau es krim.
Cukup rasanya aku mendengar pertengkaran dengan mengatasnamakan kedewasaan, perintah berbumbu kasih sayang, sindiran penyejuk kalbu, dan umpatan penuh manja. Semua itu terlalu lama mengendap dalam urat nadiku. Terlalu lengket untuk dilepaskan. Perlu berkali-kali destilasi untuk memisahkannya.
Sayangku, kau pernah berkata "aku ikut apa pun yang kau inginkan". Wow, terdengar begitu menggoda. Namun tidak bagiku. Kata-kata itu justru membuatku berpikir "hanya aku yang menginginkan ikatan ini". Padahal sesuatu baru disebut ikatan jika ada dua pihak yang berinteraksi.
Sayangku, sekali lagi aku tegaskan akan ada "kita" kalau kau juga ikut serta. Aku ingin hatimu yang menginginkannya. Bukan karena aku yang mendorongmu untuk melakukannya.
Jadi sayangku, jika hatimu berada di frekuensi yang sama dengan hatiku, jangan pernah membuatku merasa dan berpikir "kau ingin aku melepaskanmu"...
Leles, 10 Juli 2012

Yang Keempat

Sayangku, gelombang elektromagnetik sedang tidak bersahabat dengan kita saat ini...
Apa kau ingat saat belajar di sekolah dasar dulu, guru sering menggunakan teknik dikte untuk membantu kita menulis materi pelajaran?
Saat itu kita memang masih polos dan memang sangat memerlukan teknik tersebut. Namun saat ini, saat usia kita merambat naik, teknik tersebut berdampak kurang menyenangkan. Sisi egois kita sebagai manusia dewasa akan kurang menerima. Perlu teknik lain untuk memberikan informasi agar sisi egois kita sebagai manusia dewasa dapat menerima.
Kata "memberi tahu" saja bisa bermakna "menggurui" kalau kita menggunakan teknik yang kurang tepat. Kita pun kadang seenaknya menggunakan kata "penyeragaman" untuk mengaburkan keinginan kita untuk "pemaksaan pendapat". Kalau sudah seperti itu bagaimana dengan kata "kreatif" dan "inovatif"? Apakah hanya jadi kecakapan artikulasi supaya kita terkesan menerima perubahan dan perbedaan?
Heum manusia itu lucu ya, sayangku. Ada orang yang punya ambisi tinggi untuk mencapai suatu posisi. Dia bahkan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya. Dia tidak peduli lagi dengan hak asasi, seolah-olah melupakan nilai-nilai sosial dan nilai-nilai yang diajarkan agama, hingga tak jarang berusaha menjatuhkan orang yang dianggap lebih mampu darinya. Namun sayangku tahukah kamu? Ketika kita berusaha menjatuhkan orang lain justru kita sendiri yang sedang jatuh.
Sayangku, aku tidak tahu sampai kapan dapat bersabar. Setiap saat mereka selalu menggelitik dan menipiskan kesabaranku. Mereka pun lebih sering menyulut amarah yang berusaha kuredam. Dan ketika amarah serta kesabaran ini habis, mereka justru makin mengolok-ngoloknya dengan kata-kata bijaksana yang menggergaji kerendahan hati.
Sayangku, aku tahu aku banyak mengeluh. Aku tahu kau pun mungkin bosan dan terkadang bingung harus berbuat apa. Tidak perlu risau. Cukup dengarkan aku saat aku mengeluh. Kau pun boleh memberikan komentar untuk menyatakan eksistensimu saat aku mengeluh. Pinjamkan punggungmu saat airmataku mulai tumpah, kau pun boleh menyediakan tisu atau saputanganmu.
Heum, saat ini aku benar-benar merindukanmu. Mudah-mudahan saja gelombang elektromagnetik kembali bersahabat dengan kita hingga rindu ini bisa sedikit terobati.
Jinja bogoshipda urri oppa,,,
Leles, 12 Juli 2012

Yang Kelima

Sayangku, saran-saran ajaibmu saat ini tidak diterima emosiku. Terlalu banyak kejutan yang menjungkirbalikkan emosi. Terlalu banyak rasa tidak menyenangkan yang melingkupi hari-hariku.
       Sekerat gendok, sebongkah kesal, setumpuk rindu dan limpahan sayang menjadi menu yang menyehatkan untuk bulan ini. Pekerjaanku memang tidak banyak menggunakan kekuatan fisik tapi teramat sangat menguras emosi.
       Kesejahteraan macam apa yang hendak ditawarkan jika yang terjadi justru ketidaksejahteraan. Dengan sangat sopan meminta untuk meluangkan lebih banyak waktu dan tenaga untuk pekerjaan dengan iming-iming kesejahteraan. Mau tidak mau harus memenuhi beban kerja yang dicanangkan. Ditambah lagi serentetan efek maha dahsyat yang lebih keren dari special effect film hollywood. Belum lagi rasa-rasa negatif yang berkembang karena "yang belum" dan yang "sudah".
       Uh, rumitnya masalah kesejahteraan ini, lebih rumit dari soal kalkulus. Hak dan Kewajiban bersahutan meminta untuk ditunaikan.
       Heum, aku memang seperti petasan kalau sudah mengeluh. Maka dari itu sayangku biarkan aku meledak dulu baru kau bicara. Kalau dari awal sudah dikomentari mana bisa meledak petasannya.
       Hadeuh esmoninya lebih banyak yang rasa asem nih. Ngomong sedikit aja bisa buat naik darah. Meski begitu tidak mengikis rasa yang ada dalam dada. Justru rasanya makin beraneka dan jauh lebih kuat. Lebih segar dan lebih nikmat dari es buah mati rasa atau mie ayam tanpa kisal.
       Jadi honey bunny tweety, wherever you're whenever you go, i'll be right here waiting for u...


                                                              Leles, 27 Juli 2012

Yang Keenam

Tak terasa sudah enam surat yang kutulis. Aku tidak tahu apakah kau pernah membacanya atau tidak.
Sayangku, beberapa minggu terakhir ini merupakan masa-masa paling berat dalam hidupku. Setelah tujuh tahun berlalu aku kembali bertanya mengenai alur yang telah kupilih. Sebenarnya bukan penyesalan yang kugaungkan. Namun betapa mudahnya menerbitkan dan menenggelamkan harapan seseorang.
Pernahkah kau mengalami, saat di mana kau tidak bermimpi tapi "sistem yang berputar di sekeliling" memaksa untuk bermimpi, tapi saat mimpi itu memberimu jalan untuk meraihnya, "sistem yang berputar di sekeliling" justru merasa bimbang untuk memberi jalan. Betapa sakitnya hati, itulah yang kurasakan.  "sistem yang berputar di sekeliling" dengan penuh kearifan menginjak-injak harga diri.
Ya sayangku, aku tahu hidup kita adalah atas kehendak Sang Pemilik Hidup. Aku hanya bisa pasrah dengan semua yang sudah ditulisNya untukku. Namun rasa ini tidak akan hilang begitu saja. Apakah disebut bertanggung jawab bila kau menerbitkan harapan dan di kemudian hari justru ingin menenggelamkan harapan itu?
Hal itulah yang mengoyak-ngoyak ketenangan jiwa.Sama halnya saat kau berkata, "jika ada yang datang padamu saat aku belum siap, maka aku rela kau bersamanya". Ya, aku mengerti sekaligus sakit hati. Asal kau tahu, aku tidak akan memaksa siapapun untuk bisa bersamaku.
Hidupku tidak semudah dan seindah yang dipikirkan orang. Terlalu banyak hal menyakitkan dalam hidup. Terlalu banyak kearifan yang pada akhirnya menggerus rasa amanku. Aku terlalu lelah tuk berharap, terlalu penat tuk bermimpi, jadi akan kuikuti saja alurnya. Aku percaya hidup manusia Tuhan yang mengatur, bukan aku, kamu ataupun  "sistem yang berputar di sekeliling" .
Semoga Tuhan menuliskan kita dalam buku cerita yang sama, menjadikan aku dan kamu dalam "kekitaan" yang dinaungi rahmat dan kasih-Nya.

Leles, 4 Agustus 2012

Yang Ketujuh

"Sakit ya? sakit jiwa?" katamu sambil tertawa senang.
Enak saja kau mengataiku sakit jiwa. Uuuuh awas kau kalau pulang nanti. Tapi tunggu sebentar! Rasa-rasanya perkataanmu memang benar sayangku. Aku sakit jiwa, bahkan sudah pada tahap kronis.
Bayangkan saja, kau baru saja melangkah keluar dari teras, aku sudah hampir menangis karena sedih. Kau bilang pergi ke RS, pikiranku sudah melantur ke mana-mana. Kau tidak mengajakku bertemu teman-teman, wuih kesalnya segunung.
Padahal seharusnya dan biasanya tidak begitu. Kemarin-kemarin aku pasti akan bersikap sama menyebalkannya dengan sikapmu.
Seandainya saja sekolah belum di mulai, sakitku pasti tambah parah. Setiap menit hanya ingat padamu dan sesekali meneteskan air mata. Fiuh sayang sekali air mataku, terus terkuras. Masih mending putri duyung, air matanya jadi mutiara. Lha aku, yang ada mataku makin sipit. Dan kau pasti akan dengan senang hati menceramahiku sambil tertawa senang.
Wah, wah,wah, gawat ini. Setiap tempat yang pernah kita lewati malah mengingatkan aku padamu. Rasa-rasanya kau ada di sana berdiri memandangku. Aduh benar-benar sudah kronis, ini. Wangi minyak rambut saja langsung membuatku ingat padamu.
Benar-benar gawat. Aku paling malas kalau harus mengalah pada pria. Sisi kewanitaanku bisa terluka kalau harus sering-sering mengalah pada pria. Namun ajaibnya, padamu aku sering berusaha untuk mengalah. Bukan hanya itu, ibuku saja sudah menyerah untuk mengingatkan aku mengenai "makan teratur" tapi adanya dirimu, kata-kata jutekmu (kalau aku tidak menurut) dengan sendirinya menggiringku untuk makan.
Heum benar-benar sudah stadium lanjut, sakitnya. Sudah pada tahap tidak ingin menggantikanmu dengan orang lain.
Maka dari itu, aku bersyukur pada Tuhan karena telah mengirimmu untuk memasuki kehidupanku.
Thank you for loving me. Kamu membuatku merasakan kembali kangen, cemburu, menunggu yang sangat mengasyikan, dan takut kehilangan. Hadirmu membuatku lebih mampu untuk berpikir objektif, lebih tegar dan lebih memaknai hidup.
Semoga Tuhan menuliskan kita dalam satu kisah yang sama. Mewujudkan keakuan dan kekamuan dalam kekitaan.

Leles, 31 Agustus 2012

Yang Kedelapan

"Tuhan, hamba tidak ingin goyah lagi, tapi dia sering membuat hamba kembali mempertanyakan semuanya."
Aku punya ketakutan dan rasa maluku sendiri. Hanya saja aku berusaha tidak mengungkapnya dengan alasan yang kurasa cukup baik untuk dilaksanakan.
Aku belajar dari kisah-kisah yang lalu dan berusaha mengikis keegoisanku. Namun aku manusia, aku punya batas kesabaran. Aku bukan anak kecil yang harus selalu marah agar keinginannya dituruti.
Aku tidak tahu sampai mana kesabaran ini bisa ku kelola. Aku takut kelak hatiku kembali beku. Keegoisanku kembali meraja dan sisi Feminimku membentuk perisai.
Seandainya hanya memikirkan diri sendiri, mungkin aku akan tetap sendirian. Aku akan semakin bersikap antipati terhadap kata "untuk kekitaan" dan "kebersamaan". Benteng keegoisanku akan semakin tinggi dan tidak mudah dijangkau.
Namun aku bukan hanya aku, aku adalah anak orang tuaku, kakak dari adik2ku, ibu dari anak-anak asuhku, cucu dari kakek nenekku. Dengan posisi yang aku bukan hanya aku inilah aku belajar untuk lebih memaknai hidup.
Aku akui, aku juga memiliki sifat-sifat yang sangat susah dihilangkan. Namun aku berusaha mengikisnya. Kumaknai semua kata, semua cerita yang akan membuatku semakin dewasa. Kumaklumi semua yang harus mengerti. Kutelaah semua rasa dan emosi jiwa.
Bisakah sekali saja kau menempatkan diri diposisiku? Bisakah sejenak saja kau mencoba memahamiku? Bukan hanya kau yang merasa takut? Bukan hanya kau yang punya rasa malu?
Ingatlah ini tentang kita, bukan tentang aku atau kamu.

Leles, 2 September 2012