Holla Fiola

Holla Fiola Balarea

Selasa, 26 Maret 2013

Rabu Merenung

Kadang aku sendiri merasa ajaib dengan jalan pikiranku yang terkadang selalu berada di frekuensi yang berbeda dengan orang lain. Hal itu tentu saja menimbulkan perdebatan panjang lebar yang terkadang berakhir dengan kehampaan. Apalagi bila ada orang-orang yang selalu merasa dirinya "lebih". Dan hari ini pun muncul renungan-renungan yang sebenarnya sudah lama bersemayam dalam kepalaku. 
#Bukan selalu ingin berdebat atau tak mau kalah, bila kita merasa kita manusia, dengan segala kemanusiaan kita, kenapa kita tidak boleh menyuarakan aspirasi kita sementara orang lain boleh melakukannya... 
#Memanusiakan manusia, mengindonesiakan bahasa Indonesia? Ungkapan yang tragis ... 
#Kadang kita selalu berkata prosedur, juklak, juknis, wadaw kata sakti,,, tapi kita juga terkadang karena ingin lebih mudah melupakan kata2 sakti tersebut saat berada dalam sebuah situasi ,,, kalau sudah demikian kata2 sakti tersebut hanya terkesan sebagai kata2 untuk alasan dalam pembelaan diri kita... 
#Dari hasil perenungan dan bacaan, sikap tak ingin terkalahkan yang dimiliki seorang pria mengakibatkan dia merasa jengah bila ada wanita yang pandai...
#Bukan masalah apa yang penting dan kurang penting tapi lebih ke menumbuhkan rasa percaya diri dan mengikis rasa takut... 
#Jalan paling mudah saat semua terasa menyesakkan adalah berdamai dengan diri sendiri...
#Dramatisasi cerpen atau puisi mungkin menakjubkan tapi dramatisir semua masalah pastinya sangat memuakkan... 
#"saya mampu sendirian," kata-kata sakti, memang. Namun tidak ampuh bila dihadapkan pada hakikat manusia sebagai makhluk sosial ...


Senin, 07 Januari 2013

HARI PERTAMA

        Hari pertama semester 2 tahun ini diawali dengan hujan dan diakhiri dengan hujan. Begitu sampai ke ruang guru langsung disuguhi obrolan mengenai kurikulum 2013 dan sepiring kue bolu. Dengan bergulirnya detik ke menit obrolan makin seru dan heboh. Ditambah lagi dengan topik baru mengenai nilai siswa di semester 5. Tak ada hentinya kata-kata berloncatan menyuarakan isi hati.
        Ada yang begitu santai dan menanggapi semua dengan senyuman. Ada yang terlihat panik karena jam pelajarannya berkurang. Ada yang mulai mengatur strategi untuk pemenuhan jam sertifikasi. Dan adapula yang malah heboh mengungkit tentang ketidaktahuan diri mengenai apa yang terjadi.
        Suasana makin heboh. Semua orang asyik dengan kelompoknya sendiri membahas apa yang sebenarnya, belum benar-benar, dimengerti. Saat semua orang tengah sibuk, Miss Chiby-Chiby memutuskan untuk melihat anak-anaknya. Dia mengecek kehadiran mereka dan menginterogasi anak yang tidak melaksanakan sholat Jum'at di sekolah.
        Obrolan-obrolan penuh petuah dengan sendirinya mengalir deras dari bibir  Miss Chiby-Chiby. Komentar-komentar pedas tentang perilaku siswa pun tak lupa dia sertakan. Sepertinya bibir Miss Chiby-Chiby langsung menemukan kembali keahliannya untuk berkata-kata setelah dua minggu lebih banyak diam.
        Hampir dua minggu penuh Miss Chiby-Chiby tidak bertemu siswa. Jadi wajar bila mulut bawelnya langsung beraksi saat bertemu mereka. Selama libur dua minggu mulut bawelnya itu hanya digunakan untuk berdebat dengan adiknya dan Mr. Anyun.
        Ketika waktu istirahat tiba, Miss Chiby-Chiby tidak duduk-duduk di ruang guru. Dia pergi ke mesjid. Dalam resolusi tahun 2013 yang ditulis di diarynya, Miss Chiby-Chiby menuliskan ingin rajin sholat Dhuha. Makanya saat melihat ruang guru penuh, dia putar arah ke mesjid.
       Teman-teman dekat Miss Chiby-Chiby sudah tahu kalau dia lebih sering berada di perpustakaan saat istirahat tiba.
        Miss Chiby-Chiby gerah berada di ruang guru. Semua orang senang sekali menggodanya untuk balik to the mantan. Belum lagi the mantannya yang suka centil. Niat Miss Chiby-Chiby untuk memperbaiki silaturahmi malah jadi kacau. Setiap mereka bicara berdua pasti komentar bermunculan. Padahal yang dibicarakan hanya masalah pekerjaan. Jadi daripada telinga jadi rombeng Miss Chiby-Chiby lebih memilih untuk semedi di perpustakaan.
        Tiga jam terakhir di hari Senin memang khusus untuk XI IPA1. Miss Chiby-Chiby betah berlama-lama di kelas daripada berlama-lama di ruang guru. Miss Chiby-Chiby tidak membuang-buang waktu. Dua kelas yag dimasukinya langsung diberikan tugas untuk semester 2. Miss Chiby-Chiby tak mau keteteran seperti semester kemarin. Semester ini kecepatannya mau ditambah hingga geraknya bukan lagi GLB tapi jadi GLBB.
       
       

Selasa, 11 September 2012

Sunrise untuk Aya


Aku tahu sekalipun Aya berkata dia merasa cukup dengan memiliki seorang ibu saja, sebenarnya dia merindukan kehadiran seorang ayah. Dia perlu sosok yang bisa dijadikan sebagai pelindung. Ada satu ruang yang tak bisa kupenuhi. Alasan itulah yang membuatku setuju untuk kembali pada Zaki.
Aya memang tak pernah meminta banyak. Dia tahu keadaan kami. Namun aku ingin dia bisa mendapatkan pendidikan yang bagus. Aku tak ingin menghambat kecerdasannya. Aku ingin bisa menyekolahkannya sampai perguruan tinggi.
Kasih sayangku yang begitu besar padanya membuatku rela menggadaikan kebahagianku untuk kenyamanan hidupnya. Aku mungkin akan menyesal karena melepas orang yang kucintai. Namun cintaku pada Aya jauh lebih besar.
“Pulang honeymoon aku dapat adik ya?” seru Aya saat Zaki dan aku akan pergi bulan madu.
“Kamu harus meyakinkan mom untuk mewujudkannya.” Zaki menudingku dengan ekor matanya.
Aku hanya menanggapinya dengan senyuman.
“Kamu jangan merepotkan oma dan opa ya?” Aku memeluk Aya kemudian berbisik, “kau tahu sendiri Papa menyita handphone mom.”
Airmataku tak berhenti mengalir meskipun mobil yang dikendarai Zaki sudah melaju jauh dari rumah. Ini akan jadi perpisahan terlama dengan Aya. Kami tak pernah berpisah selama 13 tahun. Dan sekarang Zaki akan membawaku ke suatu tempat selama satu minggu.
Zaki tidak menyebutkan tempatnya dengan jelas. Dia seolah-olah sengaja ingin memilikiku selama satu minggu. Dia melarangku membawa novel dan notebook. Dia bahkan menyita handphoneku. Dia takut aku akan menghubungi Zidan dan memintanya menyelamatkanku.
Kami sampai di tempat honeymoon menjelang magrib. Selesai menunaikan kewajiban sebagai umat beragama Zaki mengajakku makan malam. Dia menyiapkan makan malam istimewa di halaman depan villa yang kami tempati. Selesai makan dia mengajakku berjalan-jalan di pantai, menikmati cahaya bulan yang agak redup.
“Aku akan melakukan semua hal yang seharusnya sejak dulu kulakukan.” Zaki menggenggam tanganku lalu membawaku duduk di pasir.
Kata-kata Zaki seolah jadi mantra yang mengembalikan ingatanku pada peristiwa 14 tahun yang lalu.

Hari itu aku baru saja pulang KKN. Ibu memintaku segera berdandan. Aku sendiri bingung tapi ibu menyeretku ke kamar kemudian memaksaku memakai kebaya. Rupanya hari itu keluarga Zaki datang melamar.
Sebelumnya ibu memang sudah bercerita bahwa  aku ayah sudah mencarikan calon untukku. Ayah akan menjodohkan aku dengan anak sepupu jauhnya. Sebenarnya dulu ayah dijodohkan dengan ibu Zaki tapi ayah malah memilih ibu. Hal itulah yang membuat nenek mengucilkan keluarga kami.
Makanya saat nenek mengatakan ingin menjodohkan aku dengan Zaki, ibu langsung setuju. Dia ingin memenangkan hati nenek. Sebenarnya aku ingin menolak tapi kata-kata ayah menahanku.
“Selama ini ibumu merasa tidak nyaman. Dia tidak pernah menjadi menantu seutuhnya. Kalau kali ini kita mengecewakan nenek maka ibumu akan semakin tertekan.”
Bagai kerbau dicocok hidungnya, aku pun menuruti permintaan ayah dan ibu. Tanpa banyak bicara aku mengkuti semua hal yang diminta mereka. Aku bahkan hampir tidak berpikir lagi.
Ternyata Zaki pun merasa terpaksa memenuhi permintaan neneknya. Zaki lebih sering menghabiskan waktu dengan laptopnya daripada bicara denganku. Hingga aku mengandung Aya pun sikapnya tak banyak berubah. 
"Dokter bilang bulan depan bayi kita lahir. Masa kau masih mau pergi melanjutkan S3 ke Swedia?"
"Kesempatan ini tak akan datang dua kali."
"Begitu pun dengan bayi ini." Aku menghempaskan pakaian Zaki yang sedang kulipat lalu pergi ke dapur.
"Juni!" Zaki menyusulku ke dapur.
"Terserah kau saja. Kalau pergi sekarang, jangan harap kau bisa melihat kami lagi."
"Juni mana bisa begitu."
"Kau sendiri yang bilang bulan depan baru pergi."
"Iya, tapi sekarang aku harus mengantar putri bos yang akan kuliah di sana."
Aku tidak menghiraukannya. Aku kembali ke kamar lalu mengemasi barang-barangku. Aku menelpon adikku untuk menjemput.
Hari itu adalah hari terakhirku melihat Zaki. Setelah tiba di Swedia Zaki malah menghamili putri bosnya. Gadis itu memaksa Zaki menikahinya.
Kejadian ini hampir membuatku kehilangan Aya. Aya harus lahir satu minggu lebih cepat karena aku mengalami pendarahan. Dia bahkan harus masuk ruang perawatan khusus.
Setelah kondisiku pulih dan Aya dinyatakan sehat. Aku meninggalkan rumah. Aku memutuskan semua komunikasi dengan keluargaku. Aku tak ingin terus menerus dikasihani oleh mereka. Aku ingin mengobati luka hatiku.

"Kau begitu asyik dengan lamunanmu." Zaki menarik tubuhku mendekat. Dengan gerak refleks aku menjauh, menghindari dekapannya. "Kau masih merindukan dia?" Zaki menuduhku. Tatapan matanya penuh kekecewaan. "Juni aku suamimu. Akulah yang seharusnya ada dalam benakmu sekarang."
"Aku tahu. Maaf aku hanya masih belum terbiasa."
"Ini bulan madu kita tapi kau seolah sedang menikmati masa berkabung. Aku tahu aku yang meninggalkanmu. Tapi Juni aku sudah menyesali semuanya selama 13 tahun ini."  Zaki menatapku penuh rasa getir dan sesal. "Aku tahu Zidan sangat berarti bagimu. Tapi percayalah cintaku tak kalah besar bila dibandingkan dengan cintanya. Kesalahanku hanya satu, aku tidak mendengarkanmu saat kau bilang jangan pergi."
"Bukan hanya itu, kau juga sudah membuatku kesepian dengan menjadi istrimu." Aku mulai kesal. "Pekerjaanmu jauh lebih berharga dibanding aku. Jangan melibatkan Zidan dalam masalah kita. Seharusnya kau minta maaf padanya, untuk kedua kalinya Zidan harus merelakanku bersanding denganmu."
"Apa?"
"Dulu demi memenuhi permintaan orang tua, aku terpaksa memutuskannya padahal saat itu kami sudah berencana untuk menikah. Dan sekarang demi Aya, aku harus kembali memutuskannya."
"Jadi kau kembali padaku hanya demi Aya?" Zaki tampak tidak menerima ucapanku. Harga dirinya terhempas.
"Iya, demi Aya. Supaya Aya memiliki keluarga lengkap. Supaya Aya dapat menjadi sarjana. Supaya Aya dapat hidup berkecukupan."
"Ternyata begitu. Wanita tak pernah memandangku layak untuk dicintai. Kau menikahiku demi memenuhi permintaan orang tuamu dan Aya, putri bosku memaksaku menikahinya untuk menutupi aib."
Zaki berjalan menjauhiku. Dia mengambil mobil lalu mengendarainya entah ke mana. Sementara itu aku kembali ke kamar hotel lalu merenungkan semuanya. 
Pagi harinya pelayan menelpon ke kamar dan memberitahukan bahwa mertuaku menelpon. Aku segera menelponnya kembali. Ternyata Aya masuk RS karena sakit Asmanya kambuh.
Selesai menelpon aku segera mengemasi pakaian dan mencari kendaraan untuk kembali ke Bandung. Aku langsung menuju RS tempat Aya di rawat. Dokter bilang Aya kecapean tapi kondisinya sudah stabil sekarang. 
Zaki datang menjelang malam. Dia terlihat sangat lelah dan menderita. 
Aya di rawat selama tiga hari. Begitu dokter mengizinkannya pulang, Aya memaksa ingin pergi ke pantai. Ingin melihat matahari terbit bersama Mom dan Pap, katanya.
Setelah berkonsultasi dengan dokter kami pun pergi ke pantai. Aya terlihat sangat bahagia melihat ayah dan ibunya bersama-sama. Malam harinya dia minta tidur ditemani aku dan Zaki.  
Menjelang subuh aku terbangun dan melihat Zaki tak ada di kamar. Aku pun pergi ke ruang duduk untuk mencarinya. Ternyata dia sedang berdo'a pada Yang Maha Kuasa. Dia menyadari kehadiranku lalu mengajakku sholat berjamaah. Aku mengiyakan dan segera bersiap-siap.
"Maafkan aku sudah menyakiti hatimu."
"Aku juga minta maaf. Mari kita buka lembaran baru, demi Aya dan demi hati kita."
"Demi Aya dan demi hati kita." Zaki menggenggam erat tanganku. 
Aku mendekat lalu merebahkan kepalaku di dada dan memeluknya. Lama kami terdiam dan membiarkan getaran-getaran hati kami yang bicara.
"Katanya mau lihat sunrise?" Aya berjalan mendekati kami.
Zaki tersenyum lalu merengkuhnya ke pangkuan.
"Bidadari kecilku, segera setelah kau sholat kita lihat Sunrise." Ujar Zaki sambil mengecup puncak kepala Aya.
"I Love U mom and Pap." sahutnya sambil memeluk kami berdua.
Leles, 18 Mei 2012

Bakmi Rica-Rica, Jus Stroberi dan Sebuah Jaket


Kalau saja lambungku tidak berteriak minta jatah, aku tak akan duduk dan makan sendirian di sini. Ada rasa nyaman yang tiba-tiba saja merasuk saat aku duduk sendirian di tengah restoran. Aku lebih memilih kelaparan daripada harus duduk sendirian.
Namun hari itu dengan berat hati aku masuk ke restoran di sebelah kanan Gramedia. Restoran ini terkenal dengan baksonya. Begitu masuk aku langsung duduk di kursi yang dekat dengan jendela. Itu satu-satunya kursi kosong yang tersedia.
Sementara menunggu makanan dihidangkan, iseng-iseng aku membuka novel yang baru kubeli.
“Tenggelam dalam karya Jane Austen!” tegur seseorang,
Aku mengangkat wajah dari novel lalu mencari si pemilik suara.
"Ini satu-satunya kursi yang kosong.” Ujarnya sambil tersenyum. “Selesai makan saya akan langsung pergi.” Lanjutnya saat melihatku ketakutan.
“Jus Stroberi dan Bakmi Rica-Rica.” Seru pelayan sambil menghidangkan makanan di meja. “Selamat menikmati.” Lanjutnya sambil berlalu pergi.
“Panas panas begini memang enak yang pedas dan asam.” Ujar si pria sambil menyeruput jus stroberinya.  
Aku mengangguk lalu mulai makan.
“Anda pulang kerja?”
“Iya, Anda sendiri”
“Sebenarnya saya masih dalam jam kerja. Saya janji bertemu dengan seseorang tapi dia tidak datang.”
Sepertinya dia mau kencan buta. Heum kami senasib. Janji bertemu dengan seseorang tapi yang ditunggu tidak datang.
“Penggemar jane Austen?”
“Begitulah.”
Setelah mendengar jawabanku mengalirlah cerita mengenai Jane Austen dan beralih ke kehidupan sehari-hari. Saking asyiknya bercerita tentang pekerjaannya sebagai ahli komputer dia sampai menumpahkan jus stroberinya. Tetesannya mengenai bajuku.
“Maaf!”
“Tidak apa-apa.”
“Pakai saja jaket saya.”
Dia terus-terusan memaksa hingga aku terpaksa menurut.
“Tulislah nomor Anda di sini. Nanti saya akan menghubungi Anda untuk mengambil jaket.” Pria itu memintaku menulis di struk pembayaran.
“Saya harus kembali bekerja! Pria itu berdiri kemudian memasukan struk pembayaran ke saku mejanya. Senang bertemu dengan Anda.” Ujarnya sebelum pergi
Aku menjawabnya dengan senyuman kemudian merapikan belanjaanku. Dari jendela kulihat dia melambaikan tangansambil tersenyum kemudian menjalankan motor besarnya.
       Satu minggu berlalu dan “si pemilik jaket” masih belum menghubungiku. Aku tak banyak ambil pusing. Ku cuci jaket itu lalu kumasukan ke dalam kotak dan kusimpan dalam lemari pakaian. Aku punya banyak pekerjaan selain menunggu telpon darinya.
“Masih ingat dengan janjimu pada ibu?” Kak Terry memandangku yang sedang asyik membaca buku cerita bersama Terry.
“Tentang dijodohkan kalau sampai usia 27 aku masih belum menikah?”
“Untunglah kalau kau masih ingat. Ayah dan ibu sudah menitipkanmu padaku. Jadi sebagai walimu aku akan menunaikan janjiku pada mereka.”
“Aku menurut saja.”
       Sebelum ibu meninggal aku pernah berjanji, kalau sampai usia 27 aku masih sendiri maka aku rela dijodohkan dengan lelaki yang dipilih kakakku. Aku tidak ingin mengingkari janjiku. Maka aku akan menurut saja dengan keputusan yang dibuat kakak. Aku mengenal Kak Terry dengan baik. Dia tak mungkin menjerumuskanku dalam kegetiran.
      Seandainya saja “si pemilik jaket” menelpon, mungkin aku masih punya harapan. Meski baru pertama bertemu aku sudah sangat terkesan. Kehadirannya menerbitkan harapan dalam hati. Harapan untuk kembali bisa mencintai seseorang.
      Terus terang aku merasa tidak nyaman dengan kesendirianku. Teman-teman di sekolah terus menggodaku agar kembali pada sang mantan. Mereka juga sering mengoyak ketenangan batin dengan mengungkit status single-ku.

            “Tara, orangnya sudah datang.” Kak Mia-istri kakakku- masuk ke kamar dan mengecek kesiapanku.
            Aku merapikan riasan lalu mengikuti Mbak Mia ke ruang tamu.
            “Lho Bakmi Rica-Rica?”
            “Jus Stroberi?”
Kak Terry menatap kami bergantian, wajahnya terlihat bingung.
Aku pun menceritakan kejadiannya.
  "Jadi dia si pemilik jaket yang telponnya selalu ditunggu?" Kak Mia menggodaku.
  "Kertasnya ikut tercuci jadi nomornya hilang." Dia menyerahkan struk pembayaran yang sudah kusam dan keriting.
"Ibu pikir itu kertas apa. Taura sampai marah-marah saat tahu kertasnya ikut tercuci."
Ibunya ikut bicara dan dia jadi malu.
"Kita mulai lagi dari awal saja ya, nama saya Taufik Rahman."
  "Tara Rosalia." sahutku sambil menerima uluran tangannya.
"Aku sudah tahu," sahut Taufik sambil tersenyum jail. "Aku salah satu penggemar tulisan-tulisanmu."
"O ya?" aku sama sekali tak menyangka.
"T.R. Kom nama akun facebookku."
"Owh iya, nama itu selalu ngasih koment ke tulisanku."
"Jadi mau dilanjut atau gimana nih?" Kak Terry memandang kami bergantian.
"Tentu saja lanjut. Kalau bisa secepatnya menentukan hari baik." Ibu Taufik ikut bicara.
Aku jadi malu. Aku hanya diam saja saat acara lamaran digelar. Taufik terus-menerus menatapku. Dia sampai ditegur oleh ibunya. 
"Eh tunggu, aku ambil dulu jaket!" Seruku saat Taufik dan keluarganya akan pulang.
"Simpan saja, dah Bakmi Rica-Rica."
"Taura, masa kau memanggil tunanganmu begitu!" Ibu Taura menjewernya. 
Aku tertawa senang.
"Tara, Taura ini memang agak jail, kamu harus banyak bersabar."
"Iya bu saya akan berusaha, hati-hati di jalan bu!" sahutku sambil menyalami ibunya Taufik.
"Sampai jumpa!" Taufik mengecup pipiku lalu kabur ke mobil karena ibunya sudah siap-siap menjewer.
Aku tetap berdiri di teras sampai mobil yang membawa keluarga Taufik menghilang dari pandangan. 
Saat menutup pintu mataku tertegun menatap cincin di jari manis. Sejak kecil aku kurang suka memakai cincin tapi sekarang aku sangat menyukainya.
Pepatah bilang kalau jodoh tak akan kemana. Tuhan sudah menakdirkan kami untuk bertemu maka kami pun bertemu dengan cara yang paling indah dan tak terduga.

Leles, 8 Mei 2012

Surat Cinta


Yang Pertama
Harus kumulai dari mana? Aku sendiri lupa tepatnya kapan. Yang jelas aku sudah mengenalmu sejak masa SMP. Memang saat itu aku hanya tahu namamu saja. Masuk ke SMA cerita tentangmu mulai kudengar. Bahkan bukan hanya itu aku dapat berjumpa denganmu setiap hari kecuali hari minggu. 
Selama tahun pertama kita berada dalam satu kelas, aku hanya menganggapmu sebagai teman. Tidak pernah lebih dari itu. Mungkin karena saat itu aku sedang dekat dengan kakak kelas. Kamu juga pasti tahu jatuh bangunnya aku saat itu. 
Menginjak ke kelas dua barulah ada perasaan berbeda saat melihatmu. Aku lupa kenapa bisa begitu. Yang jelas saat itu aku sedih kalau kau marah-marah dan bersikap tidak ramah. Jujur saja kamu memang bukan yang terganteng di kelas tapi bukan itu yang membuatku suka. Aku lebih tertarik dengan kepribadianmu, juga pada kepiawaianmu di bidang olahraga.
Sejak dulu aku memang lebih sering tertarik pada orang yang berkepribadian menarik dan  piawai di bidang olahraga. Kurasa wajar saja, mnegingat aku paling senang mengamati karakter orang dan tidak piawai dalam bidang olahraga. Dari semua cabang olahraga, hanya olahraga renang yang membuatku merasa kembali memiliki harga diri. Semua orang lebih sering menyepelekan dan under estimate saat aku mengikuti pelajaran olahraga.
Punya badan yang gendut membuat orang senang menertawaimu kalau kau mencoba untuk andil dalam kegiatan olahraga. Semua kegiatan olahraga yang kau lakukan pasti dihubungkan dengan kata "ingin langsing". Sudah jadi kebiasaan manusia untuk mengolok-olok manusia lain yang berbeda dengannya. Benar-benar pembunuhan semangat. Dan sayangku kaupun sesekali suka mengomentari kemalasanku untuk berolahraga.
Haha, sayangku. Aku sendiri akan mengamuk kalau kau memanggilku begitu. Namun, aku malah asyik memanggilmu begitu. Mari kita kembali lagi ke awal sayangku. Pada pembicaraan mengenai aku, hatiku dan kita. 
Rasa-rasanya aku tahu sekarang, kenapa aku bisa suka pada teman sekelasku waktu kelas 3 SMA. Jawabannya adalah karena secara fisik dia mengingatkan aku padamu. Mungkin dia lebih ganteng (itu katamu lho) tapi sikapnya jauh lebih menyebalkan. Seandainya dia tidak sering mengomentari tingkah lakuku dan teman-teman tidak sering menggoda kami, mungkin tak akan muncul perasaan suka padanya. 
Heum, masih jelas dalam ingatan bagaimana sakitnya hati saat melihat kau punya pacar. Melihat kalian berdua itu terasa menyakitkan. Padahal bukan salahmu kalau kau punya pacar. Aku saja tak pernah mengungkapkan perasaanku padamu. Bagaimana bisa kamu tahu perasaanku. Rasa sakit itu lama-lama membuatku melupakan perasaanku.
Pria lain muncul dan membuatku berpaling darimu. Serangkaian kisah memendam cinta, jadian dan putus cinta silih berganti dan berusaha menghapus jejakmu dihatiku. Hingga akhirnya dengan tidakterduga kecanggihan teknologi membuat kita berjumpa lagi. Berawal dari sms yang timbul tenggelam sampai akhirnya pada acara telpon-telponan yang membangkitkan kenangan masa lalu.
Awalnya memang terprovokasi pendapat orang-orang yang peduli dengan kesendirianku. Namun lama kelamaan cinta SMA itu muncul kembali bahkan jauh lebih nyata. 
Sayangku, aku akui terkadang muncul godaan untuk dekat dengan pria lain selama kau jauh. Namun aku kembali ingat pada kata-kata yang kukatakan padamu, 
"Aku tidak cari pacar tapi aku cari calon suami, calon ayah buat anak-anakku. Aku sudah bukan gadis remaja lagi yang dengan mudahnya menjungkirbalikkan hati dengan pria-pria yang kutemui. Aku sudah terlalu lelah untuk terus belajar memahami pria yang silih berganti. Aku ingin memahami satu pria saja sekarang."
Sayangku, sebenarnya kekhawatiran-kekhawatiran yang sering kau ungkapkan adalah kekhawatiranku juga. Membina sebuah keluarga bukan hal yang mudah. Penuh rintangan dan cobaan. Namun ingatlah kita menjalaninya bersama-sama. Bukan hanya kau atau aku saja. Bukan juga tentang tetangga atau saudara-saudara yang selalu jadi kritikus kehidupan yang kelak akan kita jalani. 
Semuanya kembali pada kita. 
Aku mungkin terlalu banyak membaca novel dan menonton film romantis, tapi aku masih realistis. Masalah ekonomi adalah masalah paling menggelora bagi yang membina rumah tangga. Namun sebagai umat beragama kita tidak boleh menyerah dan putus asa. Selama kita mau berusaha dan berdo'a Sang Pencipta pasti memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya. 
Sayangku, awalnya aku agak risau saat harus bercerita pada orang tuaku tentang dirimu. Ternyata di luar dugaan  mereka begitu welcome. Maka dari itu sayangku, aku ingin mereka lebih mengenalmu supaya mereka menyayangimu dan semakin yakin untuk melepasku bersanding denganmu.
Sayangku, kangen adalah kesibukanku selain mengajar. Setelah bertemu rasa kangennya bukan berkurang tapi malah bertambah.  Rasa-rasanya terdengar gombal ya, tapi itulah yang terjadi.
Jadi sayangku bertahanlah sampai perjuangan kita membuahkan hasil. Aku akan menunggu sampai hari itu tiba. hari di mana perasaan ini menjadi sesuatu yang halal di mata dunia dan di hadapan Sang Pencipta.
"Saranghae Mang Toyib, dulu, sekarang dan selamanya." 

Leles, 8 Juni 2012

Yang Kedua
Luka itu tertoreh lagi, sayang. Tidak bertambah lebar hanya semakin dalam. Inilah dampak negatif dari memiliki ingatan yang kuat. Sekali luka tergores akan bertahan jauh lebih lama bahkan lebih menyayat saat luka baru muncul di atas luka itu.
Ketika kau diam mereka beranggapan kau mengakui semua perkataan mereka. Sebaliknya ketika kau bersuara mereka beranggapan kau tidak sopan. Sampai kapanpun tidak akan menang. Perisai yang mereka persiapkan selalu dinaungi makhluk bernama "etika".
Kesetaraan antara hak dan kewajiban itu hanya bergaung indah dalam teori. Kemanusiaan itu terbelit rasa aman dan kepentingan. Keadilan pun lebih sering dimaknai beragam. Inilah dunia manusia, sayang.
Pride and Prejudice, kebanggaan dan prasangka, begitu judul novel Jane Austen. Rasa bangga kadang dikompori prasangka yang berbahaya. Prasangka sendiri kadang dibayang-bayangi rasa bangga.
Kau pun tidak jarang bertingkah seperti itu sayangku. Berkali-kali kau mengatakan, "aku tidak suka kalau kau berprasangka?" Padahal sayangku, selama ini kau sendiri terlalu berprasangka padaku. Kau menduga aku hanyalah gadis manja-si anak manis ayah- yang hidup tanpa derita. Yah, begitulah kira-kira yang tampak dari luar.
Luka itu terlalu banyak hingga tanpa terasa mengendap dalam hati. Luka itu terkondensasi dalam urat nadi.  Luka itu ditorehkan dengan judul mengasihi. Luka itu terbumbui status diri.
Sayangku, bukan hanya kau yang tumbuh disirami lara hati. Hidupku sendiri sarat dengan emosi.
Kita tidak pernah memilih dilahirkan atau dibesarkan siapa. Namun orang-orang-yang katanya mengenal dan menyayangi kita-sering kali mengklasifikasikan kita. Mereka entah sengaja atau tidak membentuk karakter kita menjadi pribadi yang penuh torehan luka yang sekilas tak terbaca tapi benar-benar nyata.

Leles, 21 Juni 2012

Yang Ketiga

Aku tidak tahu apa kau pernah membacanya atau tidak, Sayangku.
"Tidak ada orang yang akan dapat mengerti orang lain dengan benar." Kata-kata itu sering aku dengar saat aku mengeluh tentang "kenapa orang tidak mengerti diriku". Dan dirimu pun sama saja. Maksudku untuk memahamimu malah kau tanggapi dengan ketidaksukaan. Kau bilang aku terobsesi dengan kebiasaanku untuk menebak-nebak keadaan seseorang. Asal tahu saja ini namanya "feeling".
Sayangku, aku akui feeling ini tidak selalu tepat. Namun semakin diasah feeling ini bisa semakin kuat.
Semua orang bicara dan semua orang mengeluh, aku dengan sabar mendengarkan. Lalu saat aku mengeluh dan berbicara, hanya nasihat menjatuhkan semangat atau berpura-pura pedul yang kuterima.
Kali ini pun kau akan bicara, "aku terlalu berprasangka". Sayangku, aku cukup mampu untuk membedakan sikap tulus atau pura-pura. Aku bukan gadis kecil lagi yang dapat berhenti menangis hanya dengan diberi sebuah balon atau es krim.
Cukup rasanya aku mendengar pertengkaran dengan mengatasnamakan kedewasaan, perintah berbumbu kasih sayang, sindiran penyejuk kalbu, dan umpatan penuh manja. Semua itu terlalu lama mengendap dalam urat nadiku. Terlalu lengket untuk dilepaskan. Perlu berkali-kali destilasi untuk memisahkannya.
Sayangku, kau pernah berkata "aku ikut apa pun yang kau inginkan". Wow, terdengar begitu menggoda. Namun tidak bagiku. Kata-kata itu justru membuatku berpikir "hanya aku yang menginginkan ikatan ini". Padahal sesuatu baru disebut ikatan jika ada dua pihak yang berinteraksi.
Sayangku, sekali lagi aku tegaskan akan ada "kita" kalau kau juga ikut serta. Aku ingin hatimu yang menginginkannya. Bukan karena aku yang mendorongmu untuk melakukannya.
Jadi sayangku, jika hatimu berada di frekuensi yang sama dengan hatiku, jangan pernah membuatku merasa dan berpikir "kau ingin aku melepaskanmu"...
Leles, 10 Juli 2012

Yang Keempat

Sayangku, gelombang elektromagnetik sedang tidak bersahabat dengan kita saat ini...
Apa kau ingat saat belajar di sekolah dasar dulu, guru sering menggunakan teknik dikte untuk membantu kita menulis materi pelajaran?
Saat itu kita memang masih polos dan memang sangat memerlukan teknik tersebut. Namun saat ini, saat usia kita merambat naik, teknik tersebut berdampak kurang menyenangkan. Sisi egois kita sebagai manusia dewasa akan kurang menerima. Perlu teknik lain untuk memberikan informasi agar sisi egois kita sebagai manusia dewasa dapat menerima.
Kata "memberi tahu" saja bisa bermakna "menggurui" kalau kita menggunakan teknik yang kurang tepat. Kita pun kadang seenaknya menggunakan kata "penyeragaman" untuk mengaburkan keinginan kita untuk "pemaksaan pendapat". Kalau sudah seperti itu bagaimana dengan kata "kreatif" dan "inovatif"? Apakah hanya jadi kecakapan artikulasi supaya kita terkesan menerima perubahan dan perbedaan?
Heum manusia itu lucu ya, sayangku. Ada orang yang punya ambisi tinggi untuk mencapai suatu posisi. Dia bahkan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya. Dia tidak peduli lagi dengan hak asasi, seolah-olah melupakan nilai-nilai sosial dan nilai-nilai yang diajarkan agama, hingga tak jarang berusaha menjatuhkan orang yang dianggap lebih mampu darinya. Namun sayangku tahukah kamu? Ketika kita berusaha menjatuhkan orang lain justru kita sendiri yang sedang jatuh.
Sayangku, aku tidak tahu sampai kapan dapat bersabar. Setiap saat mereka selalu menggelitik dan menipiskan kesabaranku. Mereka pun lebih sering menyulut amarah yang berusaha kuredam. Dan ketika amarah serta kesabaran ini habis, mereka justru makin mengolok-ngoloknya dengan kata-kata bijaksana yang menggergaji kerendahan hati.
Sayangku, aku tahu aku banyak mengeluh. Aku tahu kau pun mungkin bosan dan terkadang bingung harus berbuat apa. Tidak perlu risau. Cukup dengarkan aku saat aku mengeluh. Kau pun boleh memberikan komentar untuk menyatakan eksistensimu saat aku mengeluh. Pinjamkan punggungmu saat airmataku mulai tumpah, kau pun boleh menyediakan tisu atau saputanganmu.
Heum, saat ini aku benar-benar merindukanmu. Mudah-mudahan saja gelombang elektromagnetik kembali bersahabat dengan kita hingga rindu ini bisa sedikit terobati.
Jinja bogoshipda urri oppa,,,
Leles, 12 Juli 2012

Yang Kelima

Sayangku, saran-saran ajaibmu saat ini tidak diterima emosiku. Terlalu banyak kejutan yang menjungkirbalikkan emosi. Terlalu banyak rasa tidak menyenangkan yang melingkupi hari-hariku.
       Sekerat gendok, sebongkah kesal, setumpuk rindu dan limpahan sayang menjadi menu yang menyehatkan untuk bulan ini. Pekerjaanku memang tidak banyak menggunakan kekuatan fisik tapi teramat sangat menguras emosi.
       Kesejahteraan macam apa yang hendak ditawarkan jika yang terjadi justru ketidaksejahteraan. Dengan sangat sopan meminta untuk meluangkan lebih banyak waktu dan tenaga untuk pekerjaan dengan iming-iming kesejahteraan. Mau tidak mau harus memenuhi beban kerja yang dicanangkan. Ditambah lagi serentetan efek maha dahsyat yang lebih keren dari special effect film hollywood. Belum lagi rasa-rasa negatif yang berkembang karena "yang belum" dan yang "sudah".
       Uh, rumitnya masalah kesejahteraan ini, lebih rumit dari soal kalkulus. Hak dan Kewajiban bersahutan meminta untuk ditunaikan.
       Heum, aku memang seperti petasan kalau sudah mengeluh. Maka dari itu sayangku biarkan aku meledak dulu baru kau bicara. Kalau dari awal sudah dikomentari mana bisa meledak petasannya.
       Hadeuh esmoninya lebih banyak yang rasa asem nih. Ngomong sedikit aja bisa buat naik darah. Meski begitu tidak mengikis rasa yang ada dalam dada. Justru rasanya makin beraneka dan jauh lebih kuat. Lebih segar dan lebih nikmat dari es buah mati rasa atau mie ayam tanpa kisal.
       Jadi honey bunny tweety, wherever you're whenever you go, i'll be right here waiting for u...


                                                              Leles, 27 Juli 2012

Yang Keenam

Tak terasa sudah enam surat yang kutulis. Aku tidak tahu apakah kau pernah membacanya atau tidak.
Sayangku, beberapa minggu terakhir ini merupakan masa-masa paling berat dalam hidupku. Setelah tujuh tahun berlalu aku kembali bertanya mengenai alur yang telah kupilih. Sebenarnya bukan penyesalan yang kugaungkan. Namun betapa mudahnya menerbitkan dan menenggelamkan harapan seseorang.
Pernahkah kau mengalami, saat di mana kau tidak bermimpi tapi "sistem yang berputar di sekeliling" memaksa untuk bermimpi, tapi saat mimpi itu memberimu jalan untuk meraihnya, "sistem yang berputar di sekeliling" justru merasa bimbang untuk memberi jalan. Betapa sakitnya hati, itulah yang kurasakan.  "sistem yang berputar di sekeliling" dengan penuh kearifan menginjak-injak harga diri.
Ya sayangku, aku tahu hidup kita adalah atas kehendak Sang Pemilik Hidup. Aku hanya bisa pasrah dengan semua yang sudah ditulisNya untukku. Namun rasa ini tidak akan hilang begitu saja. Apakah disebut bertanggung jawab bila kau menerbitkan harapan dan di kemudian hari justru ingin menenggelamkan harapan itu?
Hal itulah yang mengoyak-ngoyak ketenangan jiwa.Sama halnya saat kau berkata, "jika ada yang datang padamu saat aku belum siap, maka aku rela kau bersamanya". Ya, aku mengerti sekaligus sakit hati. Asal kau tahu, aku tidak akan memaksa siapapun untuk bisa bersamaku.
Hidupku tidak semudah dan seindah yang dipikirkan orang. Terlalu banyak hal menyakitkan dalam hidup. Terlalu banyak kearifan yang pada akhirnya menggerus rasa amanku. Aku terlalu lelah tuk berharap, terlalu penat tuk bermimpi, jadi akan kuikuti saja alurnya. Aku percaya hidup manusia Tuhan yang mengatur, bukan aku, kamu ataupun  "sistem yang berputar di sekeliling" .
Semoga Tuhan menuliskan kita dalam buku cerita yang sama, menjadikan aku dan kamu dalam "kekitaan" yang dinaungi rahmat dan kasih-Nya.

Leles, 4 Agustus 2012

Yang Ketujuh

"Sakit ya? sakit jiwa?" katamu sambil tertawa senang.
Enak saja kau mengataiku sakit jiwa. Uuuuh awas kau kalau pulang nanti. Tapi tunggu sebentar! Rasa-rasanya perkataanmu memang benar sayangku. Aku sakit jiwa, bahkan sudah pada tahap kronis.
Bayangkan saja, kau baru saja melangkah keluar dari teras, aku sudah hampir menangis karena sedih. Kau bilang pergi ke RS, pikiranku sudah melantur ke mana-mana. Kau tidak mengajakku bertemu teman-teman, wuih kesalnya segunung.
Padahal seharusnya dan biasanya tidak begitu. Kemarin-kemarin aku pasti akan bersikap sama menyebalkannya dengan sikapmu.
Seandainya saja sekolah belum di mulai, sakitku pasti tambah parah. Setiap menit hanya ingat padamu dan sesekali meneteskan air mata. Fiuh sayang sekali air mataku, terus terkuras. Masih mending putri duyung, air matanya jadi mutiara. Lha aku, yang ada mataku makin sipit. Dan kau pasti akan dengan senang hati menceramahiku sambil tertawa senang.
Wah, wah,wah, gawat ini. Setiap tempat yang pernah kita lewati malah mengingatkan aku padamu. Rasa-rasanya kau ada di sana berdiri memandangku. Aduh benar-benar sudah kronis, ini. Wangi minyak rambut saja langsung membuatku ingat padamu.
Benar-benar gawat. Aku paling malas kalau harus mengalah pada pria. Sisi kewanitaanku bisa terluka kalau harus sering-sering mengalah pada pria. Namun ajaibnya, padamu aku sering berusaha untuk mengalah. Bukan hanya itu, ibuku saja sudah menyerah untuk mengingatkan aku mengenai "makan teratur" tapi adanya dirimu, kata-kata jutekmu (kalau aku tidak menurut) dengan sendirinya menggiringku untuk makan.
Heum benar-benar sudah stadium lanjut, sakitnya. Sudah pada tahap tidak ingin menggantikanmu dengan orang lain.
Maka dari itu, aku bersyukur pada Tuhan karena telah mengirimmu untuk memasuki kehidupanku.
Thank you for loving me. Kamu membuatku merasakan kembali kangen, cemburu, menunggu yang sangat mengasyikan, dan takut kehilangan. Hadirmu membuatku lebih mampu untuk berpikir objektif, lebih tegar dan lebih memaknai hidup.
Semoga Tuhan menuliskan kita dalam satu kisah yang sama. Mewujudkan keakuan dan kekamuan dalam kekitaan.

Leles, 31 Agustus 2012

Yang Kedelapan

"Tuhan, hamba tidak ingin goyah lagi, tapi dia sering membuat hamba kembali mempertanyakan semuanya."
Aku punya ketakutan dan rasa maluku sendiri. Hanya saja aku berusaha tidak mengungkapnya dengan alasan yang kurasa cukup baik untuk dilaksanakan.
Aku belajar dari kisah-kisah yang lalu dan berusaha mengikis keegoisanku. Namun aku manusia, aku punya batas kesabaran. Aku bukan anak kecil yang harus selalu marah agar keinginannya dituruti.
Aku tidak tahu sampai mana kesabaran ini bisa ku kelola. Aku takut kelak hatiku kembali beku. Keegoisanku kembali meraja dan sisi Feminimku membentuk perisai.
Seandainya hanya memikirkan diri sendiri, mungkin aku akan tetap sendirian. Aku akan semakin bersikap antipati terhadap kata "untuk kekitaan" dan "kebersamaan". Benteng keegoisanku akan semakin tinggi dan tidak mudah dijangkau.
Namun aku bukan hanya aku, aku adalah anak orang tuaku, kakak dari adik2ku, ibu dari anak-anak asuhku, cucu dari kakek nenekku. Dengan posisi yang aku bukan hanya aku inilah aku belajar untuk lebih memaknai hidup.
Aku akui, aku juga memiliki sifat-sifat yang sangat susah dihilangkan. Namun aku berusaha mengikisnya. Kumaknai semua kata, semua cerita yang akan membuatku semakin dewasa. Kumaklumi semua yang harus mengerti. Kutelaah semua rasa dan emosi jiwa.
Bisakah sekali saja kau menempatkan diri diposisiku? Bisakah sejenak saja kau mencoba memahamiku? Bukan hanya kau yang merasa takut? Bukan hanya kau yang punya rasa malu?
Ingatlah ini tentang kita, bukan tentang aku atau kamu.

Leles, 2 September 2012








Senin, 03 Oktober 2011

Keluarga Cangor


Keluarga C.A.N.G.O.R (part 1)
by Yuli Nurhati on Friday, July 22, 2011 at 6:46pm
Memiliki anak asuh yang sudah remaja bukan perkara gampang. Satu saja sulit apalagi enam. Meski demikian Umi tak pantang menyerah. Setiap masalah dihadapinya dengan berpikir jernih dan memikirkan kebaikan untuk semua. Umi selalu menekankan pada anak-anak asuhnya agar tidak sombong dan bertenggang rasa. Motto hidupnya-- "jika kau tak bisa melawan arus maka ikutilah kemana arus mengalir sambil berpegangan pada pohon yang kokoh"-- selalu ia camkan pada anak-anaknya. Sekalipun hidupnya tak mudah dan kisah cintanya berakhir menyedihkan Umi selalu terhibur dengan cerita-cerita konyol anak-anak asuhnya.
Namun ada beberapa hal yang memngganggu pikiran umi beberapa hari terakhir ini,  anaknya yang bernama Caesar--sang atlet-- terjebak urusan pelik dengan pacarnya. Umi sudah memberikan berbagai saran tapi Caesar tampak belum memiliki keberanian untuk memutuskan. Hal ini membuat Umi tak bisa tidur nyenyak. Dalam tidurnya Umi sering memimpikan Caesar menangis. Seandainya Umi tak memikirkan perasaan Caesar mungkin sudah sejak lama ia meminta Caesar untuk memutuskan pacarnya.
Hati Umi tersayat-sayat melihat kesedihan yang menaungi wajah Caesar. Dari luar mungkin Caesar terlihat bahagia tapi jauh di lubuk hatinya tersimpan luka yang dalam. Caesar selalu menyembunyikan kesedihannya. Hal itulah yang membuat Umi tak bisa tegas padanya untuk urusan cinta. Umi takut membuat Caesar frustasi. Umi ingin Caesar sendiri yang memilih jalan terbaik untuk masalah percintaannya, agar dikemudian hari Caesar tak menyesal. Umi bukanlah orang yang egois sehingga dengan seenaknya menghalang-halangi atau menyuruh-nyuruh anaknya untuk melakukan sesuatu.
Tak beda jauh dengan Caesar, Ragil--anak asuh Umi yang kedua, sang vokalis-- memiliki masalah yang sama. Terjerat keputusannya sendiri membuat Ragil yang biasanya super heboh berubah drastis. Dia lebih banyak merenung, memandangi handphone atau bengong. Ah benar-benar menyedihkan. Padanya Umi bersikap sedikit lebih tegas. Perasaan Ragil belum terlibat cukup jauh dengan pacarnya, sehingga dia akan lebih mudah untuk memutuskan. Namun tetap saja tak semudah membalikkan tangan. Dia terjebak di antara keinginan untuk memiliki dan tak ingin menyakiti hati.
Heum,,, sepertinya keluarga C.A.N.G.O.R memang tengah dirundung masalah. Omesh--sang Musisi dalam keluarga--sedang bergulat dengan perasaannya. Dia membutuhkan seseorang untuk memberinya motivasi. Dia berharap GirlY lah yang menjadi motivator untuknya. Sayangnya sekalipun GirlY akan sangat senang untuk mewujudkan keinginan Omesh, GirlY sendiri sudah terikat janji pada seseorang. Mereka akhirnya hanya bisa saling menatap dalam diam.
Umi bisa bernafas sedikit lega bila memikirkan Atra--sang aktivis-- karena dia jauh lebih tangguh dari audara-saudara perempuannya. Atra menghabiskan lebih banyak waktu untuk berorganisasi daripada mengurusi masalah cinta. Meski begitu Atra memiliki dilema tersendiri. Dia jatuh cinta pada pria yang tak memahami perasaannya sendiri.
Kalau saudara-saudaranya terjebak perasaan mereka sendiri, Nunna--reflika sifat umi-- justru sedang menimbang-nimbang antara punya pacar dan tidak. Mungkin dia lelah melihat kelima saudaranya yang terjebak perasaan mereka.
"Umi mau menghilang untuk sejenak, jangan cari Umi. Jangan lupa belajar, sebentar lagi ujian. Caesar jangan tidur malam-malam nanti mengantuk di sekolah. Ragil  jangan lupa sholat. Omesh, selama Umi masih ada jangan takut kehilangan motivator. Atra, tarik nafas sejenak jangan sampai tumbeng karena kecapean. GirlY, tiitip saudara-saudara lelakimu, mereka memang cukup merepotkan kalau sudah bercanda. Nunna, jangan beritahu dulu saudara-saudara tentang pembicaraan kita mengenai  'piano di etalase toko anak-anak' ... ssstttt... nanti mereka nanti mereka sibuk menerka-nerka."   Umi mengirim sms pada anak-anaknya. Dia memasukkan beberapa baju ke dalam tasnya lalu pergi ke suatu tempat.

Keluarga C.A.N.G.O.R (part 2)
by Yuli Nurhati on Wednesday, July 27, 2011 at 9:03pm
Heum... ceritanya mau menghilang ternyata tetap menerima sms. Umi tersenyum-senyum sendiri. Sekesal apapun umi tak bisa melepas anak-anaknya begitu saja. Saat di bus dia malah sms-an dengan Caesar. Dia juga mengirim sms pada Nunna dan Atra. Umi benar-benar payah, pantas saja kalau anak-anaknya juga begitu.
Sepanjang perjalanan menuju Bandung, kenangan-kenangan masa lalu memenuhi benak umi. Pertama masuk kuliah, mengenal internet, dkecewakan pria, bertemu pria yang mencintai sepenuh hati. Yang bermunculan bukan hanya kenangan tapi juga emosi yang dulu pernah dirasakan. Rasa marah, kesal, sakit hati, terabaikan dan teraniaya.
Sekarang umi memang lebih tegar, lebih dewasa dan lebih bertenggang rasa. Namun tetap saja masih bisa merasa sakit dan kesal. Seandainya godaan untuk membeli novel baru tidak datang maka dengan senang hati umi akan kembali naik bus ke kampung halaman. Umi memang lebih nyaman berada di kamarnya yang kecil, menonton atau membaca sambil menunggu sms dari anak-anaknya.
Kehadiran enam orang anak asuh merupakan karunia tak terindah untuknya. Umi menyadari takdir hidupnya adalah untuk memahami orang lain dan menjadi motivator. Umi merasa hidupnya jauh lebih berarti karena kehadiran mereka. Kehadiran mereka membuat Umi merasa dibutuhkan. Mereka membuat umi tertawa lepas dan melupakan masalahnya meski hanya sekejap.
Umi ingin anak-anaknya tidak mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalu yang memengaruhi hidupnya sampai sekarang. Umi mendapatkan sahabat, teman curhat, motivator dan pelipur lara. Umi tahu tidak mungkin selamanya ada di sisi mereka. Suatu hari nanti mereka akan pergi menuju jalan takdir masing-masing. Meski demikian umi berdo'a pada Tuhan agar selamanya hati mereka terikat. Umi tahu membentuk ikatan memang mudah tapi menjaganya hal yang paling berat.
Minggu ini beban hati umi sedikit berkurang. Caesar sudah dapat menyelesaikan masalah peliknya. Dalam hati umi bersyukur melihat Caesar tampak lebih lepas dan bahagia. Umi tahu, Caesar pasti akan mengalami masa transisi yang membuatnya kesulitan. Selama ini selalu ada "dia" dan kini "dia" sudah pergi, keputusan terberat yang harus diambil oleh Caesar. Umi berharap ini semua membawa kebaikan untuk Caesar. Umi tak ingin Caesar menyesal di kemudian hari. Maka dari itu umi selalu berkata, "kalau kau masih sanggup bertahanlah, kalau sudah lelah maka segera akhiri. cinta tidak membuatmu sakit. kau harus bisa membedakan antara mencintai seseorang atau obsesi untuk memiliki orang itu". Umi tak ingin membuat Caesar melepaskan cintanya hanya karena sikap protektif Umi. Ternyata Caesar jauh lebih tangguh dari yang umi pikirkan.Sekarang Caesar bisa lebih konsentrasi pada pelajarannya.
"Semoga, keputusan ini membawa kebaikan untukmu.  Percayalah bahwa Tuhan akan mengirimkan penggantinya. Mungkin tidak sehebat atau secantk dia. Tapi orang yang dikirimkan Tuhan akan membuatmu bahagia,bahkan lebih bahagia" bisik hati umi saat menonton Caesar bermain voli.
Umi menarik nafas lega kemudian menoleh ke samping. Di sampingnya Ragil tengah duduk merenung. Umi tahu apa yang mengganggunya.
"Konsistenlah dengan pilihan yang sudah kau buat. Kau yang memilihnya jadi jangan kecewakan dia. Pria sejati adalah pria yang konsisten dengan pilihannya, yang ucapannya bukan hanya sebatas kalimat tapi nyata dalam tindakan."
"Iya mi, Ragil akan konsisten. Mulai sekarang hanya dia yang ada di pandangan Ragil."
"Itu baru anak umi,"  Umi tersenyum bangga. Ragil dan Caesar mulai menemukan jalan keluar. "Bagaimana dengan Omesh? Mi, lihat dia marah-marah saja? Bukankah dia baru punya pacar? Apa lagi yang dirisaukannya? "
"Pacarnya marah, mi."
"Lagi-lagi masalah pacar. Dasar remaja!"  Umi tersenyum. Sekalipun aktif, mereka tidak pernah melupakan pelajaran. Mereka adalah anak-anak yang rajin dan tak banyak masalah. Pelajaran bukan masalah pelik bagi mereka. Sesulit apapun mereka pasti berusaha untuk menyelesaikannya tanpa umi harus turun tangan. Kecerdasan kan bukan hanya di bidang eksak--meskipun banyak orang di dunia menilai kecerdasan dari bidang eksak saja.  Segala sesuatu di dunia berjalan beriringan dan saling berhubungan.
Umi tak berani bicara banyak tentang Omesh. Dia satu-satunya anak yang agak susah berbagi. Omesh masih sering merasa sungkan untuk bercerita pada Umi. Omesh belum selincha teman-temannya yang lain untuk terbuka mengenai masalah yang dihadapinya. Umi tak akan memaksanya untuk bercerita. Umi akan menunggu Omesh datang dan membagi kerumitan hatinya.
Kalau dipikirkan para wanita keluarga C.A.N.G.O.R jauh lebih tangguh. GirlY masih akan konsisten dengan hubungan jarak jauhnya. Dia mulai mengerti dan menyadari pentingnya saling memahami. Atra pun sudah mulai konsisten dengan perasaannya. Atra akan bertahan dengan perasaannya meski pria itu tak yakin akan perasaannya sendiri. Dan Nunna, sekalipun sedang bermasalah dengan seseorang dia jauh lebih tenang. Nunna berkaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya dan lebih selektif untuk urusan perasaan.
Umi memandangi mereka satu persatu dari kejauhan kemudian mengirim sms... "Caesar, tetap semangat nak, ada umi dan saudara-saudaramu di sini, duniamu tidak berhenti berputar hanya karena kau tak memiliki "dia". Atra, kalau kau masih sanggup bertahanlah, kalau tidak segera lepaskan, tidak bijaksana mencintai dan menunggu orang yang tidak mempedulikan perasaan kita. Nunna, biarlah semua yang telah terjadi menjadi kenangan yang akan memperkaya batinmu, jangan menaruh benci yang mendalam karena hanya akan mengotori hati dan membuat hatimu terluka lebih dalam, relakanlah apa yang tidak Tuhan perkenankan untuk kita miliki. Girly, tetap konsisten dengan apa yang sudah kau bina-- pahami lebih jauh lagi tentang dia-- jangan biarkan orang-orang melihat celah untuk menggoyahkan tekadmu. Omesh, berbicara lebih terbuka akan membuat bebanmu sedikit berkurang. Ragil, kau yang memilih dia, jadi konsistenlah, berjuanglah untuknya, ingatlah umi saat kau tak sengaja menyakiti hati dia, apa yang akan kamu lakukan kalau orang lain memperlakukan umi seperti itu. Dan untuk semuanya, sekali lagi ingat, pacaran hanya hiburan-- sampingan-- tugas pokok kalian adalah belajar jadi jangan biarkan pelajaranmu terganggu hanya karena kau bermasalah dengan teman atau pacarmu. Berjuang lebih keras lagi, mudah-mudahan Tuhan memberikan kelancaran dan keberkahan dalam setiap tindakan kita, Amin. Maafkan kesalahan-kesalahan umi ya. Yuk, kita papasakan!"  Umi tersenyum saat mengakhiri smsnya, mata umi sudah berkunang-kunang dan minta segera diistirahatkan....

Keluarga C.A.N.G.O.R (part 3)

by Yuli Nurhati on Sunday, July 31, 2011 at 9:44pm
"Cinta tidak membuatmu sakit ataupun terluka tapi cinta justru menyembuhkan, baik bagi orang yang memberi maupun untuk orang yang menerima."
Heum... Umi memandangi foto anak-anaknya sambil menghela nafas berat. Masing-masing memiliki karakter yang unik. Umi merasa beruntung memiliki mereka di sisinya. Persahabatan dan kasih sayang yang mereka berikan membuat hari-hari umi lebih berwarna. Tak satu hari pun yang umi lewatkan tanpa mendapat kabar dari anak-anaknya. Umi tidak bermaksud pilih kasih, ikatan ini terbentuk begitu saja. Ada benang tak kasat mata yang terulur yang mengikat hati umi dan mereka. Bukan masalah pintar, ganteng, kaya atau miskin, ini tentang ikatan yang dibentuk oleh hati.
Umi tahu tak mudah memberikan saran bijaksana untuk keenam anaknya. Umi bahkan sering berfikir keras sebelum berbicara. Umi tak mau pengalaman-pengalaman pahit yang pernah dialaminya terulang kembali pada anak-anaknya. Umi berharap anak-anaknya mengerti dengan kebawelan dan sifat protektifnya.
Seandainya tak bertenggang rasa ingin rasanya umi berkata dengan tegas pada Caesar. Hidup Caesar masih panjang, umi tak ingin dia menyerah hanya karena cinta. Umi ingin Caesar bangkit dengan usahanya sendiri. Umi ingin Caesar jadi pria tangguh yang tak sembarangan menyakiti hati wanita dan juga tak gampang dipermainkan wanita. Caesar harus bisa tegar tanpa "dia". Umi tahu tak mudah melupakan orang yang pernah dekat dengan kita dalam waktu yang singkat. Perlu waktu yang tak sebentar untuk menyembuhkan luka-luka di hati. Bukan tak mungkin banyak hal yang membuat teringat pada "dia". Namun bila Caesar mau, umi dan saudara-saudaranya akan bahu-membahu untuk membantunya bangkit kembali.
"Umi tak ridho anak umi dipermainkan seperti itu. Sekarang umi angkat tangan. Silahkan pilih, kalau sudah merasa lelah akhiri saja. Kalau masih sanggup silahkan lanjut tapi jangan mengeluh kalau keadaannya tetap seperti itu atau lebih buruk. Bagaimana bisa kau melepaskannya bila hatimu masih merindukan "dia". Duniamu bukan hanya berputar di sekeliling dia. Masih banyak hal yang harus kau lakukan selain menanggapi semua tingkahnya."  Umi menatap Caesar lekat-lekat. Genangan airmata membuat tatapannya kabur. Dia bertahan sekuat tenaga untuk tak meneteskan air mata di depan Caesar. Umi menghela nafas berat lalu meinggalkan Caesar yang tertegun menatap hpnya.
Saat hendak masuk ke rumah umi melihat Atra tengah asyik berbicara di telepon. Pasti dia sedang mengobrol dengan "pria yang tak tahu perasaannya sendiri". Semoga saja berakhir bahagia, bisik hati umi. Umi sudah wanti-wanti pada Atra. Selama Atra masih sanggup maka umi akan mendukungnya untuk bertahan. Umi ingin anak-anaknya memperjuangkan apa yang pantas diperjuangkan. Umi tahu Atra memang tangguh tapi tetap saja dia merasa khawatir dan resah. Umi tak ingin Atra berjuang untuk sesuatu yang tak berujung.
"Mi, doain Omesh ya." Omesh tiba-tiba berdiri di sampingnya.
"Kamu kenapa lagi mesh?"  Umi menatap Omesh lekat-lekat. Ada kesedihan terpendam menaungi wajahnya. Omesh yang biasanya begitu humoris hanya tertegun menatap Umi. Ia mengajak umi duduk kemudian menceritakan masalahnya.
"Sudahlah, mesh. Bila seseorang sudah tak ingin bersamamu lagi lepaskan dia. Umi dan saudara-saudaramu bisa jadi motivator paling hebat jauh dibandingkan "dia". Jangan merasa sedih karena tak memiliki kekasih. Kekasih mungkin meninggalkanmu tapi kami bertahan di sisimu selama-lamanya."
"Siap mi, makasih ya!"
"Sama-sama nak!" Umi menepuk pundak Omesh dengan bangga.
"Dunia tidak berhenti berputar karena tak ada dia!" Ragil datang bersama GirlY lalu duduk mengelilingi Umi. Ragil dan GirlY sudah memilih untuk tetap bertahan dengan apa yang telah mereka putuskan. Umi bangga pada mereka. Mudah-mudahan mereka bisa tetap konsisten. Amin, umi berdo'a pada Tuhan.
"Mana Nunna?" Umi mencari-carinya.
"Aku datang."  Nunna muncul dari rumah. Sepertinya dia baru selesai bicara di telefon dengan mantannya yang kembali pedekate. Dia kemudian masuk ke lingkaran.
"Deuh, yang lagi pedekate?"  GirlY menggoda Nunna. Yang digoda hanya senyum-senyum saja.
"Na, bagi umi yang penting dia baik dan soleh."
"Ah umi, masih pedekate kok, belum jadian?"
"Iya, umi tahu. Jangan sampai mengganggu belajar ya."
"Pasti mi. Belajar kan nomor satu."
Umi tersenyum bangga melihat anak-anaknya satu persatu. Caesar dan Atra perlahan mendekat dan mereka kembali berbagi cerita. Dentingan gitar mulai terdengar dan lirik-lirik pelipur lara mulai dilantunkan. Lirik lagu yang mereka bawakan membuat umi teringat masa lalunya bersama Mamoru. Citra Mamoru sangat buruk di depan keluarga umi tapi Mamoru adalah satu-satunya pria yang sangat menyayangi umi. Dia lebih banyak memberikan perhatian lewat tindakan daripada kata-kata. Kisah Caesar dan kisah pedekate Nunna memperjelas kenangan tentang Mamoru.
Mamoru dan umi awalnya hanya teman bermain kemudian lama kelamaan keduanya saling menyimpan rasa. Sayang hubungan mereka tak mendapat restu dari keluarga umi. Umi memutuskan Mamoru karena keluarga umi memandang Mamoru bukanlah anak yang baik. Meski sudah putus hubungan umi dan Mamoru tetap dekat. Orang-orang malah menyangka mereka masih jadian. Umi tahu itu, dia bahkan merasa hubungan mereka jauh lebih dekat. Umi makin jadi susah melepaskannya. Mamoru selalu ada setiap kali umi membutuhkan bantuan. Hanya Mamoru yang paham tentang keluarganya. Bersama Mamoru, umi tidak merasa canggung ataupun jaim. Sayangnya Tuhan tidak mengirimkan Mamoru untuk menjadi jodoh umi.
Mamoru lama kelamaan merasa lelah dengan umi. Dia pergi dan menikahi perempuan yang umi kenal baik. Umi sedih dan sakit hati. Namun umi ingat bahwa Tuhanlah yang mengatur segalanya. Tidak bisa menyalahkan siapapun karena Tuhan Maha Kuasa atas segalanya. Umi berharap cerita pedih ini tidak terjadi pada anak-anaknya.
"Jika kau menyayangi seseorang, berjuanglah untuk mendapatkannya. Jika dia tetap ingin pergi maka biarkan dia pergi. Tidak bijak memaksakan cinta pada orang yang tak mau menerima, akhirnya kau hanya akan terluka dan dia merasa tersiksa. Duniamu akan terus berputar meski pusatnya bukan "dia" lagi. Ingatlah tugas utama kalian sebagai pelajar. Waktu terus berjalan, sebentar lagi ujian dan kehidupan sesungguhnya tengah menanti. Jangan terlena dan  terpuruk karena cinta. Karena cinta yang sehat mendatangkan bahagia bukan derita... Chayo3x... Tarawih, tadarusnya jangan sampai ketinggalan... Umi sayang kalian: Caesar, Atra, Nunna, GirlY, Omesh, Ragil... Dan bila nanti dunia tak mengerti berpalinglah padaku tempat teraman untuk dirimu..."

Keluarga C. A. N.G. O. R (Part 4)

by Yuli Nurhati on Tuesday, August 2, 2011 at 11:50am
"Sekali kau berbohong maka kau akan terus menerus membuat kebohongan untuk menutupi kebohonganmu yang lain."
        Sejak awal umi sudah berkata bahwa umi tidak akan menghalangi atau memaksa anak-anaknya untuk menyukai atau tidak menyukai seseorang. Namun pesan tersebut tampaknya kurang tercerna dengan jelas. Umi mungkin tidak melahirkan mereka tapi hati umi dapat merasakan apa yang sedang terjadi. Darah lebih kental dari air tapi ikatan yang dibentuk oleh hati dapat lebih kuat dari hubungan darah. Membentuk hubungan memang mudah tapi menjaganya sangat sulit. Mungkin jalan pikiran umi memang terkesan idealis dan sadis. Namun umi hanya ingin kebahagian untuk anak-anaknya.
       Kehidupan yang umi lalui membuatnya menjadi seperti sekarang. Deraian airmata, luka-luka yang tertoreh, perlakuan-perlakuan dan kata-kata menyakitkan tak pernah putus menyapa hidup umi. Umi hanya ingin anak-anaknya punya tempat berbagi sehingga beban mereka tidak terlalu berat. Umi tidak bermaksud memaksa tapi hanya ingin menyediakan fasilitas untuk berbagi rasa hati, keluh kesah dan gelisah diri. Namun rupanya semua ini jadi terkesan memaksa. Heum, sudahlah, tak semua orang mudah dan mau berbagi.
       "Caesar, hati umi tidak terbuat dari batu dan juga tidak terbuat dari tahu. Sekalipun kau tidak bicara umi tahu apa yang terjadi. Meski bibirmu berkata tidak, umi tahu apa yang sebenarnya. Maaf karena umi juga kamu berbohong. Sekarang kamu sudah membuat keputusan jadi laksanakan saja apa yang telah kau pilih."
       " Atra, rasa sakit ini akan membuatmu semakin tegar dan kuat. Menangislah saat air matamu tak terbendung. Tidak perlu membohongi diri. Ingatlah bahwa duniamu akan tetap berotasi sekalipun bukan mengelilingi dia. Kamu harus lebih tegar karena bukan tak mungkin orang lain sengaja menambah luka di atas luka yang sudah tertoreh."
       " Nunna, pikirkan kembali apa yang membuatmu meninggalkannya dahulu. Jangan menerima atau menolak seseorang karena merasa terpaksa atau tertekan karena hanya akan meninggalkan rasa sakit."
        "GirlY, kalau kau yakin dan masih sanggup bertahan dengan apa yang tengah kau jalani maka teruslah bertahan. Jika sudah lelah segera putar haluan. Dengarkan apa yang hatimu bisikan, jangan membuat celah bagi orang lain untuk memprrovokasi keputusanmu."
       "Omesh, jangan putus asa karena cinta pertama. Kelak akan ada cerita-cerita manis lainnya yang mengganti cerita-cerita sedih. Kamu adalah pria tangguh dan tegar, jadi tetaplah jadi dirimu sendiri. Jangan merasa sendiri dan sedih. Dunia ini lebih indah bila dipandang denga cara yang tepat."
       "Ragil, fokus nak. Jangan karena tak ada pekerjaan sehingga mencari masalah. Umi yakin kau bisa konsisten dengan apa yang kau pilih."

Keluarga C.A.N.G.O.R (part 5)

by Yuli Nurhati on Friday, August 5, 2011 at 7:52pm
       "Dari atasnya sih udah eror."  Ujar Caesar sambil terkekeh. Dia langsung mingkem seribu bahasa saat umi memberikan lirikan juteknya. Dia dan yang lainnya memang selalu menggoda umi untuk segera punya pacar. "Biar kebahagiaan kita komplit, mi." Lanjutnya dengan wajah tak berdosa. Umi tak menjawab. Dia malah asyik membaca novel. Karena tak ditanggapi dia mengambil bola basket lalu mengajak Omesh ke halaman belakang.
       Sebenarnya umi bukan tak ingin menjalin hubungan dengan lawan jenis. Umi cuma belum menemukan orang yang tepat saja. Kisah cinta terdahulu yang selalu berakhir menyedihkan membuat umi lebih berhati-hati. Tidak mudah untuk menyukai atau melupakan seseorang. Umi yakin seseorang akan muncul kalau waktunya sudah tepat.
       Seperti halnya siang dan malam masalah pun silih berganti. Minggu ini giliran NUnna, Girly dan Ragil yang bersedih.
       Nunna menghadapi dilema dengan si manta yang kembali pedekate. Ada wanita yang mengaku mantannya dan marah-marah pada Nunna. Nunna yang bingung cuma bisa menangis dan memendam kesal. Bertahan atau menyerah, keduanya memiliki konsekuensi masing-masing.
        Umi menutup novel lalu berbicara dengan Nunna yang sedang asyik mengerjakan soal kimia.
       "Umi, tidak akan memaksamu untuk melakukan apapun. Semua kembali padamu. Saudara-saudara laki-lakimu sudah mengingatkan kalau dia tidak baik. Setiap orang memang berhak mendapat kesempatan kedua tapi coba pikir kembali mana yang lebih baik tetap bertahan atau menyerah. Apapun keputusanmu, umi akan mendukungnya."  Umi memberikan pendapatnya mengenai masalah yang dihadapi NUnna. Umi tidak ingin Nunna menyerah atau memilih bertahan hanya karena pendapat umi atau saudara-saudaranya. Nunna yang menjalani semuanya dan dia yang akan merasakannya. Selama ini Nunna cukup berhatai-hati dalam urusan hati. Umi yakin apapun keputusannya tidak akan membuat Nunna jadi lemah.
       Selesai bicara dengan Nunna, Umi pergi ke teras menemui GirlY dan Ragil yang sedang bermain gitar. Mereka berdua bernyanyi lagu patah hati.
       "Engkau yang sedang patah hati ..." suara GirlY terdengar menyayat hati.
       Heum, baru saja umi menarik nafas lega saat GirlY berkata dia akan bertahan dalam hubungan jarak jauhnya. Namun beberapa hari kemudian, Girly berkata mereka putuz. Keduanya berurai airmata dan memendam sakit hati. Umi belum dapat berkata banyak karena belum mendengar kronologis lengkapnya. Umi hanya ingin GirlY tabah dan berpikir jernih.
       "Jika keputusan ini memang yang terbaik maka bersabarlah. Pelan-pelan saja melupakannya. Rasa sayangmu padanya tumbuh dengan perlahan maka untuk mengakhirinya pun harus perlahan-lahan. Menata hati tak semudah membalikkan telapak tangan. Jangankan sudah berbulan-bulan baru satu atau dua minggu saja tetap sakit hati. Tidak mudah membuang kenangan yang kita bangun dengan orang yang kita sayangi. Akan banyak hal yang mengingatkan kita padanya. Tak menutup kemungkinan air mata ikut menyemarakkan kesedihan kita. Yakinlah nak semua akan jauh lebih baik. Dengan berlalunya waktu luka-luka ini akan sembuh--meski tidak sepenuhnya sembuh-- dan rasanya tidak akan sesakit sekarang."  Umi menatap GirlY lekat-lekat. Dalam hati dia berdo'a semoga GirlY diberi kekuatan oleh sang Pemberi cinta dan hidup.
       Umi mengalihkan pandang pada Ragil yang tampak sangat murung, dia memandangi gitar dipelukannya. Umi merenung sebelum berbicara padanya. Umi mengkaji ulang nasihatnya pada Ragil. Umi terus menerus meminta Ragil untuk konsisten dengan perempuan yang sudah dipilihnya. Ragil menurut tapi kenyataannya perempuan itu malah menyia-nyiakan Ragil. SEandainya saja umi kenal wanita itu lebih dekat pasti umi akan bicara langsung padanya.
       "Cinta tulusku hanya dijadikan permainan."   keluh Ragil.
       "Bersabarlah nak. Jangan menyesal karena telah menyayangi seseorang dengan tulus. Jangan biarkan kejadian ini membuatmu berpikir bahwa kasih sayang tulus itu hanya isapan jempol. Suatu hari akan ada perempuan yang mengharagai ketulusanmu. Ingatlah, meski dia pergi kamu masih memiliki kami. Mungkin kadarnya tak sama tapi kami bertahan di sisimu selamanya. Kami tidak akan pergi hanya karena kau mendua atau memaksakan kehendak meski kami tak mendukung."  Umi menepuk pundak Ragil dan tersenyum padanya. Umi tahu Ragil anak yang tangguh.
       Umi masuk ke rumah lalu menengok Atra yang sedang tiduran sambil membaca novel.
       Rupanya minggu ini keluarga C.A.N.G.O.R memang sedang dirundung musibah. Atra jatuh dari motor saat berangkat latihan paskibra. Namun gadis tangguh itu tetap memaksa pergi ke sekolah. Heum,,, you're my wonder girl, bisik hati umi. " Semoga Tuhan sellau menjagamu, cepat sembuh nak. Jangan melamun terus, apalagi memikirkan orang yang tak peduli padamu. Hal itu hanya menyita waktu saja. Chayo3X."  Umi merapikan novel dan buku-buku yang tergeletak di samping Atra lalu bangkit menuju dapur.
       "Caesar! OMesh! Kemari sekarang waktunya kalian yang masak!"  Umi berteriak dari pintu dapur memanggil Omesh dan Caesar yang sedang asyik bermain basket. Setidaknya kedua anak itu tidak sesedih saudara-saudara mereka, bisik hati umi. Umi masih ingin membuat perhitungan dengan Caesar karena sudah menggodanya dengan masalah pacar. Caesar juga sudah mengawali bulan Ramadhan ini dengan membuat umi kesal. Meski begitu umi tak bisa berlama-lama marah padanya, umi terlalu sayang pada anak-anaknya. Dan umi memang bukan orang yang suka berlama-lama memendam amarah.
       " Sayur bayam ala popeye, mi?"  tanya Omesh sambil membantu Umi menyiangi bayam.
       "Yupz... biar sehat, kan mau jadi jendral."
       "Ah, umi aku masih bingung mau masuk tentara atau tidak. Aku tak ingin meninggalkan kalian."
       "Meskipun kita tidak berada dalam daerah dan tempat yang sama tapi kita masih akan bernafas dengan udara yang sama dan hati kita selamanya terhubung. Seorang laki-laki memang harus mau pergi jauh untuk mencapai cita-citanya."
       "Siap mi, laksanakan." Jawab Omesh mantap.
       "Nah gitu dong, jangan seperti Caesar."
       "Aduh umi kalau masih kesal jangan menyindir begitu. Aku kan sudah minta maaf. Bener deh mi, enggak lagi-lagi buat umi kesal. Aku sayang sama umi."
       "Baguslah kalau begitu. daripada bengong begitu mending kamu pel lantai, ajak Ragil sekalian. Biar dia tidak murung lagi. Terus minta Nunna dan GirlY pergi ke warung untuk membeli tahu dan kentang."
       "Terus apa lagi mi, dari tadi teus, terus, terus kaya tukang parkir." Caesar kembali menggoda umi.
       "Anak ini!" Umi mendelik marah.
       "Ampun ah, mending aku ngepel saja dari pada ditatap seperti itu." Caesar melarikan diri ke ruang tengah.
       "Perkedel ala umi dan sayur bayam ala popeye. Hidangan mantap untuk berbuka."
       "Yupz, Atra perlu makanan yang mengandung zat besi setelah mengalami kecelakaan kecil."
       "Kasian ya mi, wonder girl kita. Padahal hari ini giliran dia yang masak."
       "Ah kamu ini kasihan ya kasihan tapi jangan terpaksa begitu." Umi memukul pundak Omesh dengan tangkai bayam. Keduanya kemudian tersenyum.

Keluarga C.A.N.G.O.R (part 6)

by Yuli Nurhati on Monday, August 8, 2011 at 11:17pm
       Heum minggu yang tenang. Minggu ini tidak ada masalah baru di keluarga C. A. N. G. O.R. Meski begitu hati umi tetap saja khawatir. Caesar yang tetap kekeuh mencintai "dia", Atra yang belum sembuh dari patah hati, Nunna yang masih bingung dengan perasaannya, GirLy yang masih merindukan mantan dan sedang menjaga jarak dengan Omesh, Omesh yang masih bingung dengan perasaannya pada GirLy dan Ragil yang kesepian karena baru putus. Semunya putus kecuali Caesar.
       Keteguhan hati Caesar membuat umi bangga sekaligus sedih. Caesar membut umi percaya bahwa ada orang yang bisa mencintai dengan tulus meskipun hati sering tersakiti. Caesar berjanji bahwa keputusan yang diambilnya adalah yang terbaik untuk semua. Caesar berjanji semuanya akan lebih baik, tidak ada acara bertengkar atau saling memaki. Heum benar-benar damai. Mudah-mudahan saja demikian. Kalau tidak Umi pasti sangat sedih.
       "Umi belum tau saja sifat dia. Kalau sudah tau pasti umi suka padanya."
       "Selama ini umi cuma dapat kesan buruk dari dia."
       "Iya mi. Caesar sayang banget ma umi makanya enggak mau buat umi sedih lagi dengan pertengkaran kami."
       "Umi pegang janjimu. "
       " Oh ya mi, umi lihat enggak tingkah GirlY dan Omesh yang aneh?"
       "Iya, sepertinya GirlY berusaha menjauhi Omesh." Omesh juga pernah tanya harus bagaimana menghadapi GirLy."
       "Ah dasar cangor. Dari atasnya sih udah eror."
       "Dasar susiz."
       Umi dan Caesar saling meledek. Umi tak pernah bisa benar-benar marah padanya. Dia sangat menyayangi Caesar, makanya dia tak tega memaksa Caesar untuk putus.
       " Mi, yang lain pada ke mana?"
       " Omesh sedang jalan-jalan dengan Ragil, katanya sih mau cari ketenangan . NUnna sedang mengerjakan PR, GirlY dan Atra sedang latihan paskibra."
       "Orang-orang patah hati."
       "Setidaknya mereka berani mengambil sikap meski harus patah hati."
       " Ehm, umi masih kesal padaku."
       " Ya iyalah, maaf sih gampang tapi menghilangkan rasa kesal yang sulit."
       Caesar hanya diam saja mendengar jawaban Umi. Dia tak berani mendebat kalau umi sudah bicara seperti itu. Heum marahan dengan umi bisa berabe.
       "Marahi saja mi!" Nunna muncul dari dalam rumah. Dia duduk di samping umi.
       "Na, Azam mau ke sini. Tadi dia sms." Ujar Caesar yang langsung ditanggapi dengan muka masam oleh NUnna. Mungkin dia sebal karena semua anggota keluarganya selalu menjodoh-jodohkannya dengan Azam.
      "Kalau umi boleh bicara, umi lebih senang kalau dia yang jadi pacar kamu. Kalian bisa belajar bareng karena sama-sama kelas IPA. Dia juga cukup sopan dan sudah umi kenal."
       "Iya ya mi daripada pacarmu yang sekarang itu. Dia..."
       "Dia apa? pacarmu juga tak lebih baik." Nunna manyun. Umi tersenyum melihat Caesar dan Nunna saling meledek pacar masing-masing.
       "Sudah, jangan bertengkar. Daripada bertengkar mending kamu selesaikan catatan sejarahmu. Kau ini sejak dulu malas sekali mencatat. "
       "Mulai deh umi, Nunna pinjam catatanmu." Caesar buru-buru masuk ke rumah. Dia tahu kalau tetap berada di luar umi akan mengomel lebih panjang.
       "Na, kita masak buat buka." Umi mengajak Nunna masuk ke rumah. Hari itu giliran Nunna dan Atra yang memasak. Atra masih belum pulang, jadi Nunna masak di temani umi. Hari itu mereka memasak cah kangkung dan telur asam manis.
       "Na, coba kamu lihat Caesar. Apa benar dia nulis? Atau dia malah tiduran sambil smsan!"
       Nunna berdiri lalu pergi melihat Caesar. Yang dilihat ternyata sedang tidur memeluk guling.
       "Mi, Caesar malah tidur." UJar Nunna saat kembali masuk dapur.
       "Anak itu." Umi menyimpan kangkung yang sedang disianginya lalu pergi melihat Caesar. "Bangun, bangun, bangun ..."  Umi mengguncang-guncang tubuh Caesar tapi dia masih asyik tidur.
       "Guyur pake air mi!" Seru Ragil dan Omesh yang baru datang.
       "Kalian harus membuat dia bangun. Umi mau ke dapur."
       Umi kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaannya. GirlY dan Atra, pulang lima menit sebelum adzan.
       Malam itu setelah selesai sholat tarawih, umi menemani anak-anaknya mengerjakan PR. Umi mengawasi Caesar dan Omesh yang sedang menyalin catatan sejarah milik Nunna. Umi juga membantu Ragil, Atra dan Nunna mengerjakan PR kimia. Sementara itu GirLy sedang sibuk mengerjakan soal ekonomi. Dia duduk sejauh mungkin dari Omesh dan Caesar. Mereka berdua selalu mengganggunya.
       "Makanya Caesar kalau disuruh mencatat itu dilaksanakan bukannya tidur. Kamu juga mesh, jangan bengong terus. Ingat kalian sudah kelas 3, bukan waktunya untuk main-main lagi. Simpan dulu semua urusan yang kurang penting, lamunan-lamunan tentang sakit hati, dan rasa ngantuk. Ragil, kamu juga harus rajin jangan karena tak punya pacar jadi kehilangan semangat. Atra, jangan terlalu cape nanti jatuh lagi, kan malu kalau diledek anak kecil lagi. Nunna, ingat ya harapan umi. GirLy, jangan menjaga jarak dengan kami. Umi tidak mau kehilangan satupun dari anak-anak Umi. "