Semuanya terasa seperti mimpi. Lima tahun yang lalu dia hanyalah siswa nakal di tempatku melaksanakan praktik mengajar. Sekarang dia adalah orang yang akan menemaniku menghabiskan sisa waktu yang diberikan Tuhan. Benar-benar tak terduga.
“Jadi, semuanya sudah siap?” Suara seraknya kembali menggodaku. Dia memang sangat senang menggodaku. Dia bilang sebentar lagi wajahku akan dipenuhi keriput. Aku terlalu serius dalam menghadapi hidup. “Apalagi yang harus dipersiapkan?” Dia terdengar khawatir. “Undangan, gedung, baju pengantin, hiburan, katering, dan fotografer, sudah ada. Ayolah bu guru, jangan terlalu sempurna. Nilai sembilan saja sudah cukup.” Dia merajuk.
“Aku masih merasa ada yang kurang,” sahutku sambil mendesah pelan. “Semuanya tidak lengkap karena kau tidak ada di sini.”
Dia tertawa bahagia. “Bilang saja kalau bu guru kangen. Apa susahnya bilang begitu daripada mengeluhkan hal yang tidak perlu.” Dia kembali tertawa. “Apa susahnya menunggu satu hari lagi. Aku saja sanggup menunggu selama empat tahun untuk meyakinkanmu.”
“Entah kenapa perasaanku tak enak minggu-minggu ini. Aku tahu ini bukan pertama kalinya kau pergi jauh, tapi ….”
“Sudah kubilang jangan membaca novel lagi. Aku tak akan mengalami kecelakaan seperti Saputro[1]. Aku akan pulang naik kereta meskipun konsekuensinya aku akan menghabiskan waktu lebih lama. Bu guruku yang cantik, jangan khawatir. Aku akan hadir tepat waktu. Saat masih jadi siswa aku memang sering datang terlambat tapi aku tak akan telat untuk datang ke pernikahanku sendiri. Sebaiknya bu guru tidur.”
“Aku belum mengantuk.”
“Baiklah aku akan menyanyikan lagu sampai kau tidur.”
Aku mengatur bantal dan merebahkan kepalaku di atasnya. Aku mendengar dia mulai bernyanyi. Dia memang punya suara yang bagus. Dia berbakat jadi penyanyi tapi dia lebih memilih jadi arsitek. Dia bilang aku selalu berharap menikahi arsitek. Dan dia bersedia jadi apapun untuk mewujudkan mimpiku. Kedengarannya sangat gombal tapi ini nyata. Dia sering berkata kalau Tuhan mengirimnya untuk mewujudkan mimpi-mimpiku.
Masih segar dalam ingatan ketika dia muncul untuk pertama kalinya di sekolah tempatku kini mengajar. Dia datang dengan membawa lukisan wajahku. Dia menanyai semua murid yang ditemuinya di depan gerbang. Dia menunjukkan lukisan itu dan menanyakan apakah benar aku mengajar di sana.
Dia tersenyum senang saat melihatku keluar dari gerbang. Dia segera menghampiri dan mengecup punggung tanganku. Dia memuji kecantikanku dan baju yang aku pakai.
“Persis seperti yang kubayangkan. Bu guru memang akan selalu terlihat cantik dan memesona. Para siswa di sekolah ini pasti banyak yang jatuh hati.”
“Kamu bisa saja. Apa kabar Bagas?”
“Baik, bu guru bagaimana?”
“Aku baik. Jangan memanggilku seperti itu, aku kan hanya guru praktik di sekolahmu.”
“Tetap saja kau bu guruku. Maukah Anda menemani saya makan siang?”
“Makan siang?”
“Iya, dan saya tidak menerima penolakan.”
“Tapi Bagas…” Aku belum selesai bicara. Dia sudah menarikku ke mobilnya. Bagas memaksaku masuk. Dia mengajakku makan siang di rumah makan Sunda yang terletak di depan Situ Cangkuang. Sejak saat itu dia tak berhenti menggangguku.
Setiap akhir pekan dia muncul di sekolah dan mengajakku makan siang. Setiap saat dia meyakinkan aku bahwa Tuhan mengirimnya untuk mewujudkan mimpi-mimpiku. Dia juga meyakinkan aku kalau Tuhan mengirimku untuk menjadi cahaya dalam hidupnya. Dia sangat berterima kasih untuk semua perhatian dan kesabaranku selama menjadi guru praktik di sekolahnya. Dia bilang pendapatku benar bahwa dia telah menyia-nyiakan hidupnya dengan menjadi siswa nakal.
Sejak aku pergi dia mulai berubah. Dia lebih rajin belajar hingga akhirnya lulus dan bisa kuliah di jurusan arsitektur. Seorang dosen menawarinya pekerjaan dan sekarang dia adalah arsitek muda yang sukses. Dia memintaku untuk menjadi istrinya enam bulan setelah kami bertemu lagi. Dia bilang dia tak memerlukan waktu yang lebih lama untuk meyakinkan diri bahwa akulah satu-satunya wanita yang diinginkannya untuk jadi seorang istri.
Aku tidak langsung menjawabnya. Aku benar-benar tak menyangka kalau ia akan jatuh cinta padaku. Usiaku memang sudah cukup untuk menikah tapi aku tak pernah berniat untuk menikah dengan pria yang pernah jadi siswaku. Namun dia tetap teguh dengan keinginannya. Dia bahkan datang ke rumah untuk berbicara dan meyakinkan orang tuaku.
“Adis, bangun.” Seseorang mengguncang-guncang tubuhku. Aku membuka mata dan menatap ibu yang berdiri di hadapanku. “Bangunlah!” Ibu menggandengku bangun lalu memintaku pergi ke kamar mandi. Ibu menyuruhku untuk mengganti pakaian. Setelah selesai dia mengajakku keluar kamar lalu menggandengku masuk ke dalam mobil. Semua orang menatapku sedih.
Aku ingin tahu kenapa tapi ibu hanya diam, begitupun ayah. Mereka membawaku ke Rumah Sakit Pusat di Bandung. Tanpa banyak bicara mereka menggiringku ke sebuah ruang perawatan. Di depan pintu semua keluarga Bagas berkumpul. Mereka menatapku sedih dan bergantian memelukku.
“Ada apa ini? Mana Bagas?” Aku memandang ibu Bagas heran.
“Bagas mengalami kecelakaan. Keadaannya sangat kritis. Dia ingin bertemu denganmu.” Ayah Bagas mengantarku ke dalam.
“Aku kira keretanya baru akan tiba pagi ini?” Aku menatap Ayah Bagas bingung.
“Kami juga mengira begitu. Tapi dia naik kereta lebih awal karena ingin segera bertemu denganmu. Dia menyuruh sopir kami pulang dan memaksa menyetir sendirian menuju rumahmu. Mobilnya tergelincir dan dia menabrak pembatas jalan.”
“Kapan kejadiannya?”
“Polisi bilang sekitar pukul tiga pagi.”
Oh Tuhan, berarti semalam dia menelponku sambil menyetir mobil. Dia ingin memberikan kejutan dengan muncul di rumahku satu hari sebelum pernikahan kami. Dia bilang tak ingin terlambat datang.
“Dasar nakal.” Aku mendekati ranjang lalu menggenggam tangannya. Dia berbisik agar aku mendekatkan telingaku.
“Bagas mencintai bu guru selamanya.” Bisiknya lirih dan sangat menyayat hati.
Setelah itu terdengar bunyi panjang dari alat pendeteksi denyut jantung. Ayah Bagas segera memanggil dokter. Dokter muncul bersama suster. Mereka memeriksa keadaan Bagas dan mencoba mengembalikan denyut jantungnya. Namun jantung Bagas tak pernah kembali berdenyut. Jantung Bagas berhenti berdetak untuk selamanya.
Bagas pergi dan tak akan pernah kembali. Dia pergi untuk selamanya. Bagas bukan saja akan terlambat datang ke pernikahan tapi dia tak akan datang. Dia tak akan datang karena Tuhan sudah memanggil Bagas ke sisi-Nya. Tuhan telah membebaskan Bagas dari tugasnya untuk mewujudkan mimpi-mimpiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar