Holla Fiola

Holla Fiola Balarea

Selasa, 11 September 2012

Surat Cinta


Yang Pertama
Harus kumulai dari mana? Aku sendiri lupa tepatnya kapan. Yang jelas aku sudah mengenalmu sejak masa SMP. Memang saat itu aku hanya tahu namamu saja. Masuk ke SMA cerita tentangmu mulai kudengar. Bahkan bukan hanya itu aku dapat berjumpa denganmu setiap hari kecuali hari minggu. 
Selama tahun pertama kita berada dalam satu kelas, aku hanya menganggapmu sebagai teman. Tidak pernah lebih dari itu. Mungkin karena saat itu aku sedang dekat dengan kakak kelas. Kamu juga pasti tahu jatuh bangunnya aku saat itu. 
Menginjak ke kelas dua barulah ada perasaan berbeda saat melihatmu. Aku lupa kenapa bisa begitu. Yang jelas saat itu aku sedih kalau kau marah-marah dan bersikap tidak ramah. Jujur saja kamu memang bukan yang terganteng di kelas tapi bukan itu yang membuatku suka. Aku lebih tertarik dengan kepribadianmu, juga pada kepiawaianmu di bidang olahraga.
Sejak dulu aku memang lebih sering tertarik pada orang yang berkepribadian menarik dan  piawai di bidang olahraga. Kurasa wajar saja, mnegingat aku paling senang mengamati karakter orang dan tidak piawai dalam bidang olahraga. Dari semua cabang olahraga, hanya olahraga renang yang membuatku merasa kembali memiliki harga diri. Semua orang lebih sering menyepelekan dan under estimate saat aku mengikuti pelajaran olahraga.
Punya badan yang gendut membuat orang senang menertawaimu kalau kau mencoba untuk andil dalam kegiatan olahraga. Semua kegiatan olahraga yang kau lakukan pasti dihubungkan dengan kata "ingin langsing". Sudah jadi kebiasaan manusia untuk mengolok-olok manusia lain yang berbeda dengannya. Benar-benar pembunuhan semangat. Dan sayangku kaupun sesekali suka mengomentari kemalasanku untuk berolahraga.
Haha, sayangku. Aku sendiri akan mengamuk kalau kau memanggilku begitu. Namun, aku malah asyik memanggilmu begitu. Mari kita kembali lagi ke awal sayangku. Pada pembicaraan mengenai aku, hatiku dan kita. 
Rasa-rasanya aku tahu sekarang, kenapa aku bisa suka pada teman sekelasku waktu kelas 3 SMA. Jawabannya adalah karena secara fisik dia mengingatkan aku padamu. Mungkin dia lebih ganteng (itu katamu lho) tapi sikapnya jauh lebih menyebalkan. Seandainya dia tidak sering mengomentari tingkah lakuku dan teman-teman tidak sering menggoda kami, mungkin tak akan muncul perasaan suka padanya. 
Heum, masih jelas dalam ingatan bagaimana sakitnya hati saat melihat kau punya pacar. Melihat kalian berdua itu terasa menyakitkan. Padahal bukan salahmu kalau kau punya pacar. Aku saja tak pernah mengungkapkan perasaanku padamu. Bagaimana bisa kamu tahu perasaanku. Rasa sakit itu lama-lama membuatku melupakan perasaanku.
Pria lain muncul dan membuatku berpaling darimu. Serangkaian kisah memendam cinta, jadian dan putus cinta silih berganti dan berusaha menghapus jejakmu dihatiku. Hingga akhirnya dengan tidakterduga kecanggihan teknologi membuat kita berjumpa lagi. Berawal dari sms yang timbul tenggelam sampai akhirnya pada acara telpon-telponan yang membangkitkan kenangan masa lalu.
Awalnya memang terprovokasi pendapat orang-orang yang peduli dengan kesendirianku. Namun lama kelamaan cinta SMA itu muncul kembali bahkan jauh lebih nyata. 
Sayangku, aku akui terkadang muncul godaan untuk dekat dengan pria lain selama kau jauh. Namun aku kembali ingat pada kata-kata yang kukatakan padamu, 
"Aku tidak cari pacar tapi aku cari calon suami, calon ayah buat anak-anakku. Aku sudah bukan gadis remaja lagi yang dengan mudahnya menjungkirbalikkan hati dengan pria-pria yang kutemui. Aku sudah terlalu lelah untuk terus belajar memahami pria yang silih berganti. Aku ingin memahami satu pria saja sekarang."
Sayangku, sebenarnya kekhawatiran-kekhawatiran yang sering kau ungkapkan adalah kekhawatiranku juga. Membina sebuah keluarga bukan hal yang mudah. Penuh rintangan dan cobaan. Namun ingatlah kita menjalaninya bersama-sama. Bukan hanya kau atau aku saja. Bukan juga tentang tetangga atau saudara-saudara yang selalu jadi kritikus kehidupan yang kelak akan kita jalani. 
Semuanya kembali pada kita. 
Aku mungkin terlalu banyak membaca novel dan menonton film romantis, tapi aku masih realistis. Masalah ekonomi adalah masalah paling menggelora bagi yang membina rumah tangga. Namun sebagai umat beragama kita tidak boleh menyerah dan putus asa. Selama kita mau berusaha dan berdo'a Sang Pencipta pasti memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya. 
Sayangku, awalnya aku agak risau saat harus bercerita pada orang tuaku tentang dirimu. Ternyata di luar dugaan  mereka begitu welcome. Maka dari itu sayangku, aku ingin mereka lebih mengenalmu supaya mereka menyayangimu dan semakin yakin untuk melepasku bersanding denganmu.
Sayangku, kangen adalah kesibukanku selain mengajar. Setelah bertemu rasa kangennya bukan berkurang tapi malah bertambah.  Rasa-rasanya terdengar gombal ya, tapi itulah yang terjadi.
Jadi sayangku bertahanlah sampai perjuangan kita membuahkan hasil. Aku akan menunggu sampai hari itu tiba. hari di mana perasaan ini menjadi sesuatu yang halal di mata dunia dan di hadapan Sang Pencipta.
"Saranghae Mang Toyib, dulu, sekarang dan selamanya." 

Leles, 8 Juni 2012

Yang Kedua
Luka itu tertoreh lagi, sayang. Tidak bertambah lebar hanya semakin dalam. Inilah dampak negatif dari memiliki ingatan yang kuat. Sekali luka tergores akan bertahan jauh lebih lama bahkan lebih menyayat saat luka baru muncul di atas luka itu.
Ketika kau diam mereka beranggapan kau mengakui semua perkataan mereka. Sebaliknya ketika kau bersuara mereka beranggapan kau tidak sopan. Sampai kapanpun tidak akan menang. Perisai yang mereka persiapkan selalu dinaungi makhluk bernama "etika".
Kesetaraan antara hak dan kewajiban itu hanya bergaung indah dalam teori. Kemanusiaan itu terbelit rasa aman dan kepentingan. Keadilan pun lebih sering dimaknai beragam. Inilah dunia manusia, sayang.
Pride and Prejudice, kebanggaan dan prasangka, begitu judul novel Jane Austen. Rasa bangga kadang dikompori prasangka yang berbahaya. Prasangka sendiri kadang dibayang-bayangi rasa bangga.
Kau pun tidak jarang bertingkah seperti itu sayangku. Berkali-kali kau mengatakan, "aku tidak suka kalau kau berprasangka?" Padahal sayangku, selama ini kau sendiri terlalu berprasangka padaku. Kau menduga aku hanyalah gadis manja-si anak manis ayah- yang hidup tanpa derita. Yah, begitulah kira-kira yang tampak dari luar.
Luka itu terlalu banyak hingga tanpa terasa mengendap dalam hati. Luka itu terkondensasi dalam urat nadi.  Luka itu ditorehkan dengan judul mengasihi. Luka itu terbumbui status diri.
Sayangku, bukan hanya kau yang tumbuh disirami lara hati. Hidupku sendiri sarat dengan emosi.
Kita tidak pernah memilih dilahirkan atau dibesarkan siapa. Namun orang-orang-yang katanya mengenal dan menyayangi kita-sering kali mengklasifikasikan kita. Mereka entah sengaja atau tidak membentuk karakter kita menjadi pribadi yang penuh torehan luka yang sekilas tak terbaca tapi benar-benar nyata.

Leles, 21 Juni 2012

Yang Ketiga

Aku tidak tahu apa kau pernah membacanya atau tidak, Sayangku.
"Tidak ada orang yang akan dapat mengerti orang lain dengan benar." Kata-kata itu sering aku dengar saat aku mengeluh tentang "kenapa orang tidak mengerti diriku". Dan dirimu pun sama saja. Maksudku untuk memahamimu malah kau tanggapi dengan ketidaksukaan. Kau bilang aku terobsesi dengan kebiasaanku untuk menebak-nebak keadaan seseorang. Asal tahu saja ini namanya "feeling".
Sayangku, aku akui feeling ini tidak selalu tepat. Namun semakin diasah feeling ini bisa semakin kuat.
Semua orang bicara dan semua orang mengeluh, aku dengan sabar mendengarkan. Lalu saat aku mengeluh dan berbicara, hanya nasihat menjatuhkan semangat atau berpura-pura pedul yang kuterima.
Kali ini pun kau akan bicara, "aku terlalu berprasangka". Sayangku, aku cukup mampu untuk membedakan sikap tulus atau pura-pura. Aku bukan gadis kecil lagi yang dapat berhenti menangis hanya dengan diberi sebuah balon atau es krim.
Cukup rasanya aku mendengar pertengkaran dengan mengatasnamakan kedewasaan, perintah berbumbu kasih sayang, sindiran penyejuk kalbu, dan umpatan penuh manja. Semua itu terlalu lama mengendap dalam urat nadiku. Terlalu lengket untuk dilepaskan. Perlu berkali-kali destilasi untuk memisahkannya.
Sayangku, kau pernah berkata "aku ikut apa pun yang kau inginkan". Wow, terdengar begitu menggoda. Namun tidak bagiku. Kata-kata itu justru membuatku berpikir "hanya aku yang menginginkan ikatan ini". Padahal sesuatu baru disebut ikatan jika ada dua pihak yang berinteraksi.
Sayangku, sekali lagi aku tegaskan akan ada "kita" kalau kau juga ikut serta. Aku ingin hatimu yang menginginkannya. Bukan karena aku yang mendorongmu untuk melakukannya.
Jadi sayangku, jika hatimu berada di frekuensi yang sama dengan hatiku, jangan pernah membuatku merasa dan berpikir "kau ingin aku melepaskanmu"...
Leles, 10 Juli 2012

Yang Keempat

Sayangku, gelombang elektromagnetik sedang tidak bersahabat dengan kita saat ini...
Apa kau ingat saat belajar di sekolah dasar dulu, guru sering menggunakan teknik dikte untuk membantu kita menulis materi pelajaran?
Saat itu kita memang masih polos dan memang sangat memerlukan teknik tersebut. Namun saat ini, saat usia kita merambat naik, teknik tersebut berdampak kurang menyenangkan. Sisi egois kita sebagai manusia dewasa akan kurang menerima. Perlu teknik lain untuk memberikan informasi agar sisi egois kita sebagai manusia dewasa dapat menerima.
Kata "memberi tahu" saja bisa bermakna "menggurui" kalau kita menggunakan teknik yang kurang tepat. Kita pun kadang seenaknya menggunakan kata "penyeragaman" untuk mengaburkan keinginan kita untuk "pemaksaan pendapat". Kalau sudah seperti itu bagaimana dengan kata "kreatif" dan "inovatif"? Apakah hanya jadi kecakapan artikulasi supaya kita terkesan menerima perubahan dan perbedaan?
Heum manusia itu lucu ya, sayangku. Ada orang yang punya ambisi tinggi untuk mencapai suatu posisi. Dia bahkan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya. Dia tidak peduli lagi dengan hak asasi, seolah-olah melupakan nilai-nilai sosial dan nilai-nilai yang diajarkan agama, hingga tak jarang berusaha menjatuhkan orang yang dianggap lebih mampu darinya. Namun sayangku tahukah kamu? Ketika kita berusaha menjatuhkan orang lain justru kita sendiri yang sedang jatuh.
Sayangku, aku tidak tahu sampai kapan dapat bersabar. Setiap saat mereka selalu menggelitik dan menipiskan kesabaranku. Mereka pun lebih sering menyulut amarah yang berusaha kuredam. Dan ketika amarah serta kesabaran ini habis, mereka justru makin mengolok-ngoloknya dengan kata-kata bijaksana yang menggergaji kerendahan hati.
Sayangku, aku tahu aku banyak mengeluh. Aku tahu kau pun mungkin bosan dan terkadang bingung harus berbuat apa. Tidak perlu risau. Cukup dengarkan aku saat aku mengeluh. Kau pun boleh memberikan komentar untuk menyatakan eksistensimu saat aku mengeluh. Pinjamkan punggungmu saat airmataku mulai tumpah, kau pun boleh menyediakan tisu atau saputanganmu.
Heum, saat ini aku benar-benar merindukanmu. Mudah-mudahan saja gelombang elektromagnetik kembali bersahabat dengan kita hingga rindu ini bisa sedikit terobati.
Jinja bogoshipda urri oppa,,,
Leles, 12 Juli 2012

Yang Kelima

Sayangku, saran-saran ajaibmu saat ini tidak diterima emosiku. Terlalu banyak kejutan yang menjungkirbalikkan emosi. Terlalu banyak rasa tidak menyenangkan yang melingkupi hari-hariku.
       Sekerat gendok, sebongkah kesal, setumpuk rindu dan limpahan sayang menjadi menu yang menyehatkan untuk bulan ini. Pekerjaanku memang tidak banyak menggunakan kekuatan fisik tapi teramat sangat menguras emosi.
       Kesejahteraan macam apa yang hendak ditawarkan jika yang terjadi justru ketidaksejahteraan. Dengan sangat sopan meminta untuk meluangkan lebih banyak waktu dan tenaga untuk pekerjaan dengan iming-iming kesejahteraan. Mau tidak mau harus memenuhi beban kerja yang dicanangkan. Ditambah lagi serentetan efek maha dahsyat yang lebih keren dari special effect film hollywood. Belum lagi rasa-rasa negatif yang berkembang karena "yang belum" dan yang "sudah".
       Uh, rumitnya masalah kesejahteraan ini, lebih rumit dari soal kalkulus. Hak dan Kewajiban bersahutan meminta untuk ditunaikan.
       Heum, aku memang seperti petasan kalau sudah mengeluh. Maka dari itu sayangku biarkan aku meledak dulu baru kau bicara. Kalau dari awal sudah dikomentari mana bisa meledak petasannya.
       Hadeuh esmoninya lebih banyak yang rasa asem nih. Ngomong sedikit aja bisa buat naik darah. Meski begitu tidak mengikis rasa yang ada dalam dada. Justru rasanya makin beraneka dan jauh lebih kuat. Lebih segar dan lebih nikmat dari es buah mati rasa atau mie ayam tanpa kisal.
       Jadi honey bunny tweety, wherever you're whenever you go, i'll be right here waiting for u...


                                                              Leles, 27 Juli 2012

Yang Keenam

Tak terasa sudah enam surat yang kutulis. Aku tidak tahu apakah kau pernah membacanya atau tidak.
Sayangku, beberapa minggu terakhir ini merupakan masa-masa paling berat dalam hidupku. Setelah tujuh tahun berlalu aku kembali bertanya mengenai alur yang telah kupilih. Sebenarnya bukan penyesalan yang kugaungkan. Namun betapa mudahnya menerbitkan dan menenggelamkan harapan seseorang.
Pernahkah kau mengalami, saat di mana kau tidak bermimpi tapi "sistem yang berputar di sekeliling" memaksa untuk bermimpi, tapi saat mimpi itu memberimu jalan untuk meraihnya, "sistem yang berputar di sekeliling" justru merasa bimbang untuk memberi jalan. Betapa sakitnya hati, itulah yang kurasakan.  "sistem yang berputar di sekeliling" dengan penuh kearifan menginjak-injak harga diri.
Ya sayangku, aku tahu hidup kita adalah atas kehendak Sang Pemilik Hidup. Aku hanya bisa pasrah dengan semua yang sudah ditulisNya untukku. Namun rasa ini tidak akan hilang begitu saja. Apakah disebut bertanggung jawab bila kau menerbitkan harapan dan di kemudian hari justru ingin menenggelamkan harapan itu?
Hal itulah yang mengoyak-ngoyak ketenangan jiwa.Sama halnya saat kau berkata, "jika ada yang datang padamu saat aku belum siap, maka aku rela kau bersamanya". Ya, aku mengerti sekaligus sakit hati. Asal kau tahu, aku tidak akan memaksa siapapun untuk bisa bersamaku.
Hidupku tidak semudah dan seindah yang dipikirkan orang. Terlalu banyak hal menyakitkan dalam hidup. Terlalu banyak kearifan yang pada akhirnya menggerus rasa amanku. Aku terlalu lelah tuk berharap, terlalu penat tuk bermimpi, jadi akan kuikuti saja alurnya. Aku percaya hidup manusia Tuhan yang mengatur, bukan aku, kamu ataupun  "sistem yang berputar di sekeliling" .
Semoga Tuhan menuliskan kita dalam buku cerita yang sama, menjadikan aku dan kamu dalam "kekitaan" yang dinaungi rahmat dan kasih-Nya.

Leles, 4 Agustus 2012

Yang Ketujuh

"Sakit ya? sakit jiwa?" katamu sambil tertawa senang.
Enak saja kau mengataiku sakit jiwa. Uuuuh awas kau kalau pulang nanti. Tapi tunggu sebentar! Rasa-rasanya perkataanmu memang benar sayangku. Aku sakit jiwa, bahkan sudah pada tahap kronis.
Bayangkan saja, kau baru saja melangkah keluar dari teras, aku sudah hampir menangis karena sedih. Kau bilang pergi ke RS, pikiranku sudah melantur ke mana-mana. Kau tidak mengajakku bertemu teman-teman, wuih kesalnya segunung.
Padahal seharusnya dan biasanya tidak begitu. Kemarin-kemarin aku pasti akan bersikap sama menyebalkannya dengan sikapmu.
Seandainya saja sekolah belum di mulai, sakitku pasti tambah parah. Setiap menit hanya ingat padamu dan sesekali meneteskan air mata. Fiuh sayang sekali air mataku, terus terkuras. Masih mending putri duyung, air matanya jadi mutiara. Lha aku, yang ada mataku makin sipit. Dan kau pasti akan dengan senang hati menceramahiku sambil tertawa senang.
Wah, wah,wah, gawat ini. Setiap tempat yang pernah kita lewati malah mengingatkan aku padamu. Rasa-rasanya kau ada di sana berdiri memandangku. Aduh benar-benar sudah kronis, ini. Wangi minyak rambut saja langsung membuatku ingat padamu.
Benar-benar gawat. Aku paling malas kalau harus mengalah pada pria. Sisi kewanitaanku bisa terluka kalau harus sering-sering mengalah pada pria. Namun ajaibnya, padamu aku sering berusaha untuk mengalah. Bukan hanya itu, ibuku saja sudah menyerah untuk mengingatkan aku mengenai "makan teratur" tapi adanya dirimu, kata-kata jutekmu (kalau aku tidak menurut) dengan sendirinya menggiringku untuk makan.
Heum benar-benar sudah stadium lanjut, sakitnya. Sudah pada tahap tidak ingin menggantikanmu dengan orang lain.
Maka dari itu, aku bersyukur pada Tuhan karena telah mengirimmu untuk memasuki kehidupanku.
Thank you for loving me. Kamu membuatku merasakan kembali kangen, cemburu, menunggu yang sangat mengasyikan, dan takut kehilangan. Hadirmu membuatku lebih mampu untuk berpikir objektif, lebih tegar dan lebih memaknai hidup.
Semoga Tuhan menuliskan kita dalam satu kisah yang sama. Mewujudkan keakuan dan kekamuan dalam kekitaan.

Leles, 31 Agustus 2012

Yang Kedelapan

"Tuhan, hamba tidak ingin goyah lagi, tapi dia sering membuat hamba kembali mempertanyakan semuanya."
Aku punya ketakutan dan rasa maluku sendiri. Hanya saja aku berusaha tidak mengungkapnya dengan alasan yang kurasa cukup baik untuk dilaksanakan.
Aku belajar dari kisah-kisah yang lalu dan berusaha mengikis keegoisanku. Namun aku manusia, aku punya batas kesabaran. Aku bukan anak kecil yang harus selalu marah agar keinginannya dituruti.
Aku tidak tahu sampai mana kesabaran ini bisa ku kelola. Aku takut kelak hatiku kembali beku. Keegoisanku kembali meraja dan sisi Feminimku membentuk perisai.
Seandainya hanya memikirkan diri sendiri, mungkin aku akan tetap sendirian. Aku akan semakin bersikap antipati terhadap kata "untuk kekitaan" dan "kebersamaan". Benteng keegoisanku akan semakin tinggi dan tidak mudah dijangkau.
Namun aku bukan hanya aku, aku adalah anak orang tuaku, kakak dari adik2ku, ibu dari anak-anak asuhku, cucu dari kakek nenekku. Dengan posisi yang aku bukan hanya aku inilah aku belajar untuk lebih memaknai hidup.
Aku akui, aku juga memiliki sifat-sifat yang sangat susah dihilangkan. Namun aku berusaha mengikisnya. Kumaknai semua kata, semua cerita yang akan membuatku semakin dewasa. Kumaklumi semua yang harus mengerti. Kutelaah semua rasa dan emosi jiwa.
Bisakah sekali saja kau menempatkan diri diposisiku? Bisakah sejenak saja kau mencoba memahamiku? Bukan hanya kau yang merasa takut? Bukan hanya kau yang punya rasa malu?
Ingatlah ini tentang kita, bukan tentang aku atau kamu.

Leles, 2 September 2012








Tidak ada komentar:

Posting Komentar