Holla Fiola

Holla Fiola Balarea

Selasa, 11 September 2012

Sunrise untuk Aya


Aku tahu sekalipun Aya berkata dia merasa cukup dengan memiliki seorang ibu saja, sebenarnya dia merindukan kehadiran seorang ayah. Dia perlu sosok yang bisa dijadikan sebagai pelindung. Ada satu ruang yang tak bisa kupenuhi. Alasan itulah yang membuatku setuju untuk kembali pada Zaki.
Aya memang tak pernah meminta banyak. Dia tahu keadaan kami. Namun aku ingin dia bisa mendapatkan pendidikan yang bagus. Aku tak ingin menghambat kecerdasannya. Aku ingin bisa menyekolahkannya sampai perguruan tinggi.
Kasih sayangku yang begitu besar padanya membuatku rela menggadaikan kebahagianku untuk kenyamanan hidupnya. Aku mungkin akan menyesal karena melepas orang yang kucintai. Namun cintaku pada Aya jauh lebih besar.
“Pulang honeymoon aku dapat adik ya?” seru Aya saat Zaki dan aku akan pergi bulan madu.
“Kamu harus meyakinkan mom untuk mewujudkannya.” Zaki menudingku dengan ekor matanya.
Aku hanya menanggapinya dengan senyuman.
“Kamu jangan merepotkan oma dan opa ya?” Aku memeluk Aya kemudian berbisik, “kau tahu sendiri Papa menyita handphone mom.”
Airmataku tak berhenti mengalir meskipun mobil yang dikendarai Zaki sudah melaju jauh dari rumah. Ini akan jadi perpisahan terlama dengan Aya. Kami tak pernah berpisah selama 13 tahun. Dan sekarang Zaki akan membawaku ke suatu tempat selama satu minggu.
Zaki tidak menyebutkan tempatnya dengan jelas. Dia seolah-olah sengaja ingin memilikiku selama satu minggu. Dia melarangku membawa novel dan notebook. Dia bahkan menyita handphoneku. Dia takut aku akan menghubungi Zidan dan memintanya menyelamatkanku.
Kami sampai di tempat honeymoon menjelang magrib. Selesai menunaikan kewajiban sebagai umat beragama Zaki mengajakku makan malam. Dia menyiapkan makan malam istimewa di halaman depan villa yang kami tempati. Selesai makan dia mengajakku berjalan-jalan di pantai, menikmati cahaya bulan yang agak redup.
“Aku akan melakukan semua hal yang seharusnya sejak dulu kulakukan.” Zaki menggenggam tanganku lalu membawaku duduk di pasir.
Kata-kata Zaki seolah jadi mantra yang mengembalikan ingatanku pada peristiwa 14 tahun yang lalu.

Hari itu aku baru saja pulang KKN. Ibu memintaku segera berdandan. Aku sendiri bingung tapi ibu menyeretku ke kamar kemudian memaksaku memakai kebaya. Rupanya hari itu keluarga Zaki datang melamar.
Sebelumnya ibu memang sudah bercerita bahwa  aku ayah sudah mencarikan calon untukku. Ayah akan menjodohkan aku dengan anak sepupu jauhnya. Sebenarnya dulu ayah dijodohkan dengan ibu Zaki tapi ayah malah memilih ibu. Hal itulah yang membuat nenek mengucilkan keluarga kami.
Makanya saat nenek mengatakan ingin menjodohkan aku dengan Zaki, ibu langsung setuju. Dia ingin memenangkan hati nenek. Sebenarnya aku ingin menolak tapi kata-kata ayah menahanku.
“Selama ini ibumu merasa tidak nyaman. Dia tidak pernah menjadi menantu seutuhnya. Kalau kali ini kita mengecewakan nenek maka ibumu akan semakin tertekan.”
Bagai kerbau dicocok hidungnya, aku pun menuruti permintaan ayah dan ibu. Tanpa banyak bicara aku mengkuti semua hal yang diminta mereka. Aku bahkan hampir tidak berpikir lagi.
Ternyata Zaki pun merasa terpaksa memenuhi permintaan neneknya. Zaki lebih sering menghabiskan waktu dengan laptopnya daripada bicara denganku. Hingga aku mengandung Aya pun sikapnya tak banyak berubah. 
"Dokter bilang bulan depan bayi kita lahir. Masa kau masih mau pergi melanjutkan S3 ke Swedia?"
"Kesempatan ini tak akan datang dua kali."
"Begitu pun dengan bayi ini." Aku menghempaskan pakaian Zaki yang sedang kulipat lalu pergi ke dapur.
"Juni!" Zaki menyusulku ke dapur.
"Terserah kau saja. Kalau pergi sekarang, jangan harap kau bisa melihat kami lagi."
"Juni mana bisa begitu."
"Kau sendiri yang bilang bulan depan baru pergi."
"Iya, tapi sekarang aku harus mengantar putri bos yang akan kuliah di sana."
Aku tidak menghiraukannya. Aku kembali ke kamar lalu mengemasi barang-barangku. Aku menelpon adikku untuk menjemput.
Hari itu adalah hari terakhirku melihat Zaki. Setelah tiba di Swedia Zaki malah menghamili putri bosnya. Gadis itu memaksa Zaki menikahinya.
Kejadian ini hampir membuatku kehilangan Aya. Aya harus lahir satu minggu lebih cepat karena aku mengalami pendarahan. Dia bahkan harus masuk ruang perawatan khusus.
Setelah kondisiku pulih dan Aya dinyatakan sehat. Aku meninggalkan rumah. Aku memutuskan semua komunikasi dengan keluargaku. Aku tak ingin terus menerus dikasihani oleh mereka. Aku ingin mengobati luka hatiku.

"Kau begitu asyik dengan lamunanmu." Zaki menarik tubuhku mendekat. Dengan gerak refleks aku menjauh, menghindari dekapannya. "Kau masih merindukan dia?" Zaki menuduhku. Tatapan matanya penuh kekecewaan. "Juni aku suamimu. Akulah yang seharusnya ada dalam benakmu sekarang."
"Aku tahu. Maaf aku hanya masih belum terbiasa."
"Ini bulan madu kita tapi kau seolah sedang menikmati masa berkabung. Aku tahu aku yang meninggalkanmu. Tapi Juni aku sudah menyesali semuanya selama 13 tahun ini."  Zaki menatapku penuh rasa getir dan sesal. "Aku tahu Zidan sangat berarti bagimu. Tapi percayalah cintaku tak kalah besar bila dibandingkan dengan cintanya. Kesalahanku hanya satu, aku tidak mendengarkanmu saat kau bilang jangan pergi."
"Bukan hanya itu, kau juga sudah membuatku kesepian dengan menjadi istrimu." Aku mulai kesal. "Pekerjaanmu jauh lebih berharga dibanding aku. Jangan melibatkan Zidan dalam masalah kita. Seharusnya kau minta maaf padanya, untuk kedua kalinya Zidan harus merelakanku bersanding denganmu."
"Apa?"
"Dulu demi memenuhi permintaan orang tua, aku terpaksa memutuskannya padahal saat itu kami sudah berencana untuk menikah. Dan sekarang demi Aya, aku harus kembali memutuskannya."
"Jadi kau kembali padaku hanya demi Aya?" Zaki tampak tidak menerima ucapanku. Harga dirinya terhempas.
"Iya, demi Aya. Supaya Aya memiliki keluarga lengkap. Supaya Aya dapat menjadi sarjana. Supaya Aya dapat hidup berkecukupan."
"Ternyata begitu. Wanita tak pernah memandangku layak untuk dicintai. Kau menikahiku demi memenuhi permintaan orang tuamu dan Aya, putri bosku memaksaku menikahinya untuk menutupi aib."
Zaki berjalan menjauhiku. Dia mengambil mobil lalu mengendarainya entah ke mana. Sementara itu aku kembali ke kamar hotel lalu merenungkan semuanya. 
Pagi harinya pelayan menelpon ke kamar dan memberitahukan bahwa mertuaku menelpon. Aku segera menelponnya kembali. Ternyata Aya masuk RS karena sakit Asmanya kambuh.
Selesai menelpon aku segera mengemasi pakaian dan mencari kendaraan untuk kembali ke Bandung. Aku langsung menuju RS tempat Aya di rawat. Dokter bilang Aya kecapean tapi kondisinya sudah stabil sekarang. 
Zaki datang menjelang malam. Dia terlihat sangat lelah dan menderita. 
Aya di rawat selama tiga hari. Begitu dokter mengizinkannya pulang, Aya memaksa ingin pergi ke pantai. Ingin melihat matahari terbit bersama Mom dan Pap, katanya.
Setelah berkonsultasi dengan dokter kami pun pergi ke pantai. Aya terlihat sangat bahagia melihat ayah dan ibunya bersama-sama. Malam harinya dia minta tidur ditemani aku dan Zaki.  
Menjelang subuh aku terbangun dan melihat Zaki tak ada di kamar. Aku pun pergi ke ruang duduk untuk mencarinya. Ternyata dia sedang berdo'a pada Yang Maha Kuasa. Dia menyadari kehadiranku lalu mengajakku sholat berjamaah. Aku mengiyakan dan segera bersiap-siap.
"Maafkan aku sudah menyakiti hatimu."
"Aku juga minta maaf. Mari kita buka lembaran baru, demi Aya dan demi hati kita."
"Demi Aya dan demi hati kita." Zaki menggenggam erat tanganku. 
Aku mendekat lalu merebahkan kepalaku di dada dan memeluknya. Lama kami terdiam dan membiarkan getaran-getaran hati kami yang bicara.
"Katanya mau lihat sunrise?" Aya berjalan mendekati kami.
Zaki tersenyum lalu merengkuhnya ke pangkuan.
"Bidadari kecilku, segera setelah kau sholat kita lihat Sunrise." Ujar Zaki sambil mengecup puncak kepala Aya.
"I Love U mom and Pap." sahutnya sambil memeluk kami berdua.
Leles, 18 Mei 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar