Holla Fiola

Holla Fiola Balarea

Selasa, 11 September 2012

Bakmi Rica-Rica, Jus Stroberi dan Sebuah Jaket


Kalau saja lambungku tidak berteriak minta jatah, aku tak akan duduk dan makan sendirian di sini. Ada rasa nyaman yang tiba-tiba saja merasuk saat aku duduk sendirian di tengah restoran. Aku lebih memilih kelaparan daripada harus duduk sendirian.
Namun hari itu dengan berat hati aku masuk ke restoran di sebelah kanan Gramedia. Restoran ini terkenal dengan baksonya. Begitu masuk aku langsung duduk di kursi yang dekat dengan jendela. Itu satu-satunya kursi kosong yang tersedia.
Sementara menunggu makanan dihidangkan, iseng-iseng aku membuka novel yang baru kubeli.
“Tenggelam dalam karya Jane Austen!” tegur seseorang,
Aku mengangkat wajah dari novel lalu mencari si pemilik suara.
"Ini satu-satunya kursi yang kosong.” Ujarnya sambil tersenyum. “Selesai makan saya akan langsung pergi.” Lanjutnya saat melihatku ketakutan.
“Jus Stroberi dan Bakmi Rica-Rica.” Seru pelayan sambil menghidangkan makanan di meja. “Selamat menikmati.” Lanjutnya sambil berlalu pergi.
“Panas panas begini memang enak yang pedas dan asam.” Ujar si pria sambil menyeruput jus stroberinya.  
Aku mengangguk lalu mulai makan.
“Anda pulang kerja?”
“Iya, Anda sendiri”
“Sebenarnya saya masih dalam jam kerja. Saya janji bertemu dengan seseorang tapi dia tidak datang.”
Sepertinya dia mau kencan buta. Heum kami senasib. Janji bertemu dengan seseorang tapi yang ditunggu tidak datang.
“Penggemar jane Austen?”
“Begitulah.”
Setelah mendengar jawabanku mengalirlah cerita mengenai Jane Austen dan beralih ke kehidupan sehari-hari. Saking asyiknya bercerita tentang pekerjaannya sebagai ahli komputer dia sampai menumpahkan jus stroberinya. Tetesannya mengenai bajuku.
“Maaf!”
“Tidak apa-apa.”
“Pakai saja jaket saya.”
Dia terus-terusan memaksa hingga aku terpaksa menurut.
“Tulislah nomor Anda di sini. Nanti saya akan menghubungi Anda untuk mengambil jaket.” Pria itu memintaku menulis di struk pembayaran.
“Saya harus kembali bekerja! Pria itu berdiri kemudian memasukan struk pembayaran ke saku mejanya. Senang bertemu dengan Anda.” Ujarnya sebelum pergi
Aku menjawabnya dengan senyuman kemudian merapikan belanjaanku. Dari jendela kulihat dia melambaikan tangansambil tersenyum kemudian menjalankan motor besarnya.
       Satu minggu berlalu dan “si pemilik jaket” masih belum menghubungiku. Aku tak banyak ambil pusing. Ku cuci jaket itu lalu kumasukan ke dalam kotak dan kusimpan dalam lemari pakaian. Aku punya banyak pekerjaan selain menunggu telpon darinya.
“Masih ingat dengan janjimu pada ibu?” Kak Terry memandangku yang sedang asyik membaca buku cerita bersama Terry.
“Tentang dijodohkan kalau sampai usia 27 aku masih belum menikah?”
“Untunglah kalau kau masih ingat. Ayah dan ibu sudah menitipkanmu padaku. Jadi sebagai walimu aku akan menunaikan janjiku pada mereka.”
“Aku menurut saja.”
       Sebelum ibu meninggal aku pernah berjanji, kalau sampai usia 27 aku masih sendiri maka aku rela dijodohkan dengan lelaki yang dipilih kakakku. Aku tidak ingin mengingkari janjiku. Maka aku akan menurut saja dengan keputusan yang dibuat kakak. Aku mengenal Kak Terry dengan baik. Dia tak mungkin menjerumuskanku dalam kegetiran.
      Seandainya saja “si pemilik jaket” menelpon, mungkin aku masih punya harapan. Meski baru pertama bertemu aku sudah sangat terkesan. Kehadirannya menerbitkan harapan dalam hati. Harapan untuk kembali bisa mencintai seseorang.
      Terus terang aku merasa tidak nyaman dengan kesendirianku. Teman-teman di sekolah terus menggodaku agar kembali pada sang mantan. Mereka juga sering mengoyak ketenangan batin dengan mengungkit status single-ku.

            “Tara, orangnya sudah datang.” Kak Mia-istri kakakku- masuk ke kamar dan mengecek kesiapanku.
            Aku merapikan riasan lalu mengikuti Mbak Mia ke ruang tamu.
            “Lho Bakmi Rica-Rica?”
            “Jus Stroberi?”
Kak Terry menatap kami bergantian, wajahnya terlihat bingung.
Aku pun menceritakan kejadiannya.
  "Jadi dia si pemilik jaket yang telponnya selalu ditunggu?" Kak Mia menggodaku.
  "Kertasnya ikut tercuci jadi nomornya hilang." Dia menyerahkan struk pembayaran yang sudah kusam dan keriting.
"Ibu pikir itu kertas apa. Taura sampai marah-marah saat tahu kertasnya ikut tercuci."
Ibunya ikut bicara dan dia jadi malu.
"Kita mulai lagi dari awal saja ya, nama saya Taufik Rahman."
  "Tara Rosalia." sahutku sambil menerima uluran tangannya.
"Aku sudah tahu," sahut Taufik sambil tersenyum jail. "Aku salah satu penggemar tulisan-tulisanmu."
"O ya?" aku sama sekali tak menyangka.
"T.R. Kom nama akun facebookku."
"Owh iya, nama itu selalu ngasih koment ke tulisanku."
"Jadi mau dilanjut atau gimana nih?" Kak Terry memandang kami bergantian.
"Tentu saja lanjut. Kalau bisa secepatnya menentukan hari baik." Ibu Taufik ikut bicara.
Aku jadi malu. Aku hanya diam saja saat acara lamaran digelar. Taufik terus-menerus menatapku. Dia sampai ditegur oleh ibunya. 
"Eh tunggu, aku ambil dulu jaket!" Seruku saat Taufik dan keluarganya akan pulang.
"Simpan saja, dah Bakmi Rica-Rica."
"Taura, masa kau memanggil tunanganmu begitu!" Ibu Taura menjewernya. 
Aku tertawa senang.
"Tara, Taura ini memang agak jail, kamu harus banyak bersabar."
"Iya bu saya akan berusaha, hati-hati di jalan bu!" sahutku sambil menyalami ibunya Taufik.
"Sampai jumpa!" Taufik mengecup pipiku lalu kabur ke mobil karena ibunya sudah siap-siap menjewer.
Aku tetap berdiri di teras sampai mobil yang membawa keluarga Taufik menghilang dari pandangan. 
Saat menutup pintu mataku tertegun menatap cincin di jari manis. Sejak kecil aku kurang suka memakai cincin tapi sekarang aku sangat menyukainya.
Pepatah bilang kalau jodoh tak akan kemana. Tuhan sudah menakdirkan kami untuk bertemu maka kami pun bertemu dengan cara yang paling indah dan tak terduga.

Leles, 8 Mei 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar